Oleh ,Ahmad Yani Luthan
Demokrasi Indonesia hari ini menghadapi persoalan yang semakin terang: prosedur berjalan, tetapi substansi kian menipis. Pemilu rutin digelar, partisipasi publik terlihat tinggi, namun kualitas politik justru bergerak ke arah sebaliknya. Politik tidak lagi menjadi ruang adu gagasan, melainkan arena transaksi kepentingan yang kian terbuka dan dinormalisasi.
Dalam situasi seperti ini, muncul pertanyaan yang tak bisa dihindari: masih adakah ruang bagi idealisme dalam politik Indonesia?
Baca juga Presiden Prabowo Subianto Resmikan Terowongan Silaturahmi Simbol Kerukunan Antar Umat Beragama
Pertanyaan tersebut menemukan relevansinya ketika kita menyoroti kemunculan figur-figur muda yang mencoba menempuh jalur berbeda. Salah satunya adalah J.M. Saiful, SE., MM, tokoh muda dari Sumatera yang saat ini menjabat sebagai Koordinator Wilayah Aceh–Sumatera pada Ormas Gerakan Rakyat (GR).
Berbeda dari kecenderungan umum politik lokal yang pragmatis, J.M. Saiful justru menempatkan pendidikan politik sebagai fondasi utama gerakannya. Ia tidak sekadar mengorganisir kekuatan sosial, tetapi berupaya membangun kesadaran politik masyarakat—sebuah pendekatan yang kerap dianggap tidak populer di tengah budaya politik instan. Langkah ini menjadi semakin menarik ketika dilihat dari latar belakang akademiknya.
Saat ini, J.M. Saiful tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) pada bidang Pendidikan IPS di Universitas Syiah Kuala, dengan konsentrasi Pendidikan Politik. Pilihan ini menunjukkan bahwa aktivitas politik yang ia jalankan tidak berdiri di ruang hampa, melainkan berakar pada refleksi akademik yang serius.
Di bawah bimbingan Prof. Dr. TM. Jamil, seorang akademisi dan pengamat politik yang dikenal kritis, proses intelektual tersebut tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga kontekstual. Artinya, ada upaya untuk menjembatani antara pemikiran akademik dan realitas sosial-politik yang kompleks.
Namun, di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Sejarah politik Indonesia menunjukkan bahwa tidak sedikit intelektual yang pada akhirnya larut dalam sistem yang mereka kritik. Idealisme kerap kali diuji, bahkan dikompromikan, ketika berhadapan dengan realitas kekuasaan yang penuh tekanan dan kepentingan. Dengan kata lain, tantangan terbesar bagi J.M. Saiful bukanlah membangun gagasan, melainkan mempertahankannya.
Sebagai Koordinator Wilayah Ormas Gerakan Rakyat (GR), ia berada pada posisi strategis yang memungkinkan interaksi langsung dengan dinamika politik lokal. Ia berhadapan dengan realitas masyarakat yang heterogen, tingkat literasi politik yang belum merata, serta praktik politik transaksional yang masih mengakar. Dalam konteks ini, komitmennya untuk mendorong politik berbasis gagasan dan etika menjadi taruhan yang tidak ringan.
Apakah pendekatan pendidikan politik mampu bersaing dengan praktik pragmatis yang menawarkan hasil instan? Apakah masyarakat siap menerima politik sebagai proses pembelajaran, bukan sekadar pertukaran kepentingan?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya relevan bagi J.M. Saiful, tetapi juga bagi masa depan demokrasi Indonesia secara keseluruhan.
Menjelang momentum Indonesia Emas, diskursus publik sering kali terfokus pada aspek ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Namun, satu hal yang tidak kalah penting adalah kualitas kepemimpinan. Tanpa pemimpin yang memiliki integritas, kapasitas berpikir, dan keberanian moral, berbagai capaian pembangunan berisiko kehilangan arah.
Dalam konteks ini, kehadiran figur muda dengan basis akademik seperti J.M. Saiful menjadi penting untuk diperhatikan. Ia merepresentasikan kemungkinan lain dalam politik Indonesia—bahwa masih ada ruang bagi pendekatan yang berbasis pengetahuan, etika, dan partisipasi masyarakat.
Namun, penting untuk diingat bahwa potensi tidak selalu berbanding lurus dengan realisasi. Publik tidak membutuhkan sekadar figur yang menjanjikan, tetapi yang mampu membuktikan konsistensinya dalam praktik.
Di sinilah publik memiliki peran krusial: bukan untuk mengagungkan, melainkan untuk mengawasi dan menguji. Demokrasi yang sehat membutuhkan figur yang kuat, tetapi juga masyarakat yang kritis.
J.M. Saiful, dengan seluruh latar belakang dan posisinya hari ini, berada di persimpangan penting. Ia bisa menjadi bagian dari arus besar politik yang pragmatis, atau memilih tetap berada di jalur idealisme yang penuh tantangan.
Pilihan itu pada akhirnya akan menentukan bukan hanya masa depannya sebagai pemimpin, tetapi juga sejauh mana harapan terhadap lahirnya politik yang lebih berintegritas dapat diwujudkan.
Jika ia mampu bertahan dan konsisten, maka ia bukan sekadar tokoh muda dari Sumatera, melainkan bagian dari generasi yang berpotensi mengubah arah politik Indonesia.
Namun jika tidak, maka cerita lama akan kembali terulang—dan demokrasi kita akan kembali kehilangan satu peluang untuk berbenah.
Redaksi AswinNews.Com
![]()
