Hangatnya Salam yang Mulai Pudar di Momen Halal Bihalal

Oleh: Abah Roy
Redaksi AswinNews.com

Momen Idulfitri selalu identik dengan saling memaafkan, mempererat silaturahmi, dan menghadirkan kembali kehangatan yang mungkin sempat merenggang. Tradisi halal bihalal pun menjadi ruang yang sangat mulia untuk menyatukan hati, melebur ego, dan memperkuat rasa kekeluargaan.

Namun, di tengah suasana yang seharusnya penuh kehangatan itu, ada fenomena kecil yang kerap luput dari perhatian: adab dalam bersalaman yang mulai memudar.

Baca juga Kepala Sekolah MTsN 3 Bojong Sulit Ditemui, Disebut Alami Trauma Di Tengah Isu yang Memanas

Tidak sedikit yang hadir dalam acara halal bihalal, tetapi seakan menunggu untuk disapa lebih dulu.

Ada yang enggan mengulurkan tangan lebih dahulu, ada pula yang sekadar bersalaman tanpa tatapan dan tanpa rasa. Bahkan, tidak jarang yang lebih sibuk dengan gawai daripada menyapa orang di sekitarnya.

Padahal, dalam nilai budaya dan ajaran agama, salam bukan sekadar formalitas.

Ia adalah doa, penghormatan, dan bentuk kerendahan hati. Yang muda menghormati yang tua, yang tua menyayangi yang muda, dan yang paling utama adalah mereka yang lebih dulu memulai salam.

Di sinilah letak keindahan yang mulai terkikis.

Ketika salam berubah menjadi rutinitas tanpa makna, maka hilanglah ruh dari silaturahmi itu sendiri.
Mungkin benar, sebagian orang merasa lelah karena terlalu sering bersalaman dalam satu hari.
Atau mungkin ada rasa canggung yang tidak diungkapkan.

Namun, bukankah justru di momen seperti inilah kita diuji untuk tetap menjaga adab, meski dalam keadaan sederhana?

Memulai salam bukan berarti merendahkan diri. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk kemuliaan akhlak.

Mengulurkan tangan lebih dahulu adalah tanda kebesaran jiwa, bukan kelemahan.
Halal bihalal sejatinya bukan sekadar berjabat tangan, tetapi menyambung hati.

Bukan hanya soal siapa yang disalami lebih dulu, melainkan siapa yang lebih dahulu menghadirkan keikhlasan.

Baca juga Diduga Membebani Wali Murid, SMP Negeri 1 Binjai Disorot Terkait Biaya Seragam Rp825 Ribu Per Siswa

Jika kehangatan itu mulai berkurang, mungkin bukan tradisinya yang salah, tetapi cara kita memaknainya yang perlu diperbaiki.

Mari kita hidupkan kembali adab sederhana yang luar biasa ini.

Karena bisa jadi, dari satu salam yang tulus, lahir kembali persaudaraan yang sempat renggang.

🖊️
✍️ Redaksi AswinNews.com – Tajam, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *