Aceh, 5 Desember 2025 — Aceh—tanah yang telah berkali-kali diuji sejarah—kini kembali menanggung luka besar. Air banjir memang sudah surut, tetapi deritanya masih menggenang di halaman rumah yang hanyut, di ruang kelas yang diselimuti lumpur, dan di hati ribuan keluarga yang kini hidup dalam ketidakpastian, berdiri di antara puing dan doa.
Di tengah duka itu, Pemerhati Kebijakan Publik dan Sosial Aceh, Drs. Isa Alima, menyuarakan jeritan masyarakat. Suaranya tidak meledak-ledak, tetapi tegas dan jernih—membawa harapan sekaligus kegelisahan yang selama ini tertahan.
“Kami meminta kepada Presiden Prabowo melalui kementerian terkait agar memberikan dispensasi dan kompensasi bagi masyarakat terdampak banjir,” ungkapnya. Seruan itu lahir dari kenyataan pahit yang setiap hari ia saksikan di lapangan.
Isa Alima kemudian merinci tiga kebutuhan mendesak yang dinilai sangat krusial bagi kelangsungan hidup warga:
- Menggratiskan dua bulan rekening listrik untuk warga terdampak.
Bagaimana mungkin rakyat diminta membayar listrik ketika rumah mereka saja sudah hanyut? Di banyak gampong, tempat meteran listrik menempel pun hilang terbawa arus. - Memberikan kompensasi minimal Rp2.500.000 per KK.
Dana ini bukan hadiah—melainkan modal untuk memulai kembali hidup sederhana: membeli seragam, sepatu, buku, pakaian kering, atau membebaskan sementara biaya SPP di sekolah swasta yang masih melakukan pungutan pada siswanya. Semua barang itu lenyap dalam hitungan jam ketika banjir menerjang. - Memfasilitasi penerbitan ulang seluruh dokumen penting.
Ijazah, KTP, kartu keluarga, akta kelahiran—semua yang hilang harus segera diganti. Ketika dokumen identitas lenyap, akses terhadap sekolah, bantuan, hingga pekerjaan ikut tertutup.
Di balik tuntutan-tuntutan itu, Isa Alima menekankan pesan yang jauh lebih dalam:
“Presiden Prabowo, sebagai Kepala Negara, kiranya dapat memberikan keamanan dan kenyamanan dalam segala hal, termasuk pemulihan TROMAIRY.”
Karena bencana alam tidak hanya menelan harta, tetapi juga melukai psikologi, meretakkan sosial, dan menimbulkan kecemasan panjang yang tidak cukup diobati dengan bantuan sembako.
Aceh kini menatap Jakarta dengan mata yang lelah, tetapi masih menyimpan harapan bahwa negara akan benar-benar hadir.
Di sebuah Meunasah, seorang ibu masih menjemur buku matematika yang koyak dihantam lumpur.
Di sudut lain, seorang ayah meraba serpihan dinding rumahnya sambil berbisik lirih:
“Bagaimana kami mulai lagi?”
Dari kesedihan yang belum kering itulah suara Isa Alima berdiri sebagai wakil rasa sakit rakyat Aceh:
“Kami memanggil negara, bukan untuk mengasihani kami, tetapi untuk memulihkan hidup yang patah.”
Aceh masih menunggu—dengan harapan yang tipis, namun tetap menyala di tengah puing-puing kehidupan yang belum kembali utuh.
🖊️ Laporan Jurnalis: Drs.M.Isa Alima
✍️ Editor: Abah Roy | Redaksi AswinNews.com – Tajam, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update
![]()
