OPINI

EKOLOGI PARA PENJILAT: Membedah Komodifikasi Loyalitas dalam Sirkus Kekuasaan

Oleh :
Prof. Dr. T.M. Jamil, M.Si
Pengamat Politik dan Akademisi Universitas Syiah Kuala
Ketua Dewan Penasehat Asosiasi Wartawan Internasional(ASWIN) DPD Aceh


Setiap kali tirai kekuasaan baru dibuka dan seorang pemimpin resmi dilantik, sebuah ritual teatrikal yang usang selalu berulang. Telepon berdering tanpa henti, pesan digital membanjiri ruang obrolan, karangan bunga berbaris rapi layaknya barikade pertahanan, dan spanduk puja-puji membentang di setiap sudut kota. Mereka yang kemarin berada di garis oposisi atau bahkan tak terdengar suaranya, mendadak berdesakan di barisan paling depan, mengklaim kedekatan paling intim.

Hari itu, sang pejabat baru barangkali merasa dirinya begitu dicintai dan dihormati. Namun, sosiologi kekuasaan mengajarkan kita untuk skeptis: tidak semua yang datang membawa ucapan selamat sedang membawa ketulusan.

Dalam anatomi kekuasaan, orang-orang yang merapat ke lingkaran elite dapat diklasifikasikan ke dalam tiga motif: persahabatan ideologis, harapan akan perubahan, atau yang paling jamak—opini pragmatis demi kepentingan sektoral. Di sinilah ironi terbesar kekuasaan dimulai. Semakin tinggi takhta seseorang, semakin riuh kepungan manusia di sekelilingnya. Namun, keriuhan tersebut sering kali berbanding terbalik dengan hadirnya keikhlasan dan kejujuran.

Rasionalitas Instrumental dan Komodifikasi Loyalitas

Secara sosiologis, fenomena ini bukanlah sekadar masalah moralitas personal yang korup, melainkan sebuah gejala struktural. Max Weber jauh-jauh hari telah memetakan tindakan manusia ke dalam beberapa tipe, salah satunya adalah rasionalitas instrumental (zweckrational) Tindakan ini murni didorong oleh kalkulasi untung-rugi yang dingin dan matematis.

Ketika rasionalitas instrumental ini merembes dan menghegemoni ruang kekuasaan, maka loyalitas tidak lagi menjadi sebuah nilai moral (value), melainkan beralih rupa menjadi komoditas pasar

Di sinilah lahir kelompok yang kita sebut sebagai “Pedagang Loyalitas.” Mereka bertindak layaknya pialang saham di bursa kekuasaan. Hari ini mereka menjual saham kesetiaan kepada pemimpin terpilih. Besok, tanpa rasa bersalah, mereka akan menjual komoditas yang sama kepada suksesor berikutnya.

Bagi mereka, institusi adalah abstraksi kosong, rakyat adalah objek pembenaran, dan nilai-nilai adalah jargon dekoratif. Satu-satunya kiblat keimanan politik mereka adalah koordinat di mana kursi kekuasaan itu diletakkan.

Matinya Meritokrasi di Bawah Cengkeraman Patronase

Bahaya terbesar dari menjamurnya para “pedagang loyalitas” ini adalah terjadinya pembusukan sistematis pada budaya organisasi publik. Ketika ruang kekuasaan memberikan apresiasi lebih pada kepatuhan buta dibanding kapasitas, maka meritokrasi dipastikan mati muda

Ruang kosong yang ditinggalkan oleh profesionalisme akan segera diinvasi oleh patron-clientelism. Kompetensi teknis disingkirkan oleh kedekatan subyektif. Integritas dijegal oleh kelihaian menjilat dan menyenangkan hati atasan. Akibatnya, para birokrat dan pemikir yang bekerja dalam sunyi demi kemaslahatan publik perlahan tereliminasi, sementara para oportunis yang mahir mengemas citra palsu merangsek naik ke pusat pengambilan keputusan.

Sosiolog Pierre Bourdieu menjelaskan fenomena ini melalui konsep modal sosial (social capital) dan kekuasaan simbolik (symbolic power). Pengaruh politik sering kali tidak direbut melalui kapasitas intelektual, melainkan melalui manipulasi jaringan, fabrikasi pengakuan, dan dramaturgi kedekatan. Dalam ekosistem yang terdistorsi ini:

  • Pujian berubah fungsi menjadi alat transaksi berdaya guna tinggi.
  • Senyum dan anggukan kepala bertransformasi menjadi investasi taktis.
  • Kritik objektif didefinisikan sebagai tindakan subversif atau makar moral.

“Groupthink” dan Gelembung Epistemik Kekuasaan

Pada titik kulminasi inilah, seorang pemimpin sebenarnya sedang memasuki ruang paling sunyi dalam hidupnya. Kesunyian itu paradoks—terjadi di tengah riuh rendahnya tepuk tangan, dering telepon yang bising, dan antrean tamu yang mengular. Ruangan kerja penuh sesak, namun suara kebenaran telah diusir keluar. Yang tersisa hanyalah gema (echo chamber) dari pujian mereka sendiri.

Selamat datang di “Republik Para Penjilat”—sebuah fase di mana pemimpin dikepung oleh cermin-cermin retak yang hanya memantulkan apa yang ingin ia lihat, bukan realitas yang sebenarnya terjadi di tengah masyarakat.

Dalam psikologi sosial dan teori organisasi, patologi ini dikenal sebagai groupthink. Ini adalah situasi berbahaya di mana hasrat untuk memelihara konformitas kelompok dan menyenangkan pemimpin telah melumpuhkan nalar kritis secara total. Perbedaan pendapat diharamkan, dan evaluasi kebijakan dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Padahal, organisasi atau pemerintahan yang alergi terhadap kritik adalah entitas yang sedang meluncur cepat menuju kebangkrutan masa depannya sendiri.

Seorang pemimpin yang matang secara intelektual dan spiritual tidak membutuhkan barisan “pemandu sorak” yang bising. Ia justru membutuhkan para “mitra tanding” berpikir—sahabat-sahabat intelektual yang memiliki keberanian moral untuk mengetuk pundaknya dan berkata, “Maaf Pemimpin, keputusan ini keliru dan harus dibatalkan.”

Epilog: Menanti Sunyi di Ujung Jabatan

Pemimpin yang hanya membiarkan telinganya dibuai oleh orkestra pujian sesungguhnya sedang menggali liang lahat bagi reputasi sejarahnya sendiri. Mereka yang hari ini membisikkan pujian manis di telinga Anda, hampir pasti tidak sedang menyelamatkan kepemimpinan Anda. Mereka hanya sedang menyelamatkan perut, posisi, dan akses rente mereka sendiri.

Jabatan bukanlah sebuah trofi kemenangan atau hadiah cuma-cuma. Ia adalah amanah publik yang sarat dengan tanggung jawab profetik. Ia bukan properti dinasti, bukan milik kelompok pemenang pemilu, dan mutlak bukan jarahan bagi para pemburu rente. Jabatan adalah mandat rakyat yang pertanggungjawabannya akan ditagih secara ketat—tidak hanya oleh dialektika sejarah manusia, tetapi juga di hadapan pengadilan Tuhan yang transenden.

Oleh karena itu, wahai para pemegang kekuasaan, janganlah lekas mabuk kepayang oleh karangan bunga dan tepuk tangan hari ini.

Ujilah loyalitas itu kelak, ketika masa jabatanmu telah usai.

Saat papan namamu diturunkan dari pintu ruang kerja, saat fasilitas negara ditarik kembali, saat teleponmu mendadak bisu, dan halaman kantor yang dulu penuh karangan bunga kini sepi menyisakan daun kering yang gugur.

Pada saat sunyi itulah Anda akan menyadari siapa sesungguhnya sahabat sejati yang tersisa tanpa pamrih, dan siapa para “pedagang” yang telah pergi melompat ke gerbong kekuasaan yang baru.

Sejarah tidak pernah mencatat berapa banyak karangan bunga yang dikirimkan ke kantor seorang pejabat. Sejarah hanya akan mencatat dengan tinta emas: apakah kekuasaan yang ia pegang melahirkan keadilan sosial, meninggalkan warisan institusional yang kokoh, atau justru hanya menjadi panggung sandiwara bagi kenyamanan para penjilat?

Jangan kejar jabatan dengan menggadaikan kehormatan. Jabatan hanyalah halte persinggahan yang singkat, sementara kehormatan adalah rumah abadi tempat nama kita akan dikenang. Sebab, bukan jabatan yang membesarkan manusia, melainkan cara mulia manusia memperlakukan jabatannyalah yang akan menentukan apakah namanya akan ditulis dengan tinta emas sejarah atau hanyut dalam tempat sampah peradaban.
Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *