🖋️ Penulis: Zfz
📷 Narasumber: Han
🖥️ Editor: Kenzo — Redaksi Tajam, Akurat, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update
📅 Sampang, 20 Oktober 2025
ASWINNEWS.COM — Camplong, Sampang. Dini hari yang seharusnya sunyi di jalur lintas selatan Madura berubah menjadi arena pembantaian. Pukul 01.00 WIB, di SPBU 5469206 Camplong, tiga pria terekam kamera CCTV menyerang seorang petugas SPBU bernama Hairuddin (29) dengan senjata tajam — dan, diduga, juga menggunakan senjata api.
Adegan berdarah itu hanya berlangsung beberapa menit. Namun, cukup lama untuk membuat warga Camplong terguncang dan pihak kepolisian harus bergerak cepat mengamankan bukti, rekaman, serta serpihan peristiwa yang menunjukkan indikasi kuat adanya unsur perencanaan dan keterlibatan lebih dari satu pelaku.
Serangan Kilat di Tengah Gelap
Dari rekaman CCTV berdurasi 2 menit 47 detik yang kini diamankan penyidik, tampak korban berusaha bertahan hanya dengan selembar sarung, menangkis celurit yang berayun ke arah kepala dan bahu. Salah satu pelaku, diduga berinisial MD, terlihat mengarahkan benda menyerupai pistol, sementara dua lainnya terus menyerang dari sisi kanan dan belakang.
Beberapa detik sebelum kamera merekam korban tersungkur, kilatan cahaya diduga tembakan terlihat — namun suara tak terdengar jelas karena noise latar dari mesin SPBU.
Korban sempat melawan dan merebut satu senjata tajam pelaku sebelum akhirnya tumbang.
Korban Luka Parah, Operasi Mendesak

Hairuddin, warga Dusun Gung Dalem, Desa Banjar Talelah, mengalami luka robek di kepala, bahu kiri, lengan, dan leher bagian belakang. Ia sempat diselamatkan rekan kerja dan warga sekitar, lalu dibawa ke RSUD dr. Mohammad Zyn Sampang.
“Pasien mengalami luka di bahu kiri, kepala kiri, tangan kiri, dan leher belakang. Pagi ini sekitar pukul 07.00 WIB pasien sudah menjalani operasi,”
ujar Amin Jakfar Sadik, Humas RSUD dr. Mohammad Zyn Sampang.
Dokter jaga menyebut luka yang diderita korban termasuk kategori berat, dan tim medis sempat melakukan transfusi darah darurat untuk menstabilkan kondisinya.
Polisi Bergerak, Bukti Mulai Tersusun
Kasus ini kini berada di bawah penanganan Satreskrim Polres Sampang. Sejumlah barang bukti telah diamankan, termasuk pakaian korban yang berlumuran darah, senjata tajam yang sempat direbut korban, serta rekaman CCTV.
“Benar, kami tengah menyelidiki dugaan penganiayaan berat di wilayah Camplong. Korban sudah mendapatkan perawatan medis. Saat ini kami masih mengumpulkan keterangan saksi dan alat bukti di lapangan,”
kata AKP Eko Puji Waluyo, Plh Kasi Humas Polres Sampang, mewakili Kapolres Sampang AKBP Hartono.
Penyidik menjerat para pelaku dengan Pasal 353 ayat (1) dan (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, atau Sub Pasal 351 ayat (1) dan (2) KUHP Jo 55 ayat (1) ke-1 KUHP, tentang penganiayaan berat secara bersama-sama yang diduga direncanakan.
“Kami akan bertindak tegas. Tidak ada ruang bagi aksi kekerasan bersenjata di Sampang. Kami imbau masyarakat tetap tenang dan serahkan penanganannya pada polisi,” tegas Eko.
Motif Masih Gelap, Dugaan Balas Dendam Menguat
Sumber internal kepolisian menyebut ada indikasi hubungan personal dan ekonomi antara korban dan salah satu pelaku. Namun, aparat masih berhati-hati untuk mengungkap motif sebelum pemeriksaan saksi dan hasil forensik selesai.
Dugaan lain mengarah pada konflik antar kelompok lokal yang kerap bersinggungan di sekitar jalur distribusi BBM dan usaha kecil di kawasan SPBU Camplong. Beberapa warga menyebut korban dikenal aktif membantu mengatur antrean dan pengawasan distribusi malam hari — posisi yang kerap memicu gesekan dengan oknum tertentu.
“Hairuddin orangnya baik, cuma dia tegas. Kadang ngatur antrean, nggak kasih lewat kalau mobil bukan jatah malam itu,” ujar seorang warga sekitar yang enggan disebutkan namanya.
Catatan Redaksi: Antara Kekerasan dan Keberanian
Kasus di SPBU Camplong membuka lagi luka lama tentang rawannya kekerasan bersenjata di Madura bagian selatan.
Dalam beberapa tahun terakhir, konflik lokal, persoalan distribusi BBM, dan rivalitas personal sering berujung pada tindakan anarkis. Namun, kasus Hairuddin menunjukkan pola baru: serangan terencana di ruang publik dengan bukti visual kuat.
Redaksi menilai, penyelidikan cepat dan transparan menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum.
Karena di balik luka Hairuddin, ada pesan jelas bahwa keberanian melawan kekerasan tidak boleh dibiarkan berakhir tanpa keadilan.
![]()
