Dedi Mulyadi: Mengusung Budaya Sunda, Menjawab Kontroversi

Oleh: Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
Dosen Antropologi Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Editor,abahroy Redaksi Aswinnews.

Perjalanan politik Dedi Mulyadi atau Kang Dedi adalah cerita tentang bagaimana budaya lokal bisa menjadi kekuatan besar dalam politik. Berawal dari aktivis mahasiswa, ia meniti karir sebagai legislator, Bupati Purwakarta dua periode, hingga kini menjadi Gubernur Jawa Barat.

Dedi Mulyadi dikenal dengan gaya kepemimpinan populis dan humanis yang berakar kuat pada budaya Sunda. Ia membangun kebijakan yang menghidupkan simbol-simbol lokal—dari penggunaan pakaian adat, nama-nama sekolah khas Sunda, hingga membungkus pohon dengan kain sarung hitam-putih. Purwakarta pun berubah menjadi kota yang lekat dengan nuansa budaya.

Namun langkah ini memicu kritik dari kelompok Islam puritan. Dedi pernah dilaporkan atas dugaan penistaan agama karena dianggap mengutamakan salam “Sampurasun” daripada “Assalamualaikum”. Ia juga dituding membawa ajaran musyrik karena membangun patung-patung tokoh wayang di ruang publik.

Dedi menegaskan, budaya yang ia usung justru memperkaya nilai-nilai Islam. Salam “Sampurasun”, kata Dedi, bukan pengganti salam Islam, melainkan pelengkap. Ia juga menekankan bahwa patung dan pohon yang dihias bukan untuk disembah, tetapi untuk memperindah kota dan menguatkan identitas lokal.

Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Barat secara terbuka membela Dedi. NU menilai apa yang dilakukan Dedi adalah strategi budaya yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Tuduhan-tuduhan musyrik itu akhirnya gugur setelah Polda Jawa Barat menghentikan penyidikan pada 2016.

Gaya Dedi yang tegas dan terkadang kontroversial juga tampak dalam kebijakan sosial. Ia pernah mengusulkan program KB dengan vasektomi sebagai syarat bansos, mengirim siswa nakal ke barak militer, hingga melarang acara wisuda dan study tour yang membebani orang tua. Langkah-langkah ini menuai pro dan kontra, namun memperkuat citranya sebagai pemimpin yang “berani ambil risiko” dan berpihak pada rakyat kecil.

Hubungan Dedi dengan NU begitu dekat, bahkan ia menjadi Wakil Ketua PCNU Purwakarta. Sementara dengan Muhammadiyah, Dedi kerap berdialog kritis, saling mengapresiasi meski tetap terbuka dalam mengkritisi kebijakan.

Dedi Mulyadi adalah contoh bagaimana budaya lokal dan agama bisa berjalan berdampingan dalam politik. Ia menawarkan wajah Islam yang ramah budaya dan berpihak pada keadilan sosial. Bagi banyak kalangan, Dedi bukan ancaman, melainkan aset bagi Islam Indonesia yang toleran, berakar, dan membumi.

Lhokseumawe, Aceh,27 Juni 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *