MBG Hebat di Atas Kertas, Tapi Jangan Abaikan Guru di Lapangan

Oleh: Abah Roy/Drs.Rohiman
Pendidik MI Madinatunnajah kota Cirebon

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang sebagai langkah besar negara dalam menyiapkan generasi unggul.

Niatnya mulia: memastikan anak-anak Indonesia tidak lagi belajar dalam kondisi lapar.

Baca juga. Direktorat SMP Imbau Pengawasan Ketat dan Larangan Publikasi Selama TKA Gelombang 3 dan 4 Tahun 2026

Namun, di balik gegap gempita program tersebut, muncul pertanyaan yang tak kalah penting: apakah perhatian terhadap kesejahteraan guru—terutama guru honorer—sudah sebanding?
Di ruang-ruang kelas sederhana, para guru honorer tetap setia mengajar.

Mereka bukan hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga membentuk karakter, menanamkan nilai, dan menjadi figur pengganti orang tua di sekolah. Ironisnya, masih banyak dari mereka yang menerima honor jauh dari kata layak, bahkan terkadang terlambat dibayarkan.

Jika negara serius ingin mencetak generasi unggul, maka guru tidak boleh ditempatkan sebagai elemen pelengkap.

Program seperti MBG memang penting untuk menunjang fisik dan kesehatan siswa, tetapi kualitas pendidikan tidak akan pernah berdiri kokoh tanpa kesejahteraan guru yang memadai.

Ada kesan bahwa kebijakan hari ini lebih menonjolkan aspek yang “terlihat” secara langsung oleh publik. MBG mudah diukur: berapa porsi makanan dibagikan, berapa anggaran terserap.

Sementara itu, peningkatan kesejahteraan guru sering kali luput karena hasilnya tidak instan dan tidak selalu terlihat dalam angka jangka pendek.

Padahal, dampak jangka panjang dari memperhatikan guru jauh lebih besar.

Guru yang sejahtera akan mengajar dengan tenang, fokus, dan penuh dedikasi.

Mereka tidak perlu lagi memikirkan pekerjaan sampingan untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Energi dan pikiran mereka sepenuhnya bisa dicurahkan untuk mendidik anak bangsa.

Kita tidak sedang mempertentangkan MBG dengan kesejahteraan guru. Keduanya sama-sama penting.

Namun, keseimbangan kebijakan harus dijaga. Jangan sampai negara terlihat lebih sigap memberi makan siswa, tetapi lamban dalam “memberi kehidupan” bagi gurunya.

Baca juga Pernyataan Kemenag Dinilai Belum Transparan, PWRI Purwakarta Minta Penjelasan Detail

Sudah saatnya pemerintah melihat pendidikan sebagai ekosistem utuh.

Anak yang sehat butuh guru yang sejahtera.

Program yang baik harus diiringi kebijakan yang adil.

Jika tidak, maka cita-cita menciptakan generasi emas hanya akan menjadi slogan tanpa fondasi yang kuat.

Cirebon,13/04/2026

jurnalis,Abah Roy

AswinNews.com — Tajam, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *