1 Juni Aksi Tumpah Tebu di Depan PG GMM Tetap Digelar

Blora, -aswinnews.com— Rencana aksi “Tumpah Tebu” yang akan digelar di depan PG GMM Todanan pada 1 Juni 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai agenda.

Massa aksi menegaskan kegiatan tersebut merupakan bentuk penyampaian pendapat di muka umum yang dijamin konstitusi serta bagian dari hak demokratis warga negara.

Koordinator aksi, Exy Wijaya, menyampaikan bahwa koordinasi pelaksanaan kegiatan telah dilakukan bersama jajaran kepolisian dan unsur TNI di Polres Blora guna memastikan aksi berlangsung aman dan kondusif.

Dalam pertemuan tersebut, aparat kepolisian disebut menyatakan kesiapan melakukan pengamanan selama jalannya aksi. Selain itu, kepolisian juga disebut siap membantu pengawalan distribusi tebu milik petani menuju sejumlah pabrik gula di luar Kabupaten Blora agar hasil panen tidak mengalami kerugian lebih besar di tengah situasi krisis yang dihadapi petani.

Pihak koordinator aksi menegaskan bahwa mekanisme penyampaian pendapat di muka umum tidak memerlukan izin dari kepolisian, melainkan cukup pemberitahuan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

Aksi yang akan dipusatkan di depan pabrik gula tersebut rencananya diisi berbagai kegiatan rakyat, mulai dari mimbar bebas petani, orasi kerakyatan, pembacaan tuntutan, teatrikal sosial, hingga aksi simbolik tumpah tebu sebagai bentuk protes terhadap kondisi yang dialami petani tebu di Blora.

Menurut massa aksi, kegiatan itu menjadi ruang penyampaian aspirasi rakyat terkait persoalan agraria, tata kelola industri gula, hingga nasib petani kecil yang dinilai semakin tertekan akibat krisis industri.

Massa juga menyoroti persoalan tata kelola industri gula di PG GMM yang dianggap berdampak langsung terhadap kehidupan petani. Mereka menilai rakyat kecil tidak seharusnya menjadi pihak yang paling dirugikan akibat persoalan manajemen perusahaan, utang industri, maupun kebijakan yang dinilai tidak transparan.

“Petani sejak awal menanam dan menjaga produksi, tetapi ketika krisis terjadi justru petani yang pertama merasakan dampaknya,” Ungkapnya, Jumat (29/5/2026).

Tanggal 1 Juni dipilih bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila. Massa aksi menilai momentum tersebut memiliki makna historis dan moral karena merujuk pada pidato Ir. Soekarno pada 1 Juni 1945 yang menekankan pentingnya keadilan sosial dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Sementara itu, panitia aksi juga menyinggung gagasan “kaum Marhaen” yang diperkenalkan Soekarno sebagai simbol perjuangan petani, buruh, dan wong cilik agar terbebas dari tekanan ekonomi dan ketidakadilan sosial.

Aksi Tumpah Tebu disebut akan tetap dilaksanakan secara damai dan tertib dengan mengedepankan solidaritas rakyat dalam memperjuangkan nasib petani tebu di Kabupaten Blora.

(wibowo)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *