“Ujian Keimanan di Hari Kemenangan”
Oleh: Drs. Rohiman/AbahRoy
KHUTBAH PERTAMA
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd.
Allahu Akbar kabira, walhamdulillahi katsira, wa subhanallahi bukratan wa ashila.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh. Wa na’udzubillahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a’malina. Man yahdihillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah.
Ashhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.
Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Hari ini adalah hari yang sangat agung bagi umat Islam, yaitu Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, hari kemenangan setelah sebulan penuh kita menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menjelaskan bahwa tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan.
Orang yang bertakwa bukan hanya yang rajin beribadah, tetapi juga yang memiliki hati yang lembut, peduli kepada sesama, serta menjunjung nilai keadilan dan kemanusiaan.
Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah.
Idul Fitri adalah hari kembali kepada kesucian. Hari di mana umat Islam saling memaafkan, mempererat silaturahmi, serta memperkuat persaudaraan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
Artinya:
“Puasa adalah perisai.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa menjadi perisai bagi manusia dari hawa nafsu, dari kezaliman, dan dari sifat-sifat buruk dalam diri manusia.
Namun, jamaah yang dimuliakan Allah, di tengah kebahagiaan kita merayakan Idul Fitri bersama keluarga, kita tidak boleh melupakan saudara-saudara kita di berbagai belahan dunia yang masih berada dalam penderitaan.
Saudara-saudara kita di Palestina hingga saat ini masih menghadapi konflik yang panjang. Banyak rumah yang hancur, anak-anak kehilangan orang tua, dan keluarga yang terpaksa hidup dalam pengungsian.
Begitu pula konflik yang terjadi di kawasan Iran dan Timur Tengah, yang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan akibat ketegangan militer yang terus berlangsung.
Situasi ini menjadi ujian bagi keimanan kita. Apakah kita hanya merasakan kebahagiaan sendiri, ataukah kita juga merasakan penderitaan saudara kita.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Artinya:
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling peduli adalah seperti satu tubuh.
Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakitnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ini adalah dalil naqli yang menunjukkan bahwa umat Islam harus memiliki rasa solidaritas yang tinggi.
Allah SWT juga berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Selain dalil naqli dari Al-Qur’an dan Hadis, kita juga dapat memahami hal ini melalui dalil aqli, yaitu akal dan logika.
Secara akal sehat, manusia tidak dapat hidup sendiri. Dunia akan damai jika manusia saling menghormati, saling menolong, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Tetapi jika manusia kehilangan empati dan keadilan, maka yang muncul adalah peperangan, penindasan, dan penderitaan.
Karena itu, puasa Ramadhan seharusnya melahirkan manusia yang lebih peduli, lebih adil, dan lebih mencintai perdamaian.
Semoga Idul Fitri ini menjadikan kita kembali kepada fitrah sebagai manusia yang bersih hatinya, kuat imannya, dan tinggi kepeduliannya terhadap sesama.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd.
(Duduk sejenak)
KHUTBAH KEDUA
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd.
Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih kama yuhibbu rabbuna wa yardha.
Ashhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Idul Fitri bukan hanya hari kegembiraan, tetapi juga hari untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan kepedulian terhadap sesama.
Mari kita perbanyak doa untuk saudara-saudara kita di Palestina, Iran, dan seluruh wilayah dunia yang sedang mengalami penderitaan akibat konflik dan peperangan.
Semoga Allah memberikan keselamatan, kedamaian, dan keadilan bagi mereka.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى
Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat.”
(QS. An-Nahl: 90)
Mari kita jaga nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan kita: kejujuran, kepedulian sosial, mempererat silaturahmi, dan membantu mereka yang membutuhkan.
Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat
wal mu’minina wal mu’minat
al ahya’i minhum wal amwat.
Allahumma ansur ikhwanana al-mustadh’afin fi Filastin
wa fi bilad al-muslimin.
Allahumma ihfazhum wa a’tihim as-salamah wal aman.
Rabbana atina fid-dunya hasanah
wa fil akhirati hasanah
wa qina ‘adzaban nar.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd.
Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
![]()
