Penulis: Drs. M. Isa Alima
Editor: Rahmat Kartolo
Aswinnews – Tajam, Berimbang, dan Ter-Update
Banda Aceh | Aswinnews.com –
Menjelang bulan suci Ramadhan, Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Gubernur Muzakir Manaf (Mualem) mengambil langkah strategis guna menjamin ketersediaan daging sapi dan kerbau bagi masyarakat. Langkah ini ditempuh demi menjaga keberlangsungan tradisi Meugang, sebuah kearifan lokal yang telah mengakar kuat dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh.
Melalui diplomasi dengan pemerintah pusat, Aceh membuka ruang impor daging sebagai solusi untuk mengantisipasi kelangkaan dan lonjakan harga. Kebijakan ini dinilai berpijak pada realitas sosial Aceh, di mana Meugang bukan sekadar tradisi konsumsi daging, melainkan simbol kebersamaan, kepedulian, dan persiapan spiritual menyambut Ramadhan.
Baca Juga KMP Sampaikan Dugaan Korupsi DBHP Purwakarta kepada Presiden
Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih diuji berbagai musibah, ketersediaan daging dengan harga terjangkau menjadi harapan nyata. Kebijakan Gubernur Mualem dinilai tepat dalam menjawab kebutuhan tersebut. Namun demikian, proses administrasi dan keakuratan pelaksanaan impor diingatkan agar tidak menimbulkan kendala yang berujung pada keterlambatan distribusi daging di saat hari Meugang tiba.
Untuk mempercepat dan mengefektifkan proses, Gubernur Mualem menunjuk PT Pembangunan Aceh (PEMA) sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bertanggung jawab mengelola impor daging. Penunjukan ini diyakini dapat memangkas hambatan birokrasi serta mempercepat realisasi di lapangan.
Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik Aceh, Drs. Isa Alima, menegaskan bahwa langkah Gubernur Aceh tersebut sudah berada di jalur yang benar. Meski demikian, ia mengingatkan agar seluruh proses berjalan cepat mengingat Ramadhan sudah di ambang pintu.
Baca Juga Persipur Purwodadi Tekuk BMSC Semarang 3-0 Di Liga 4 Jawa Tengah 2025/2026
“Jangan sampai keterlambatan administrasi justru mengorbankan kebutuhan masyarakat. Ketepatan waktu adalah kunci,” ujar Isa Alima.
Ia juga menekankan bahwa aspek kualitas dan keakuratan impor tidak boleh diabaikan, termasuk pengendalian harga agar benar-benar sesuai dengan daya beli masyarakat.
“Ini bukan sekadar soal impor, tetapi soal kepekaan sosial. Harga harus benar-benar berpihak pada rakyat Aceh yang sedang bangkit dari bencana,” tambahnya.
Isa Alima kemudian merangkum harapannya dalam prinsip 3T, yakni Cepat, Tepat, dan Akurat: cepat dalam proses, tepat dalam waktu distribusi, serta akurat dalam kualitas dan harga.
Dengan langkah tersebut, Aceh diharapkan dapat menyambut Ramadhan dengan hati yang lebih lapang. Tradisi Meugang tetap hidup dan bermakna, sementara kebijakan publik hadir sebagai penguat dan pelindung kepentingan masyarakat.
Redaksi Aswinnews.com
![]()
