🖊️ Penulis: Zulfas
📷 Kontributor: Kontingen Sulsel
🗞️ Narasumber: Ketua Kontingen
🖥️ Editor: Kenzo | Redaksi AswinNews.com – Tajam, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update
Sulawesi Selatan — AswinNews.com
Kondisi memprihatinkan mewarnai keberangkatan Kontingen Sulawesi Selatan (Sulsel) menuju Kejuaraan Nasional O2SN 2025 di Jakarta. Alih-alih membawa semangat penuh dan persiapan optimal, para atlet justru harus menghadapi kenyataan pahit: keterbatasan fasilitas, minimnya dukungan, dan buruknya manajemen pendampingan dari pihak terkait.
Kontingen berangkat pada 16 November 2025 menggunakan pesawat Naim Air dengan total delapan atlet, terdiri dari empat atlet Pencak Silat dan empat atlet Karate. Namun, persiapan mereka jauh dari layak untuk sebuah kejuaraan nasional.
Pencak Silat Tanpa Coach: “Kami Datang Bertanding, Tapi Tidak Ada yang Membimbing”

Salah satu sorotan paling serius adalah absennya pelatih atau coach bagi atlet Pencak Silat.
Tidak satu pun pendamping hadir dalam Technical Meeting, sebuah forum yang sangat vital untuk memahami aturan pertandingan, jadwal tanding, hingga penyesuaian teknis lainnya.
Akibatnya, atlet terpaksa berjalan sendiri, mengandalkan informasi seadanya, dan menyesuaikan diri tanpa arahan taktis.
“Inilah risiko ketika atlet dilepas begitu saja tanpa pendampingan,” ungkap salah satu anggota kontingen.
Kondisi ini mencerminkan adanya kelalaian serius dalam perencanaan dan koordinasi dari instansi terkait yang seharusnya memastikan kesiapan kontingen sebelum diberangkatkan.
Minim Anggaran, Minim Kepedulian — Atlet Harus Biayai Transportasi Sendiri

Masalah tidak berhenti pada kurangnya pendamping. Minimnya dukungan anggaran dari pemerintah daerah memperparah keadaan.
Sejumlah atlet mengaku harus menggunakan biaya pribadi, termasuk untuk transportasi dari rumah ke bandara.
Padahal, surat pemanggilan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Pusat Prestasi Nasional) jelas mencantumkan bahwa akomodasi dan transportasi umum akan digantikan oleh pusat.
“Kalau begitu, kenapa atlet masih harus bayar sendiri? Ada yang tidak beres,” keluh seorang atlet dengan nada kecewa.
Prestasi Tetap Hadir, Tapi Tidak Menutup Luka
Ahmad Ramadhan Akbar dari SMAN 21 Makassar berhasil meraih medali perunggu cabang Karate. Meski begitu, raihan ini tidak cukup menghapus rasa kecewa para atlet atas kurangnya dukungan pemerintah daerah.
Ketua Kontingen, Muh. Agil, didampingi oleh Ibu Gutina dan Pak Faizal Zainuddin sebagai coach Karate. Namun dukungan ini tetap tidak menutupi fakta bahwa atlet Pencak Silat sama sekali tidak mendapatkan hak pendampingan yang semestinya.
Para atlet menilai perlakuan yang mereka terima bagaikan “dianak-tirikan”, meski mereka membawa nama daerah di tingkat nasional.
Kritik Terbuka untuk Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan
Kejadian ini membuka pertanyaan besar mengenai keseriusan pemerintah daerah dalam membina atlet pelajar yang berjuang membawa nama Sulawesi Selatan.
Kurangnya anggaran, lemahnya koordinasi, hingga minimnya pendampingan adalah indikasi bahwa pembinaan olahraga belum menjadi prioritas nyata.
Jika kondisi ini terus terjadi, maka:
regenerasi atlet berbakat akan terhambat,
potensi prestasi nasional akan menurun,
dan kepercayaan atlet terhadap pemerintah akan terus terkikis.
Prestasi tidak lahir dari perjuangan atlet semata, tetapi dari dukungan sistem yang sehat dan manajemen yang profesional.
Catatan Redaksi
Redaksi AswinNews.com menilai peristiwa ini sebagai alarm keras bagi instansi terkait di Sulawesi Selatan. Dalam konteks pembinaan olahraga pelajar, negara dan pemerintah daerah wajib hadir secara penuh — mulai dari perencanaan, pendampingan, hingga pemenuhan hak-hak atlet.
Kami mendorong pemerintah daerah untuk segera mengevaluasi mekanisme pengiriman atlet, memastikan transparansi anggaran, serta menjamin pendampingan teknis yang memadai pada setiap kejuaraan resmi.
Atlet pelajar adalah aset bangsa. Mereka tidak seharusnya berjuang sendirian.
![]()
