Keracunan MBG Kian Meningkat

Sebaiknya Pengelolaan MBG Diserahkan Kepada Sekolah Masing-Masing

πŸ–‹οΈ Penulis: Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., M.M.
Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional)


πŸ“… Minggu, 5 Oktober 2025 | 21:58 WIB
πŸ“ Medan – ASWINNEWS.COM
πŸ“Œ Editor: Kenzo – Redaksi Aswinnews.com, Tajam, Akurat, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-update


Aswinnews.com ~ Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan anak-anak, khususnya peserta didik, dalam rangka menekan angka stunting dan gizi buruk. Selain itu, program ini diharapkan mampu menggerakkan perekonomian lokal melalui pemanfaatan produk pangan dari masyarakat sekitar.

Namun, pelaksanaannya di lapangan justru menimbulkan masalah baru yang serius. Kasus keracunan makanan MBG kini marak terjadi di berbagai daerah. Alih-alih meningkatkan kesehatan, program ini justru menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi mengancam keselamatan anak-anak.


Data Kasus Keracunan MBG

Menurut Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), hingga awal Oktober 2025 tercatat sekitar 10.482 siswa menjadi korban keracunan makanan dari program MBG di berbagai daerah. Angka ini terus bertambah dengan rata-rata penambahan 1.500-an kasus baru per minggu, meski sebagian dapur MBG telah ditutup oleh pemerintah.

Sementara itu, berdasarkan data resmi Badan Gizi Nasional (BGN), Kementerian Kesehatan, dan BPOM, jumlah korban per September 2025 berada di kisaran 5.000–5.320 anak, dengan kasus terbanyak ditemukan di wilayah Jawa Barat.

Perbedaan data ini muncul karena metode verifikasi yang digunakan kedua pihak berbeda.

Pemerintah (BGN) menggunakan tim investigasi lintas lembaga, melibatkan kepolisian, BIN, Dinas Kesehatan, BPOM, dan pakar independen.

JPPI, sebaliknya, mengandalkan pengawasan masyarakat dan laporan langsung dari lapangan di berbagai daerah terdampak.


Evaluasi Tanpa Politisasi

Program MBG tidak perlu dihentikan, tetapi harus dievaluasi secara menyeluruh dan objektif, tanpa kepentingan politik. Tujuannya agar ditemukan formulasi terbaik demi menjamin pelaksanaan program yang tepat guna, tepat sasaran, dan aman bagi peserta didik.

Salah satu opsi yang banyak didukung adalah menyerahkan pengelolaan MBG langsung kepada masing-masing sekolah, bekerja sama dengan komite sekolah atau kantin sekolah.


Mengapa Pengelolaan MBG Sebaiknya di Sekolah?

Beberapa keuntungan jika pengelolaan MBG dilakukan oleh pihak sekolah adalah:

Pengawasan lebih dekat dan efektif, sehingga kualitas dan keamanan makanan lebih terjamin.

Menu bisa disesuaikan dengan kebutuhan gizi serta selera anak di masing-masing daerah.

Mendorong ekonomi lokal, karena sekolah dapat bekerja sama dengan UMKM sekitar sebagai penyedia bahan pangan.

Efisiensi dan transparansi anggaran, sebab dana digunakan langsung oleh sekolah tanpa banyak perantara.

Partisipasi orang tua meningkat, melalui keterlibatan komite sekolah dalam proses perencanaan dan pengawasan.


Catatan Akhir

Pengelolaan MBG oleh sekolah dengan dukungan komite dan kantin sekolah bukan tanpa tantangan. Diperlukan sistem pengawasan ketat, pelatihan bagi pengelola, serta pendampingan berkelanjutan dari pemerintah daerah maupun pusat.

Namun, dengan pendekatan ini, diharapkan program MBG dapat kembali pada tujuan awalnya β€” meningkatkan gizi anak-anak Indonesia tanpa mengorbankan keselamatan mereka.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *