Catatan Buruk FORNAS VIII NTB: Evaluasi Menyeluruh Diperlukan Demi Marwah Olahraga Nasional


🖋️ Penulis: Latiyf Ridlo
✍️ Editor: Kenzo | Redaksi AswinNews.com – Tajam, Akurat, Terpercaya, dan Ter-Update

Lombok Barat, NTB – Festival Olahraga Nasional (FORNAS) VIII yang digelar di Nusa Tenggara Barat telah usai. Ajang dua tahunan yang sejatinya menjadi sarana pemersatu bangsa dan perayaan olahraga berbasis komunitas ini justru menyisakan berbagai catatan kritis. Dari persoalan teknis hingga dugaan ketidakadilan dalam penilaian, sejumlah pihak menilai penyelenggaraan FORNAS VIII kali ini jauh dari harapan.

Sejumlah kontingen dari berbagai provinsi mulai kembali ke daerah masing-masing. Ada yang pulang membawa kebanggaan, namun tak sedikit pula yang kecewa karena merasa terabaikan, bahkan dizalimi oleh sistem penyelenggaraan yang amburadul.

Data Atlet Amburadul, Logistik Semrawut

Seorang official dari inorga TBI berinisial (S) mengungkapkan bahwa beberapa atlet yang dikirim bukanlah atlet binaan resmi, melainkan hanya mereka yang mampu membiayai keikutsertaan secara mandiri. “Yang penting ada dana, bisa masuk data inorga. Padahal ini bukan hal asing, semua official kontingen tahu pola mainnya,” ujarnya.

Ketidaksiapan juga terlihat dari aspek logistik dan identifikasi panitia. Salah satu wasit juri mengaku bahwa saat acara sudah berlangsung, ID Card panitia pelaksana (Panlak), wasit, dan official belum dibagikan. Bahkan masalah paling mendasar seperti konsumsi juga menjadi keluhan utama. “Makan pagi datang siang, makan siang datang sore. Logistik sangat buruk,” keluhnya.

Penilaian Tak Adil, Atlet Berprestasi ‘Dikalahkan’

Keluhan juga datang dari kontingen inorga AKTI. Seorang official yang enggan disebut namanya menuding ada dugaan permainan dalam sistem penilaian.

“Atlet kami jelas-jelas lebih unggul. Tendangan dan pukulan masuk banyak, tapi nilai justru dikalahkan. Ini sangat janggal,” protesnya.

Ia menambahkan bahwa timnya datang dari jauh membawa atlet terbaik daerahnya, namun malah diperlakukan tak adil. “Kami kecewa. Protes kami tidak digubris. Penilaian wasit berat sebelah, cenderung diskriminatif.”

Kritik untuk KORMI dan Dispora: Jangan Tutup Mata

Lebih jauh, kritik juga dialamatkan kepada Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) dan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora). Para pelatih dan official menyayangkan praktik yang dinilai hanya menguntungkan kelompok tertentu.

“KORMI dari dulu tidak jauh beda dengan KONI. Atlet hanya jadi alat permainan. Dispora juga ikut-ikutan. Harusnya mereka berpihak pada atlet yang berjuang keras, bukan ikut dalam permainan anggaran,” kata salah satu narasumber yang paham dinamika internal FORNAS.


🟥 Catatan Redaksi AswinNews.com

Festival Olahraga Nasional (FORNAS) adalah panggung nasional yang seharusnya menjunjung tinggi nilai sportivitas, kebersamaan, dan keadilan bagi seluruh atlet. Laporan ini menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh dari KORMI dan Dispora, baik di pusat maupun daerah, agar perhelatan olahraga tidak hanya menjadi seremoni seremonial yang elitis dan penuh manipulasi.

Kami mendorong Kemenpora RI, BPKP, dan Ombudsman untuk melakukan audit independen terhadap pelaksanaan FORNAS VIII NTB, termasuk menelusuri dugaan penyalahgunaan anggaran, manipulasi atlet, dan ketidakadilan dalam penilaian.

Atlet adalah pejuang yang layak dihargai, bukan dijadikan alat politik atau permainan oknum. Demi menjaga marwah olahraga nasional, sistem yang rusak harus dibenahi dari akarnya.


Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *