Langit Cerah, Mata Berkaca: Dua Cahaya Puskesmas Mane Berpamitan Pulang

🖋️ Penulis: Drs. Isa Alima
✍️ Editor: Kenzo | Redaksi AswinNews.com – Tajam, Akurat, Terpercaya, dan Ter-Update
📍 Indramayu, 29 Juli 2025
Perpisahan NSI Individu Bach II 2023–2025 – UPTD Puskesmas Mane

Mane, Pidie – 30 Juli 2025
Langit siang itu cerah. Namun di halaman UPTD Puskesmas Mane, suasana justru diliputi mendung perasaan. Dua sosok pengabdi kesehatan — drg. Fara Fatika dan Muhammad Halim — berpamitan pulang setelah dua tahun menyalakan cahaya harapan di tengah keterbatasan.

Datang sebagai bagian dari program Nusantara Sehat Individu (NSI) angkatan 2023–2025, keduanya kini kembali ke daerah asal, membawa serta kisah, kenangan, dan keteladanan. Bukan hanya pegawai, mereka telah menjadi keluarga.


“Perjumpaan Membawa Harapan, Perpisahan Membawa Luka”

Kepala Puskesmas Mane, Rinaldi, SKM, menyampaikan pesan yang menggugah dalam upacara perpisahan:

“Perjumpaan selalu membawa harapan. Tapi perpisahan… diam-diam membawa luka. Hari ini, dua sosok yang menjadi bagian dari denyut kerja Puskesmas Mane harus melangkah pergi.

drg. Fara dan Halim, kalian tidak hanya menjalankan tugas. Kalian menanam jejak, bukan hanya di laporan kerja, tetapi di hati kami yang pernah berjalan bersama.

Kalian membawa ketulusan, kesabaran, dan senyum dalam segala cuaca. Selamat jalan. Semoga takdir membawa kalian ke tempat yang lebih tinggi. Tapi ingat, kami pernah berjalan bersama — dan itu tak akan pernah menjadi sekadar catatan absen.”


drg. Fara Fatika: “Saya Pulang, Tapi Hati Saya Tertinggal di Mane”

Dengan mata berkaca, drg. Fara menyampaikan rasa haru mendalam:

“Terima kasih atas setiap kebersamaan, bantuan, dan ilmu yang telah dibagi. Mohon maaf bila selama ini ada kekurangan.

Saya berharap akan ada dokter gigi yang dapat menetap di Mane. Kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan gigi masih sangat besar.

Saya datang sebagai bagian dari program, tapi saya pulang dengan hati yang penuh kasih.”


Muhammad Halim: “Saya Banyak Belajar dan Merasa Dihargai”

Tenang namun menyentuh, Halim mengenang perjalanan tugasnya:

“Saya banyak belajar di sini. Saya tumbuh, dan merasa dihargai. Terima kasih kepada semua pihak yang pernah bekerja sama.

Maafkan jika ada salah. Semoga Puskesmas Mane terus berkembang dan menjadi tempat yang makin baik bagi masyarakat.

Dan… semoga di antara yang ditinggalkan, ada satu yang diam-diam merindukan saya. Karena saya masih sendiri, dan siapa tahu… pulang bukan berarti benar-benar pergi.”


Muhammad Fauzan – Teman Serumah: “Banyak Kenangan, Mungkin Juga Banyak Salah”

Sebagai rekan paling dekat Halim selama penugasan, Fauzan menyampaikan ungkapan hangat:

“Aku dan Halim bukan cuma teman kerja. Kami teman sahur, teman cerita, bahkan teman rebutan colokan.

Banyak kenangan yang kami ukir. Mungkin juga banyak salah yang pernah terjadi.

Dari hati terdalam, aku dan seluruh staf Puskesmas Mane memohon maaf atas semua kekurangan.

Terima kasih telah menjadi saudara. Jangan lupakan Mane, karena Mane tak akan pernah melupakanmu, sahabat.”


Yusmaida – Rekan Senior: “Bukan Perpisahan yang Menyakitkan, Tapi Kenangan yang Sulit Dilupakan”

Menutup sesi haru, Yusmaida, sebagai rekan senior yang bijak, berkata:

“Tak kenal maka tak sayang. Tapi setelah kenal, kami justru terlalu sayang untuk melepaskan.

Kami ingin kalian tetap di sini. Namun jika takdir harus membawa kalian pergi, bawalah semua kebersamaan ini sebagai bekal yang abadi.

Perpisahan tak akan menyakitkan jika kenangan tetap hidup di dalam hati.”


Hari itu, tak ada suara lebih nyaring dari diam yang penuh haru. Dalam peluk, doa-doa diam-diam dititipkan. Mereka memang telah pulang, namun cahaya yang mereka nyalakan di Puskesmas Mane tak akan pernah benar-benar padam.

Selamat jalan, drg. Fara dan Halim. Terima kasih telah menjadi cahaya di tengah keterbatasan.
Jangan lupakan Mane… karena Mane akan selalu mengenang kalian.


Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *