🖋️ Penulis: Latiyf Ridlo
✍️ Editor: Kenzo | Aswinnews.com – Tajam, Akurat, Terpercaya, dan Ter-Update
Lombok, NTB – Aswinnews.com
Festival Olahraga Nasional (FORNAS) VIII di Nusa Tenggara Barat kembali menyuguhkan kemeriahan dan semangat sportivitas tinggi. Pada hari kedua gelaran nasional ini, cabang olahraga panahan tradisional yang dinaungi Inorga FESPATI menjadi salah satu sorotan utama, dengan partisipasi luar biasa dari 23 kontingen provinsi dan ribuan pengunjung dari seluruh penjuru Indonesia.
749 Atlet Bertanding, 16 Kategori Dipertandingkan
Ajang panahan (archery) kali ini mencatatkan total 749 atlet dan 147 ofisial yang ikut ambil bagian. Kompetisi terbagi dalam 16 kategori, mulai dari usia dini hingga dewasa. Berikut klasifikasi perlombaannya:

- Kategori U-12 putra dan putri (kualifikasi & eliminasi)
- Kategori U-18 putra dan putri (kualifikasi & eliminasi)
- Kategori umum 20m dan 25m putra dan putri
- Kategori hunting
- Kategori undangan khusus (3 peserta non-kompetitor dari Australia)
Antusiasme peserta menunjukkan semangat luar biasa, sekaligus menggambarkan betapa besarnya minat terhadap olahraga panahan yang bersumber dari tradisi dan budaya nusantara.

Dominasi Prestasi dari Timur hingga Barat
Beberapa kontingen provinsi tampil mencolok dan mendominasi podium juara. Di antaranya adalah FESPATI Kalimantan Timur, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua Tengah, NTB, Bali, dan Lampung.

Namun yang tak kalah menarik perhatian adalah penghargaan khusus kategori “kostum terbaik” yang diraih kontingen Papua Tengah. Warna-warni busana tradisional mereka dianggap paling menggambarkan semangat budaya dan kebanggaan lokal.
Imran Taufik: Panahan Tradisional Adalah Warisan, Bukan Sekadar Kompetisi

Dalam sambutannya, Ketua Umum Inorga FESPATI, Imran Taufik, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran dan kesuksesan kompetisi ini. Ia menekankan bahwa panahan bukan hanya soal menang-kalah, tetapi bagaimana olahraga ini bisa menjadi wahana pendidikan karakter dan pelestarian tradisi.
“Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan sukses tanpa kendala. Panahan ini luar biasa karena tidak mengenal batasan usia. Bahkan anak-anak bisa jadi juara nasional hingga internasional. Harapan kita, panahan terus menjadi olahraga tradisional yang membanggakan bangsa,” ujar Imran dengan semangat.

Imran juga menyampaikan rasa terima kasih kepada tuan rumah NTB, tim medis, ofisial, dan seluruh kontingen yang telah menjaga semangat kompetisi dengan menjunjung tinggi nilai sportivitas.
Kalah Menang Bukan Tujuan Akhir

Dengan semboyan FORNAS VIII “Kalah Menang Semua Senang”, serta motto KORMI “Sehat, Bugar, Gembira, Luar Biasa”, kompetisi panahan ini ditutup secara resmi melalui penyerahan medali kepada para juara. Imran berharap pada FORNAS berikutnya, penyelenggaraan bisa lebih profesional dan kompetitif, sekaligus mampu meminimalisir potensi kendala di lapangan.

Semangat kebersamaan dan jiwa nasionalisme pun ditanamkan melalui setiap anak panah yang melesat—sebagai simbol bahwa olahraga tradisional bukan hanya tentang medali, tapi tentang merawat akar budaya bangsa.
📌 Ikuti terus rangkaian liputan FORNAS VIII NTB 2025 dan perkembangan cabang olahraga tradisional lainnya hanya di Aswinnews.com – Media Anda yang hadir mengabarkan Indonesia dari berbagai sudut.
![]()
