Ziarah Pemikiran di Kolam Harapan: Sarjani Abdullah dan Alzaizi Bertemu Tokoh Senior PPP Aceh

🖋️ Penulis: Drs. Isa Alima
✍️ Editor: Kenzo | Redaksi AswinNews.com – Tajam, Akurat, Berimbang, Terpercaya, dan Ter-Update
Perlak Kota, Aceh Timur – 23 Juli 2025

Setelah menyampaikan belasungkawa atas wafatnya ibunda Bupati Aceh Timur, rombongan Bupati dan Wakil Bupati Pidie, H. Sarjani Abdullah, S.H., M.H., dan Alzaizi, melakukan persinggahan yang tak biasa namun sarat makna. Di sebuah tambak sederhana di Gampong Coet Mata Itam, Kecamatan Perlak Kota, keduanya bersilaturahmi dengan Tgk. H. Ishak Yusuf—tokoh karismatik dan politisi senior Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Aceh.

Tambak ikan dan udang paname milik Tgk. Ishak Yusuf itu bukan sekadar ladang ekonomi, melainkan tempat pengabdian, perenungan, sekaligus dialog spiritual dan intelektual. Dalam suasana alami yang jauh dari hiruk-pikuk politik, berlangsung pertemuan yang hangat antara dua generasi pemimpin Aceh.

Abu Sarjani, sapaan akrab Bupati Pidie, menyampaikan pandangannya tentang arah pembangunan daerah yang tidak boleh hanya terpaku pada aspek fisik dan ekonomi semata. Ia menekankan pentingnya pembangunan moral dan karakter generasi muda.

“Kemajuan Aceh tidak cukup hanya dengan membangun jalan dan gedung. Kita perlu membangun manusia—akhlaknya, pikirannya, dan jiwanya. Sinergi antara pemerintah, ulama, dan keluarga sangat dibutuhkan untuk itu,” ungkap Sarjani.

Tgk. Ishak Yusuf, yang akrab disapa Ayah Ishak, menyambut gagasan itu dengan semangat. Ia menegaskan perlunya merawat nilai-nilai keislaman dan adat Aceh di tengah derasnya arus globalisasi.

“Pendidikan hati dan budaya kita tidak boleh hilang. Dari tambak seperti inilah kita bisa kembali merenungi makna kerja keras, keikhlasan, dan keberkahan,” tutur Ayah Ishak.

Pertemuan yang berlangsung santai namun penuh muatan filosofis itu menjadi semacam ziarah pemikiran—penguatan tekad bersama untuk membangun Aceh dengan pendekatan yang menyentuh akar budaya, agama, dan kemanusiaan.

Kolam ikan dan udang pun menjadi saksi bisu dari tekad dua tokoh ini: membangun Pidie dan Aceh bukan hanya dengan tangan dan kebijakan, tapi juga dengan hati, nilai, dan doa. Kunjungan ini menandai bahwa harapan besar dapat tumbuh dari tempat-tempat sederhana, ketika jiwa-jiwa besar saling bertemu dan berdialog untuk kebaikan masa depan.


Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *