Pengkhianatan Terhadap Sejarah Pejuang Timor: TBO Fiktif Disahkan, Pejuang Asli Dibuang

Laporan Investigasi Khusus | AswinNews.com
🖊️ Penulis: Raphael
🗞️ Editor: Kenzo — Redaksi AswinNews.com | Tajam, Akurat, Berimbang, dan Ter-Update

Belu, NTT — Di balik riuh hormat pada para veteran, tersimpan luka dan pengkhianatan yang selama ini diam. Para pejuang sejati Operasi Seroja 1975/76 kini terpinggirkan, digantikan oleh mereka yang baru mengenal medan juang dari balik meja administrasi. Skandal ini pecah di Belu, Nusa Tenggara Timur, saat pertemuan resmi antara Danrem 161/Wira Sakti Kupang, Dandim 1605 Belu, dan sejumlah pejuang, Selasa (9/7/2025).

Fakta Terungkap: Tak Ada TBO Tahun 1975

Dalam acara tatap muka tersebut, Danrem 161/WS menyampaikan fakta sejarah militer secara terang: bahwa pada masa Operasi Seroja, tidak ada yang disebut Tenaga Bantuan Operasi (TBO). Yang eksis saat itu adalah Wanra (Perlawanan Rakyat) dan Hansip (Pertahanan Sipil) — dua elemen sipil yang memang dilatih secara resmi oleh TNI dan Polri untuk ikut serta dalam operasi militer di Timor Timur.

Klarifikasi ini diperkuat oleh Letkol (Purn) I Nyoman Garis, veteran senior yang pernah bertugas langsung dalam Operasi Seroja dan menjabat sebagai perwira personalia di Yonif 743/BS. Dalam pernyataan resminya pada 5 Juli 2025, ia menyebut:

“Selama tugas saya di Timor Timur 1975-76, saya tidak pernah melihat atau menandatangani pengangkatan TBO. Bahkan, saya tidak mengenal nama Stefanus Atok Bau.”

Pernyataan ini menjadi palu godam atas klaim-klaim palsu yang selama ini digunakan untuk mengaku sebagai ‘veteran’ demi mengejar tunjangan negara.


Ketika Sejarah Dipalsukan, Kebenaran Ditinggalkan

Skandal ini mencuat seiring dengan temuan Tim Investigasi AswinNews, bahwa nama-nama penerima gelar veteran dan tunjangan di Belu diduga dimanipulasi oleh oknum Ketua LVRI Cabang Belu, Stefanus Atok Bau, yang bahkan disebut mengklaim dirinya sebagai TBO usia 5 tahun saat 1975 — sebuah klaim yang tidak hanya absurd, tapi juga menginjak harga diri seluruh pejuang Indonesia.

“Dulu kami bertaruh nyawa demi merah putih, sekarang kami disingkirkan oleh mereka yang bahkan tidak tahu rasa lapar dan takut di medan tempur,” ujar Gaspar Beti, salah satu pejuang legendaris ‘Meo’ yang bertempur dengan kelewang di garis depan Timor Timur.

Lebih menyedihkan lagi, beberapa pejuang justru kesulitan mengurus pengakuan veteran meski mereka memegang surat tugas asli dan bukti riwayat operasi. Sementara itu, oknum yang diduga hanya bermain di level pengumpulan data administratif, justru telah mendapat pengesahan veteran dan menikmati tunjangan negara.


Tuntutan Pejuang: Bongkar Mafia Veteran, Cabut Pengakuan Palsu

Forum tatap muka itu pun berubah menjadi mimbar perlawanan para pejuang sejati. Mereka menuntut:

  • Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI segera melakukan verifikasi ulang daftar veteran penerima tunjangan dari Belu.
  • Cabut status veteran palsu yang tidak memiliki riwayat operasi atau surat tugas militer.
  • Usut dugaan pemalsuan data dan dokumen pengakuan veteran.
  • Evaluasi menyeluruh terhadap kepengurusan LVRI Cabang Belu, yang diduga menjadi sarang manipulasi dan pengkhianatan.

Keadilan Sosial Harus Berdiri di Atas Kebenaran Sejarah

Apa jadinya bangsa ini bila darah para pejuang diganti dengan tipu daya para pemburu uang negara? Skandal veteran palsu di Belu bukan sekadar peristiwa administratif, ini adalah penghinaan terhadap sejarah, pengkhianatan terhadap konstitusi, dan pengabaian terhadap nilai-nilai juang republik.

“Waktu pemilu, kami dicari. Setelah menang, kami dilupakan. Lalu muncul orang-orang baru yang mengaku-ngaku ikut perang. Inilah bentuk penghianatan sejati,” keluh Fransisco Tafares, veteran yang kini hidup dalam kesederhanaan.

Kami menyerukan kepada Presiden Republik Indonesia, Menteri Pertahanan, Panglima TNI, serta Komnas HAM untuk turun tangan. Jangan biarkan sejarah dipalsukan dan pengorbanan para pahlawan diinjak-injak oleh mafia yang bermain di balik gelar dan tunjangan.


Bersama Para Pejuang, Suara Ini Tidak Akan Diam

Kisah ini bukan hanya milik Belu. Ini adalah luka bangsa. Karena bila satu saja pejuang diabaikan, seluruh bangsa sedang kehilangan nurani.

Kami dari AswinNews berdiri bersama para pejuang sejati, dan mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menyuarakan kebenaran, keadilan, dan sejarah yang tak boleh dibengkokkan.


📢 Mari viralkan! Tanda tangani petisi rakyat untuk audit gelar veteran nasional.
📬 Kirim laporan pelanggaran ke: redaksi@aswinnews.com
📷 Saksikan kesaksian para pejuang di kanal YouTube @AswinNewsTV


#KeadilanUntukPejuang1975 #BongkarMafiaVeteran #SelamatkanSejarahIndonesia #HormatUntukPejuangSejati #TolakVeteranPalsu


Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *