Tahun Baru Islam: Antara Seremonial dan Kesadaran Hakiki

Oleh: Drs. Rohiman
Pendidik MI Madinatunnajah Kota Cirebon

Setiap tahun, umat Islam menyambut pergantian tahun Hijriyah dengan penuh sukacita. Spanduk peringatan tahun baru bermunculan, gema doa akhir dan awal tahun ramai dibacakan, dan sebagian umat pun mengikuti berbagai kegiatan keagamaan yang digelar oleh pemerintah, organisasi, maupun komunitas.

Namun, pertanyaan pentingnya adalah: sudahkah tahun baru Islam benar-benar kita maknai sebagai momentum perubahan, atau sekadar menjadi rutinitas seremonial tanpa muatan kesadaran?

Tahun 1446 Hijriyah telah berlalu, dan 1447 Hijriyah telah menjemput kita. Pergantian tahun seharusnya bukan sekadar pergantian kalender atau agenda tahunan yang diulang. Ia mestinya menjadi ruang muhasabah, tempat kita menundukkan hati, menata kembali langkah, dan mengevaluasi perjalanan hidup yang telah kita tempuh. Sebab waktu adalah modal hidup yang tidak dapat diulang. Ia berlalu tanpa kompromi, meninggalkan kita dengan amal yang terpatri abadi.

Dalam setahun ke belakang, banyak di antara kita mungkin terlalu sibuk mengejar ambisi dunia, terjebak dalam persaingan yang melelahkan, dan terlena oleh kenikmatan sesaat. Kita seringkali lebih khusyuk menghitung laba dunia daripada menghitung amal untuk akhirat. Bahkan, tak sedikit di antara kita yang mengaku muslim tetapi lebih bersemangat menyambut tahun baru Masehi dengan pesta kembang api daripada menyambut tahun baru Hijriyah dengan istighfar dan doa.

Padahal, peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ yang menjadi tonggak penetapan tahun baru Islam adalah peristiwa perjuangan dan perubahan total. Hijrah adalah tentang meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan, meninggalkan zona nyaman menuju zona perjuangan, dan meninggalkan ketertinggalan menuju kebangkitan. Tahun baru Islam seharusnya menghidupkan kembali semangat hijrah itu dalam diri kita.

Momentum pergantian tahun ini seharusnya menjadi pintu kesadaran, bahwa umur kita berkurang, kesempatan kita semakin sempit, dan kematian kita semakin dekat. Allah tidak menilai seberapa panjang kita hidup, tetapi seberapa bermakna hidup kita. Maka, mari kita ubah cara kita memaknai tahun baru. Mari kita jadikan 1447 Hijriyah sebagai awal perubahan yang nyata, bukan hanya di lisan, tetapi dalam amal dan perilaku.

Kita bisa memulai dari hal-hal kecil. Memperbaiki shalat kita. Mengurangi dosa-dosa lisan. Menahan diri dari kebiasaan buruk. Memperbanyak sedekah. Meluangkan waktu untuk keluarga. Menguatkan ukhuwah di lingkungan. Karena perubahan besar selalu diawali dari langkah kecil yang istiqamah.

Tahun akan terus berganti, waktu akan terus berjalan. Namun, apakah kita akan tetap berada di tempat yang sama? Ataukah kita berani menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya?

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, menerima amal ibadah kita di tahun yang lalu, serta membimbing langkah kita di tahun yang baru.


Editor: Abahroy Aswinnews.com
Kota Cirebon, 30 Zulhijah 1446 H / 26 Juni 2025 M

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *