Ketika Gaza Terluka, Dunia Sibuk Berpesta Ibadah.

Oleh Abahroy
Ketua DPC Aswin Cirebon

Tahun ini, 1446 Hijriah, umat Islam kembali menunaikan ibadah haji. Mekkah dipenuhi jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia.

Seremonial ibadah berlangsung khidmat, media menayangkan ritual suci dengan sudut pengambilan gambar yang megah, dan media sosial ramai dengan unggahan jemaah yang larut dalam spiritualitas.

Namun, pada saat yang sama, hanya ribuan kilometer dari Tanah Haram, Gaza masih menjadi neraka di dunia. Anak-anak dibom, perempuan dan orang tua mati kelaparan, rumah sakit dihancurkan, dan kehidupan nyaris punah. Di bawah puing-puing bangunan dan suara dentuman bom, umat Islam lain menjerit tanpa siapa pun benar-benar mendengar.

Ironi ini mengguncang hati. Di satu sisi, umat Islam menunjukkan antusiasme luar biasa dalam beribadah.

Di sisi lain, tragedi kemanusiaan terbesar abad ini berlangsung di tengah kebisuan global, termasuk dari kalangan umat sendiri.

Seolah Gaza dan haji tidak ada dalam satu nafas iman yang sama.

Seolah tangisan rakyat Palestina bukan bagian dari penderitaan kita.

Apakah kita telah kehilangan rasa peduli?
Atau sudah terbiasa memisahkan spiritualitas dari solidaritas?

Ibadah haji adalah simbol totalitas penghambaan.

Ia mengenang perjuangan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail. Ketiganya adalah sosok yang membuktikan bahwa iman sejati selalu beriring dengan pengorbanan. Maka, wajar jika publik bertanya: mengapa, ketika hari-hari haji tiba, semangat pengorbanan itu tidak tampak dalam bentuk solidaritas terhadap Gaza?

Banyak negara Muslim mengirimkan kuota besar jemaah haji, tetapi tak mengirim tekanan diplomatik yang berarti terhadap penjajahan dan pembantaian yang terjadi di Palestina.

Para pemimpin dunia Islam tampil di forum-forum internasional, namun saat rakyat Gaza memohon bantuan, mereka bungkam atau hanya menyumbang kata-kata manis.

Sebagian umat justru menjadikan momen haji sebagai ruang pelarian dari tanggung jawab sosial.

Alih-alih membawa pesan pembelaan terhadap kaum tertindas, haji kadang menjadi panggung eksklusif spiritual yang hampa kepedulian.

Ini bukan soal menyalahkan orang yang berhaji.

Ibadah tetap suci dan wajib dihormati. Tapi spiritualitas yang tidak menggerakkan nurani sosial adalah kesalehan yang pincang.

Sering kali, solidaritas terhadap Gaza hanya hidup sesaat—ramai saat kekejaman tersebar di media, lalu senyap begitu isu berganti.

Bahkan kini, linimasa media sosial kita lebih ramai dengan suasana Mekkah dan busana ihram, sementara Gaza nyaris tak lagi disebut.

Kita mulai terbiasa hidup dalam paradoks: menangis saat doa qunut menyebut Palestina, namun cepat lupa membela mereka dalam kenyataan. Kita merasa cukup beribadah, namun enggan menoleh pada penderitaan orang lain. Apakah kita benar-benar memahami makna dari “umat yang satu tubuh”—satu sakit, semua terasa?

Saat jutaan umat Islam mengucap talbiyah, “Labbaik Allahumma Labbaik”, tidakkah kita sadar bahwa panggilan sejati Tuhan bukan hanya pada ritual, tetapi juga pada tindakan nyata? Di luar Masjidil Haram, suara Gaza juga adalah panggilan. Di sana, umat yang sama sedang diuji dengan penderitaan luar biasa. Jika kita tak menjawab panggilan itu, pantaskah kita merasa telah memenuhi panggilan Ilahi?

Saat kita berdesakan mencium Hajar Aswad, adakah tempat dalam hati untuk mengenang anak-anak Gaza yang kehilangan rumah dan keluarga? Saat kita melempar jumrah, tidakkah kita juga perlu melempar jauh-jauh egoisme, keacuhan, dan kebisuan yang membunuh rasa kemanusiaan?

Ibadah bukan pelarian dari kenyataan, melainkan penguat langkah menghadapi kenyataan. Gaza hari ini adalah ujian iman bagi seluruh umat Islam. Mereka tak butuh air mata, tapi butuh keberpihakan. Bukan hanya doa, tapi juga sikap.

Jika kita masih bisa larut dalam ritual, namun tidak peduli pada rakyat yang dizalimi, barangkali sudah saatnya kita bertanya: apakah kita masih punya hati?

Cirebon,09 Juni 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *