Veteran Foeka Simon Asuk Ungkap Praktik Gelap Stefanus Atok Bau dan Ketakutan Warga yang Trauma Pembunuhan
BELU, AswinNews.com | Investigasi Khusus –
Kasus pemalsuan identitas dan pemerasan yang diduga melibatkan Stefanus Atok Bau, mantan Ketua Macab LVRI Belu, kembali mencuat dengan kesaksian baru dari seorang veteran, Simon Asuk, warga Dusun Foeka, Desa Foeka, Kecamatan Nanaet Duabesi.

Dalam wawancara eksklusif pada Jumat, 30 Mei 2025 pukul 09.40 WITA, wartawan Aswin News menemui Simon di kediamannya. Ia mengungkap dugaan penipuan yang dialaminya oleh Stefanus Atok Bau pada 2007 silam, disertai kronologi lengkap dan bukti pendukung.
“Saya kehilangan lima ekor sapi, uang Rp30 juta, dan empat lembar kain adat yang saya berikan kepada Stefanus Atok Bau setelah dia pulang dari Jakarta. Katanya untuk keperluan organisasi veteran,” ungkap Simon.
Dugaan Penipuan Bermodus Jabatan
Menurut Simon, Stefanus kala itu memperkenalkan diri sebagai pengurus LVRI Kabupaten Belu. Namun klaim itu ia bantah dalam pernyataannya:
“Berita yang mengatakan Stefanus adalah Ketua Macab LVRI Belu itu tidak benar. Ia mengaku-ngaku demi kepentingannya sendiri.”

Simon menyebutkan, peristiwa itu terjadi pada 16 November 2007. Saat itu, selain kehilangan ternak dan uang, ia merasa ditipu karena tidak pernah mendapatkan kejelasan atau pertanggungjawaban atas janji-janji yang dilontarkan Stefanus.
Warga Takut Bicara karena Trauma Pembunuhan
Simon menyatakan bahwa dirinya bukan satu-satunya korban. Namun banyak warga enggan bersuara karena trauma terhadap sebuah kasus pembunuhan yang diduga melibatkan lingkungan rumah Stefanus di masa lalu.
“Banyak yang ingin melapor, tapi mereka takut. Salah satu mantan pensiunan meninggal secara misterius di rumah Stefanus. Itu bikin banyak orang takut buka suara.”
Ia juga menambahkan bahwa dugaan pungli yang dilakukan Stefanus terjadi tanpa kuitansi atau dokumentasi resmi, dan berlangsung secara sistemik selama bertahun-tahun.

Riwayat Hidup yang Dipertanyakan
Simon menyoroti kejanggalan latar belakang Stefanus, yang menurutnya tidak layak disebut sebagai pejuang 1975/1976.
“Kalau dia bilang ikut berjuang tahun 1975, itu mustahil. Dia masih berusia lima tahun saat itu. Kami tahu karena dia lahir di Haliwen, sekarang masuk Desa Duabesi.”
Simon juga menyebut bahwa pada masa pengungsian akibat konflik Timor-Timur, Stefanus masih terlalu kecil untuk bisa terlibat dalam kegiatan militer atau perjuangan rakyat.
Apel Kesatuan Veteran: Bukti Solidaritas untuk Melawan Ketidakadilan
Sebelumnya, pada Senin, 26 Mei 2025, para veteran 1975/1976 menggelar apel bersama di Mako Kodim 1605 Belu. Agenda itu bukan sekadar seremonial, tapi juga bentuk konsolidasi dan tekad bulat untuk menjadi saksi dalam melawan penyalahgunaan wewenang yang diduga dilakukan Stefanus.
Kesaksian Simon Menguatkan Investigasi Sebelumnya
Laporan investigasi yang sebelumnya diangkat oleh AswinNews pada 24 Mei 2025 telah menyingkap bahwa kasus dugaan pemalsuan identitas dan pemerasan oleh Stefanus Atok Bau telah mandek selama 12 tahun di kepolisian. Kini, kesaksian Simon memperkuat dugaan tersebut, menambah tekanan publik agar kasus ini segera dituntaskan.
Permohonan Bertemu Presiden
Veteran Ludofikus Manek sebelumnya telah menyatakan harapannya untuk bisa bertemu Presiden RI Prabowo Subianto, agar perkara ini mendapat perhatian langsung dari negara.
Catatan Redaksi:
Tim wartawan AswinNews terus berupaya menunggu pihak Stefanus Atok Bau untuk bisa ditemui, Polda NTT, dan Polres Belu untuk mendapatkan klarifikasi resmi. Redaksi akan memperbarui laporan ini berdasarkan perkembangan terbaru dari wartawan di NTT.
Penulis: Tim Investigasi AswinNews, |
Editor: Kenzo,
AswinNews.com – Tajam, Akurat, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update.
![]()
