PANCARAN SINAR MATA HATI

Penulis : H Dedi Setiabudi
Brigjen Purn Polisi

Hidup itu antara Adzan dan Sholat, Lahir di adzankan dan Mati di sholatkan…_Lahir di tolong orang dan Mati di gotong orang…_Jagalah Sholat mu karena Sholat mu akan menjaga kamu setelah Kematian…_Sholatlah dibelakang Imam sebelum di Sholatkan di depan Imam…_Bawalah Raga ke Masjid sebelum digotong ke Masjid…

Allah subhanahu Wa ta’ala, menjadikan orang-orang pilihannya dengan membekalinya keilmuan dan ketakwaan, keyakinan kepada Allah dan rasulnya. Akan tetapi tidak semua orang pilihan Allah mendapatkan cahaya ilahi yang menyinari hati seseorang kecuali orang yang benar benar dekat dan dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Penglihatan seseorang dengan cahaya mata hati sering disebut dengan cahaya ilmu atau Ainul Yaqin. Berkata ilmu ulama muhaqqin, seseorang tidak akan sampai pada hakikatnya tawadhu،kecuali saat nafsunya larut dan tunduk pada sang khalik dan bersikap rendah hati di hadapan makhluk.

Berkata Imam Ibnu athaillah, bahwa orang yang terbuka dengan cahaya pertama akan merasakan kedekatan Allah. Ia akan sadar pengawasan Allah dan malu kepadanya apabila melakukan pelanggaran. orang yang telah dibuka mata hatinya oleh Allah ta’ala, akan merasa bahwa pandangan Allah tidak pernah luput darinya, baik saat melaksanakan perintahnya maupun di saat menjauhi larangan-larangannya.
Orang yang terbuka mata hatinya akan merasa ketiadaan segala yang wujud karena adanya wujud Allah yang maha Haq. Ia akan melihat bahwa alam semesta ini tidak ada dan tidak lagi wujud alam semesta ini hanyalah akibat dari wujud yang maha maujud. Wujud hati hanyalah milik Allah subhanahu Wa ta’ala. Dalam pandangannya tidak ada lagi yang dijadikan sandaran atau tempat berkeluh kesah kecuali hanyalah Allah. Dia hanya akan bertawakal kepadanya, ridho dan memasrahkan diri kepadanya.
Seseorang musyahid (yang menyaksikan wujudnya Allah dalam segala sesuatunya) meyakini bahwa wujud hakiki hanya milik Allah subhanahu Wa ta’ala, sedangkan selainnya tidak memiliki wujud.

Berkata Imam athaillah: 

كان الله ولا شيء معه, وهو الان على ما عليه كان.
Artinya;

Allah telah ada Dan tiada sesuatu pun di sampingnya, kini dia masih tetap sebagaimana adanya semula.

Semoga sajian hati hari Selasa ini banyak mengundang manfaat dan berkah, aamiin yaa robbal aalamiin…

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *