PIDIE – AswinNews.com —
“Kalau Ini Disebut Desil 6, Maka Ada yang Salah dengan Cara Kita Membaca Kenyataan”
PIDIE, 4 Mei 2026 – Ada yang sunyi di Desa Tumpok Laweueng, Kecamatan Pidie. Sunyi yang bukan karena tak ada suara, melainkan karena suara-suara itu tak pernah sampai ke meja pengambil kebijakan.
Di sana, di antara tanah yang retak dan angin yang bebas keluar masuk dinding kayu, berdiri sebuah rumah yang hampir kehilangan makna sebagai tempat berlindung.

Dindingnya miring, atapnya renta, lantainya bersahabat dengan debu dan tanah. Setiap hujan datang, yang masuk bukan hanya air tetapi juga rasa cemas. Setiap malam turun, yang hadir bukan hanya gelap tetapi juga ketidakpastian.
Namun di dalam sistem yang katanya berbasis data dan keadilan, rumah ini tercatat sebagai desil 6. Sebuah angka yang dingin yang menyiratkan: “tidak terlalu miskin, tidak terlalu membutuhkan.” Padahal kenyataan berkata sebaliknya.
Hari itu, langkah kaki seorang wakil rakyat memecah sunyi.
Zulfazli, Anggota DPRK Pidie dari Partai Kebangkitan Bangsa, datang bukan untuk sekadar melihat tetapi untuk memastikan. Ia tidak berhenti di pinggir jalan, tidak puas dengan laporan di atas kertas.
Ia masuk, berdiri, dan menyaksikan sendiri bagaimana rakyatnya hidup di bawah standar yang bahkan tak layak disebut sederhana.
Di hadapannya, rumah itu tidak bicara, tapi kondisinya berteriak, dan suara itu cukup keras untuk menggugah nurani.
“Kalau ini disebut desil 6, maka ada yang salah dengan cara kita membaca kenyataan,” ucapnya pelan namun sarat makna.
Zulfazli melihat lebih dari sekadar bangunan. Ia melihat kegagalan sistem yang terlalu percaya pada angka tetapi lupa memeriksa rasa.
Ia melihat bagaimana data yang seharusnya menjadi alat keadilan justru bisa berubah menjadi tirai yang menutup penderitaan.
Dalam sistem perlindungan sosial, desil bukan sekadar angka. Ia menentukan siapa yang berhak menerima bantuan, siapa yang didahulukan, dan siapa yang harus menunggu.
Kesalahan satu angka bisa berarti hilangnya hak seseorang.
Dan di Tumpok Laweueng, kesalahan itu terasa nyata.
Rumah yang hampir roboh ini bukan sekadar contoh, ia adalah bukti.
Bukti bahwa verifikasi lapangan belum sepenuhnya hidup.
Bahwa pembaruan data masih menyisakan celah. Bahwa ada jarak antara laporan dan kenyataan.
Zulfazli pun tidak tinggal diam.
Ia meminta dengan tegas agar dilakukan verifikasi ulang data secara menyeluruh dan objektif.
Baca juga MAN 2 Ciwaringin Gagas “Rumah Prestasi” untuk Apresiasi Siswa Berprestasi
Ia menekankan bahwa penentuan desil harus berbasis kondisi riil di lapangan, bukan sekadar input administratif yang mungkin sudah usang atau tidak akurat.
“Jangan sampai bantuan salah alamat. Jangan sampai yang layak justru terlewat. Ini bukan sekadar soal teknis, ini soal keadilan sosial,” ujarnya.
Di belakangnya, beberapa warga berdiri. Mereka tidak banyak bicara. Mungkin sudah terlalu sering berharap lalu kecewa.
Mungkin sudah terbiasa melihat bantuan datang dan pergi tapi tak pernah singgah.
Namun kehadiran seorang wakil rakyat di depan rumah itu setidaknya memberi satu hal: bahwa mereka tidak sepenuhnya dilupakan.
Zulfazli yang juga disebut-sebut akan mengemban amanah lebih besar sebagai calon Ketua DPC PKB ke depan memahami bahwa kepercayaan tidak lahir dari pidato.
Ia lahir dari keberanian untuk turun, melihat, dan bertindak.
Langkahnya hari itu sederhana, tapi maknanya dalam. Ia ingin menunjukkan bahwa politik tidak harus jauh dari rakyat. Bahwa jabatan bukan sekadar posisi, tetapi tanggung jawab untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.
Kasus di Tumpok Laweueng bukanlah satu-satunya. Ia hanya satu titik dari banyak titik lain yang mungkin mengalami nasib serupa, tersembunyi di balik angka, terlupakan dalam sistem.
Karena itu, apa yang terjadi hari itu seharusnya tidak berhenti sebagai berita. Ia harus menjadi peringatan.
Bahwa data harus terus diperbarui. Bahwa verifikasi harus menyentuh langsung kehidupan.
Bahwa keadilan tidak bisa hanya dihitung, ia harus dirasakan.
Di ujung desa itu, rumah yang hampir runtuh masih berdiri.
Ia belum berubah, tapi harapan mulai bergerak perlahan seperti angin yang menyelinap di sela dinding kayu.
Harapan bahwa suatu hari data akan lebih jujur. Bahwa kebijakan akan lebih adil.
Bahwa negara akan hadir bukan hanya dalam angka tetapi dalam tindakan nyata.
Dan mungkin dari rumah sederhana itu kita diingatkan kembali bahwa tugas terbesar kita bukan hanya mencatat kehidupan rakyat tetapi memastikan mereka benar-benar hidup dengan layak.
🖊️ Laporan Jurnalis:Drs M.Isa Alima
✍️| Redaksi AswinNews.com – Tajam, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update
![]()
