Ketupat Dan Sabrang Hijau Antara Tradisi Dan Makna Idul Fitri

Ketupat Dan Sabrang Hijau Antara Tradisi Dan Makna Idul Fitri

Penulis,Abah Roy

Setiap Idul Fitri, masyarakat Indonesia memiliki tradisi menyajikan ketupat dan aneka hidangan khas lainnya, termasuk sayuran hijau atau yang sering disebut sabrang hijau.

Bagi sebagian orang, hidangan ini dianggap bagian dari ritual keagamaan, sementara yang lain melihatnya sebagai sekadar tradisi kuliner.

Namun, benarkah sajian ini memiliki makna religius, atau sekadar budaya yang diwariskan
turun-temurun?

Dari sudut pandang historis, ketupat diyakini diperkenalkan oleh Wali Songo sebagai simbol filosofi kehidupan.

Anyaman janur yang membungkus beras melambangkan kerumitan hidup manusia, sementara nasi yang matang di dalamnya mencerminkan kebersihan hati setelah menjalani bulan suci Ramadan.

Filosofi ini memang mengandung nilai moral yang dalam, tetapi tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam secara langsung.

Sementara itu, sabrang hijau atau sayuran hijau yang sering disajikan dalam perayaan Idul Fitri lebih mencerminkan keseimbangan nutrisi dan keberlanjutan kehidupan.

Warna hijau sendiri dalam Islam sering dikaitkan dengan kemakmuran dan keberkahan.

Namun, mengaitkan hidangan ini dengan ajaran agama secara mutlak tentu bukan hal yang tepat, karena Islam tidak memiliki aturan spesifik mengenai makanan tertentu saat Lebaran.

Oleh karena itu, ketupat dan sabrang hijau lebih tepat disebut sebagai warisan budaya yang menyatu dengan perayaan Idul Fitri, bukan sebagai bagian dari ritual keagamaan.

Tradisi ini memperkaya pengalaman Lebaran, mengajarkan filosofi sosial, dan menjadi simbol kebersamaan dalam keluarga.

Namun, penting untuk memahami bahwa esensi Idul Fitri bukan terletak pada jenis makanan yang disajikan, melainkan pada nilai spiritualnya—kembali kepada fitrah, mempererat silaturahmi, dan memohon ampunan dari sesama.

Pada akhirnya, tidak masalah jika masyarakat terus mempertahankan sajian ketupat dan sabrang hijau sebagai bagian dari perayaan Idul Fitri, selama tidak menjadikannya sebagai keharusan agama.

Tradisi harus tetap dipahami dalam konteksnya, agar tidak terjebak dalam mitos yang keliru.

Sebab, lebih dari sekadar hidangan, Idul Fitri adalah tentang kembali kepada kesucian jiwa dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Kota Cirebon,04/04/2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *