Categories: umum

MENJAGA KEWARASAN BERNEGARA DI TENGAH POLITIK PENCITRAAN

Ketika citra lebih dipoles daripada kerja, demokrasi kehilangan kedalaman.

Oleh: Bahrudin El-Shiraaz
Penulis dan Pegiat Pemikiran Keislaman Kontemporer

Di era banjir informasi dan kompetisi citra yang semakin agresif, negara menghadapi tantangan baru: bukan sekadar bagaimana membuat kebijakan yang baik, tetapi bagaimana mempertahankan kewarasan publik di tengah politik yang semakin menyerupai panggung pertunjukan.

Hari ini, ukuran keberhasilan sering kali bergeser. Bukan lagi seberapa kuat kebijakan menyelesaikan persoalan rakyat, melainkan seberapa menarik narasi yang dibangun di ruang publik. Kamera bekerja lebih cepat daripada evaluasi. Potongan video lebih menentukan daripada laporan kebijakan. Dan pencitraan sering kali tampil lebih meyakinkan daripada kenyataan.

Politik pencitraan pada dirinya bukan sesuatu yang sepenuhnya salah. Dalam demokrasi modern, komunikasi publik adalah kebutuhan. Pemerintah memang harus menjelaskan program, menunjukkan hasil, dan membangun kepercayaan. Namun persoalan muncul ketika komunikasi menggantikan substansi, ketika simbol mengambil alih isi, dan ketika popularitas dianggap identik dengan keberhasilan.

Negara yang sehat dibangun oleh keberanian mengambil keputusan sulit, bukan sekadar kemampuan menciptakan kesan. Jalan yang rusak tidak selesai dengan slogan. Harga kebutuhan pokok tidak turun dengan konten digital. Kesenjangan sosial tidak teratasi hanya karena narasi optimistis diproduksi setiap hari.

Yang lebih berbahaya, politik pencitraan sering melahirkan budaya anti-kritik. Kritik dianggap gangguan. Pertanyaan dianggap ancaman. Padahal dalam negara demokratis, kritik adalah instrumen koreksi, bukan tindakan permusuhan. Pemerintahan yang matang tidak takut diuji; justru memperkuat legitimasi melalui keterbukaan.

Dalam perspektif etika politik dan nilai keislaman, kepemimpinan tidak diukur dari kemampuan tampil, tetapi kemampuan memikul amanah. Kekuasaan bukan ruang untuk dipuja, melainkan sarana menghadirkan keadilan. Tradisi intelektual Islam sejak awal mengingatkan bahwa pemimpin yang baik bukan yang paling sering terlihat, tetapi yang paling besar manfaatnya.

Kewarasan bernegara menuntut masyarakat yang tidak mudah terpesona oleh kemasan. Publik perlu kembali bertanya: apakah kebijakan ini efektif? Apakah anggaran digunakan tepat sasaran? Apakah keputusan diambil berdasarkan kebutuhan rakyat atau kebutuhan mempertahankan citra?

Demokrasi yang dewasa tidak lahir dari tepuk tangan tanpa evaluasi. Demokrasi tumbuh dari warga yang berpikir, media yang independen, dan pemimpin yang siap dikritik.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang paling banyak tampil di layar—melainkan siapa yang benar-benar bekerja untuk rakyat.

Menjaga kewarasan bernegara berarti menjaga jarak dari euforia pencitraan dan tetap berpihak pada akal sehat, etika, serta keberanian mengatakan yang benar.

Abah Roy / Rohiman

Recent Posts

Wali Kota Langsa Tinjau Genangan Air Pascahujan, Instruksikan OPD Sigap Tangani Titik-Titik Rawan

Kota Langsa – Aswinnews. com- Wali Kota Langsa, Jeffry Sentana S. Putra, S.E., turun langsung…

5 jam ago

DPP F-HUKATAN KSBSI HOLDS BPJS KETENAGAKERJAAN SOCIALIZATION WORKSHOP

Effort to Increase Protection for Workers in 5 Sectors in Lampung Province under the HUKATAN…

5 jam ago

DPP F-HUKATAN KSBSI Gelar Workshop Sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan, Perkuat Perlindungan Buruh Lima Sektor di Lampung

BANDAR LAMPUNG – Aswinnews.com – Dewan Pengurus Pusat Federasi Serikat Buruh Kehutanan, Industri Umum, Perkayuan,…

6 jam ago

Bupati Asmar Sambut Lawatan Persatuan Ketua Kampung Negeri Melaka, Perkuat Kerja Sama Serumpun Indonesia-Malaysia

MERANTI, Aswinnews.com – Bupati Kepulauan Meranti, AKBP (Purn) H. Asmar, menyambut secara resmi kunjungan lawatan…

6 jam ago

Pasien Batuk Parah, Sesak hingga Kejang Mengaku Tidak Mendapat Pelayanan IGD RSUD M. Yunus, Dinkes Diminta Lakukan Evaluasi

BENGKULU – Aswinnews.com – Seorang warga Kota Bengkulu bernama Miya mengaku tidak mendapatkan pelayanan di…

12 jam ago

Unfit Indonesian Rupiah Banknotes Transformed into Green Energy, Bank Indonesia and Solusi Bangun Andalas Collaborate in Aceh

LHOKNGA – Aswinnews.com – Indonesian Rupiah banknotes that are no longer fit for circulation have…

13 jam ago