Teknologi Karya Anak Aceh Hadirkan Mata Air Harapan bagi Pengungsi Aceh Tamiang

BANDA ACEH – AswinNews.com — Di tengah sunyi hutan dan getir kehidupan pascabencana, ketika air bersih menjadi barang mewah yang harus diperjuangkan dengan berjalan kaki ratusan meter, hadir sosok Said Zulhasri bersama timnya yang membuktikan bahwa ilmu dan kepedulian dapat menjelma menjadi rahmat bagi sesama.

Dengan pengalaman panjang di bidang pengolahan air bersih, Said dan tim berhasil menghadirkan solusi nyata bagi puluhan warga yang tinggal di hunian sementara (huntara) Batang Ara, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang.
Keterbatasan Air yang Menyiksa
Selama hampir tiga bulan, sebanyak 20 kepala keluarga di lokasi tersebut hidup dalam keterbatasan. Sumur bor yang tersedia menghasilkan air berwarna kuning, keruh, dan berbau karat menyengat sehingga tidak layak digunakan untuk memasak, mencuci, maupun kebutuhan sehari-hari.

Dalam keterpaksaan, warga harus berjalan sekitar 600 meter demi mendapatkan air bersih. Untuk mandi dan sanitasi, sebagian warga bahkan bergantung pada fasilitas masjid terdekat.

Namun di balik kesulitan itu, Allah menghadirkan jalan keluar melalui tangan Said dan seluruh anggota timnya.
Kepedulian Menjawab Panggilan Kemanusiaan
Perjalanan kemanusiaan ini bermula ketika pimpinan BNPB, Berton Panjaitan, menghubungi Said Zulhasri dan meminta bantuannya untuk mengatasi persoalan air bersih di kawasan pengungsian tersebut.

Tanpa banyak pertimbangan, Said langsung menyatakan kesiapannya bersama tim yang telah lama bekerja bersamanya.

“Beliau bertanya apakah saya sanggup membantu mengolah air di sana. Saya jawab, Insya Allah sanggup dan tim saya juga siap mendukung sepenuhnya,” ujar Said.

Bagi Said dan timnya, kata “Insya Allah” bukan sekadar ucapan, melainkan janji untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

Menembus Medan Sulit Demi Kemanusiaan
Pada 9 Mei 2026, Said dan seluruh tim bergerak menuju lokasi huntara Batang Ara.

Perjalanan yang ditempuh bukan perjalanan biasa. Mereka harus menggunakan sepeda motor, menyeberangi sungai dengan rakit sederhana, hingga melintasi jembatan gantung yang menantang.

Seluruh anggota tim bergotong royong membawa peralatan berat dan bahan instalasi pengolahan air.

“Medan yang kami lalui cukup menantang, tetapi semangat kami semakin tinggi karena tahu banyak orang yang menunggu bantuan kami,” ujar salah satu anggota tim.

Empat Jam Kerja yang Mengubah Kehidupan
Setibanya di lokasi, pemasangan instalasi pengolahan air langsung dimulai pada 10 Mei 2026 pukul 14.00 WIB. Berkat kerja sama yang solid dan pengalaman panjang di lapangan, hanya dalam waktu empat jam, tepat pukul 18.00 WIB, air bersih mulai mengalir ke hunian warga.

Proses penyempurnaan sistem selesai pada 14 Mei 2026. Kini warga tidak lagi harus berjalan jauh hanya untuk memperoleh air bersih. Cukup membuka keran, air jernih pun mengalir ke tempat tinggal mereka.

Teknologi Karya Anak Aceh
Teknologi yang digunakan Said dan timnya adalah sistem penyaringan empat tahap yang mereka tekuni dan kembangkan secara mandiri sejak tahun 2010. Sistem tersebut mampu menyaring partikel halus, logam, dan zat terlarut sehingga menghasilkan air yang jernih dan layak digunakan.

Hasilnya sangat signifikan. Sebelum diolah, kadar Total Dissolved Solid (TDS) air mencapai 189 mg/liter. Setelah melalui proses penyaringan, angka tersebut turun menjadi 91 mg/liter.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa ilmu pengetahuan yang dipadukan dengan kepedulian mampu mengubah keterbatasan menjadi harapan.

Memberdayakan Warga Secara Berkelanjutan
Tidak hanya memasang instalasi, Said dan timnya juga memberikan pelatihan kepada salah seorang perempuan penghuni huntara agar mampu mengoperasikan dan merawat sistem secara mandiri.

Mereka menjelaskan fungsi setiap bagian alat, cara perawatan, hingga langkah penanganan jika terjadi gangguan kecil.

Dengan demikian, teknologi tersebut tidak berhenti sebagai bantuan sesaat, tetapi menjadi solusi jangka panjang yang dapat dimanfaatkan oleh penghuni huntara maupun masyarakat sekitar.

Dari Pedalaman Aceh ke Mancanegara
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa putra-putri daerah Aceh memiliki kemampuan luar biasa dalam menjawab persoalan masyarakat melalui inovasi yang lahir dari pengalaman dan ketekunan.

Lebih membanggakan lagi, produk pengolahan air bersih karya Said dan timnya kini kebanjiran pesanan dari berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri.

Seluruh pesanan dikerjakan bersama anak-anak muda Aceh yang memiliki semangat tinggi untuk berkarya dan mengabdi kepada masyarakat.

Kerja Tim, Sejuta Harapan
Di Batang Ara, air yang mengalir hari ini bukan sekadar cairan bening. Ia adalah simbol kepedulian, kerja keras, dan bukti bahwa di tengah keterbatasan masih ada orang-orang yang bekerja tanpa pamrih demi kesejahteraan sesama.

Said Zulhasri dan timnya mengajarkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium megah atau gedung bertingkat tinggi. Kadang, ia lahir dari hati yang peduli dan tekad untuk membuat hidup orang lain menjadi lebih baik.

Aceh patut berbangga. Karena di tanah yang kaya sejarah ini masih lahir generasi yang menjadikan ilmu sebagai ibadah dan teknologi sebagai jalan pengabdian.

Dan dari pedalaman Aceh Tamiang, setetes air bersih mengalir membawa pesan mendalam: selama masih ada orang-orang seperti Said Zulhasri dan timnya, harapan akan selalu menemukan jalannya.

Bagi masyarakat maupun instansi yang membutuhkan layanan pengolahan air bersih, Said Zulhasri dan timnya dapat dihubungi melalui nomor 0852-7777-7366.

🖊️ Laporan Jurnalis: Drs. M. Isa Alima
✍️ Editor: Abah Roy | Redaksi AswinNews.com – Tajam, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *