OPINI

Menyoal Dampak “Sitasi Jurnal Mafia” dalam Perebutan Jabatan Akademik

Antara Ambisi Akademik, Kapitalisasi Ilmu, dan Krisis Moral Intelektual

Oleh :
Teuku Muhammad Jamil
Alumnus Program Doktor (S3) Ilmu Sosial, Universitas Airlangga, Surabaya
Ketua Program Doktor (S3) Pendidikan IPS, Sekolah Pascasarjana USK, Aceh (2014 – 2022)

Di tengah meningkatnya tuntutan publikasi ilmiah untuk kenaikan jabatan akademik, dunia kampus justru sedang menghadapi ironi besar: ilmu pengetahuan yang seharusnya menjadi ruang kejujuran intelektual, perlahan berubah menjadi arena transaksi angka, manipulasi sitasi, dan industri akademik semu. Mafia sitasi tumbuh subur bagai jamur di musim hujan.

Hari ini, ukuran kualitas seorang akademisi tidak lagi sekadar dilihat dari kedalaman gagasan, kebermanfaatan ilmu, atau kontribusinya terhadap masyarakat. Yang sering menjadi “dewa penentu” justru angka sitasi, indeks jurnal, dan reputasi platform publikasi. Dalam situasi inilah lahir fenomena yang oleh banyak kalangan disebut sebagai “jurnal mafia” — sebuah praktik manipulatif dalam ekosistem publikasi ilmiah yang menjadikan sitasi sebagai komoditas dagang demi kepentingan jabatan akademik.

Fenomena ini bukan sekadar pelanggaran etik biasa. Ia adalah ancaman serius terhadap marwah universitas, integritas ilmu pengetahuan, dan masa depan pendidikan tinggi.

Ketika Ilmu Dijadikan Komoditas Kekuasaan

Dalam teori knowledge-power Michel Foucault, ilmu dan kekuasaan selalu saling terkait. Pengetahuan tidak pernah netral karena sering dipakai sebagai instrumen legitimasi kekuasaan. Dalam konteks akademik hari ini, sitasi bukan lagi hanya alat pengukuran dampak ilmiah, melainkan telah menjelma menjadi alat perebutan status, jabatan, proyek, dan pengaruh.

Akibatnya, sebagian akademisi tidak lagi fokus membangun gagasan besar, tetapi sibuk membangun jaringan sitasi. Muncullah praktik citation cartel, saling menyitasi dalam kelompok tertentu, memaksakan referensi dari jurnal tertentu, bahkan menjual jasa publikasi dan sitasi demi memenuhi syarat administratif kenaikan jabatan akademik.

Ilmu akhirnya kehilangan ruh moralnya.

Padahal universitas lahir bukan untuk mencetak pemburu gelar dan pemburu angka, tetapi melahirkan manusia yang berpikir jujur dan berani membela kebenaran.

Ketika angka lebih dihormati daripada integritas, maka akademisi perlahan berubah menjadi birokrat statistik.

Sitasi yang Dipaksakan : Korupsi Intelektual Modern

Banyak orang mengira korupsi hanya terjadi dalam bentuk uang dan proyek. Padahal manipulasi sitasi adalah bentuk lain dari korupsi intelektual. Ia mungkin tidak mencuri anggaran negara secara langsung, tetapi mencuri kepercayaan publik terhadap dunia akademik.

Bayangkan jika seorang dosen memperoleh jabatan profesor bukan karena kualitas pemikirannya, melainkan karena rekayasa sitasi dan publikasi semu. Maka yang lahir bukan otoritas ilmiah, tetapi otoritas administratif yang dipoles algoritma.

Lebih berbahaya lagi, praktik ini menciptakan ketidakadilan akademik. Banyak peneliti jujur yang bekerja bertahun-tahun dengan riset serius justru kalah dari mereka yang mahir memainkan jaringan jurnal predator dan manipulasi sitasi.

Inilah bentuk kapitalisme akademik paling brutal: ilmu dibeli, reputasi diperdagangkan, dan kehormatan intelektual dilelang. Sungguh memalukan.

Dalam perspektif Pierre Bourdieu, arena akademik seharusnya menjadi ruang pertarungan capital intellectuel — modal intelektual. Namun yang terjadi kini justru dominasi symbolic capital palsu, di mana simbol-simbol akademik diproduksi secara artifisial untuk memperoleh legitimasi sosial.

Gelar menjadi dekorasi. Publikasi menjadi industri. Sitasi menjadi transaksi.

Krisis Moral Perguruan Tinggi

Yang paling mengkhawatirkan bukan sekadar praktik mafia jurnal itu sendiri, tetapi normalisasi terhadap praktik tersebut. Ketika kampus mulai menganggap manipulasi sitasi sebagai “strategi biasa”, maka sesungguhnya perguruan tinggi sedang mengalami degradasi moral.

Universitas Kehilangan Fungsi Etiknya.

Padahal kampus bukan pabrik sertifikat. Kampus adalah benteng moral peradaban. Jika benteng itu runtuh, maka bangsa akan dipimpin oleh kaum intelektual tanpa integritas.

Sejarah menunjukkan bahwa kehancuran peradaban sering kali dimulai ketika kaum cendekiawan berhenti jujur. Bukan karena mereka tidak pintar, tetapi karena kecerdasan mereka dijual untuk kepentingan pribadi.

Kita harus berani mengatakan :
akademisi yang memanipulasi sitasi demi jabatan sesungguhnya sedang mengkhianati ilmu pengetahuan itu sendiri.

Jabatan Akademik Bukan Tujuan Suci

Menjadi profesor adalah kehormatan intelektual, bukan sekadar target administratif. Profesor bukan hanya soal jumlah publikasi, tetapi soal kedalaman pemikiran, keteladanan moral, dan kontribusi nyata terhadap masyarakat.

Jika jabatan akademik hanya dikejar melalui permainan angka, maka kampus akan dipenuhi “profesor administratif” tetapi miskin pemikiran besar.

Kita mungkin akan memiliki ribuan publikasi, tetapi kehilangan satu hal yang paling penting : kejujuran ilmiah.

Di sinilah perlunya reformasi mendasar dalam sistem penilaian akademik. Negara dan perguruan tinggi tidak boleh hanya terpaku pada kuantitas sitasi dan indeks jurnal. Harus ada penilaian yang lebih substantif terhadap dampak sosial ilmu, kualitas pemikiran, integritas akademik, dan kontribusi nyata kepada bangsa.

Sebab ilmu yang besar tidak selalu lahir dari jurnal bereputasi tinggi. Kadang ia lahir dari keberanian berpikir jujur.

Menyelamatkan Marwah Akademik

Kita tidak anti publikasi. Kita juga tidak anti sitasi. Yang harus dilawan adalah manipulasi, industrialisasi semu, dan mafia akademik yang merusak kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan tinggi.

Kampus harus kembali menjadi rumah kejujuran intelektual, bukan pasar transaksi reputasi.

Jika tidak, maka generasi mendatang akan belajar satu hal yang sangat berbahaya : bahwa dalam dunia akademik, yang penting bukan kualitas ilmu, tetapi kemampuan memainkan sistem.

Dan ketika itu terjadi, universitas tidak lagi melahirkan pemikir besar, melainkan hanya produsen legitimasi kosong.

Ilmu pengetahuan akhirnya kehilangan makna sucinya.
Dan profesor tinggal menjadi gelar, bukan cahaya peradaban.

Warkop Pojok Kampus, Mei 2026

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *