Oplus_16908288
Oleh:
Dr. Drs. T.M. Jamil, M.Si
Guru Ilmu Sosial dan Politik pada Sekolah Pascarjana USK
Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh
Aswinnews.com l
SETIAP tanggal 2 Mei, bangsa ini kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Upacara dilaksanakan. Spanduk dipasang. Pidato tentang “mencerdaskan kehidupan bangsa” kembali dikumandangkan. Namun di balik seluruh seremoni itu, ada pertanyaan mendasar yang semakin sulit dijawab secara jujur : apakah pendidikan kita masih membentuk manusia beradab, atau justru sedang memproduksi generasi akademik yang kehilangan karakter, disiplin, dan rasa hormat terhadap ilmu?
Hardiknas perlahan berubah menjadi ritual simbolik yang miskin keberanian reflektif. Pendidikan dibicarakan dalam bahasa formal dan penuh slogan, tetapi krisis moral di sekolah dan kampus justru semakin nyata dan vulgar. Guru dan dosen semakin serius mengajar, sementara sebagian peserta didik justru semakin kehilangan kesungguhan belajar. Tugas dikerjakan asal-asalan. Kehadiran akademik diabaikan. Budaya membaca melemah. Tradisi berpikir kritis dangkal. Etika akademik runtuh perlahan di tengah budaya instan dan kemalasan intelektual.
Lebih ironis lagi, ketika nilai rendah diperoleh akibat kelalaian sendiri, guru dan dosen justru dipersalahkan. Ketika diberi sanksi akademik karena pelanggaran disiplin, pendidik malah menjadi sasaran tekanan, intimidasi, bahkan fitnah yang direkayasa secara sistematis. Dunia pendidikan akhirnya bergerak menuju situasi absurd: murid semakin sulit dikoreksi, sementara guru semakin takut mendidik dengan tegas.
Fenomena ini hari ini tidak hanya terjadi pada siswa SMA atau mahasiswa strata satu. Bahkan pada level magister dan doktoral, gejala degradasi akademik semakin mengkhawatirkan. Ada mahasiswa S2 dan S3 yang miskin tradisi membaca, lemah dalam metodologi berpikir, rapuh dalam argumentasi ilmiah, tetapi ingin cepat menyandang gelar demi status sosial, jabatan birokrasi, dan legitimasi politik.
Akibatnya, kampus perlahan kehilangan marwah intelektualnya. Universitas tidak lagi dipandang sebagai ruang pencarian ilmu dan pembentukan karakter, tetapi berubah menjadi pabrik sertifikasi sosial. Gelar akademik menjadi simbol prestise, bukan cerminan kedalaman ilmu.
Kita sedang menghadapi fenomena berbahaya : inflasi gelar tetapi defisit integritas.
Setiap tahun, ribuan sarjana, magister, dan doktor dilahirkan. Namun pada saat yang sama, bangsa ini justru semakin miskin keteladanan, kejujuran, rasa malu, dan penghormatan terhadap ilmu. Literasi digital meningkat pesat, tetapi kedalaman berpikir semakin dangkal. Banyak yang ingin cepat terkenal, tetapi malas berproses. Banyak yang ingin sukses instan, tetapi alergi terhadap disiplin dan pengorbanan intelektual.
Lebih menyedihkan lagi, sebagian institusi pendidikan ikut memperparah situasi ini. Banyak sekolah dan kampus kehilangan keberanian moral untuk bersikap tegas. Mahasiswa bermasalah dipertahankan demi kepentingan angka kelulusan. Data Drop Out (DO) sering disembunyikan demi menjaga citra institusi dan akreditasi. Pelanggaran akademik dan plagiasi karya ilmiah atau proyek pembuatan karya ilmiah untuk publikasi jurnal, acapkali diselesaikan secara kompromistis agar tidak menimbulkan “keributan”. Sungguh tak mencerminkan budaya insan terdidik.
Pendidikan akhirnya terjebak dalam budaya manipulasi administratif : yang penting angka kelulusan tinggi, citra kampus aman, dan reputasi tetap terlihat baik di permukaan.
Padahal pendidikan yang sehat bukan pendidikan yang menutupi penyakitnya sendiri, melainkan pendidikan yang berani jujur terhadap krisis yang sedang dihadapinya.
Inilah paradoks besar pendidikan Indonesia hari ini : generasi muda sangat vokal berbicara tentang demokrasi, hak asasi manusia, moralitas publik, dan perubahan sosial, tetapi sering gagal menunjukkan moral dasar dalam kehidupan akademiknya sendiri—disiplin, tanggung jawab, kejujuran, penghormatan kepada guru, dan kesungguhan mencari ilmu.
Mereka ingin dihargai, tetapi enggan menghargai. Menuntut hak, tetapi alergi terhadap kewajiban. Berbicara tentang perubahan, tetapi malas memperbaiki dirinya sendiri.
Kita perlu mengatakan ini secara jujur : problem terbesar pendidikan Indonesia hari ini bukan semata-mata soal kurikulum, teknologi, digitalisasi, atau fasilitas. Masalah paling serius kita adalah krisis karakter dan hilangnya adab dalam dunia pendidikan.
Kita terlalu sibuk membangun gedung, tetapi lupa membangun jiwa. Terlalu sibuk mengejar ranking dan akreditasi, tetapi lalai membentuk manusia yang matang secara moral dan intelektual.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bangsa ini tidak sedang menuju Indonesia Emas 2045, melainkan sedang berjalan perlahan menuju krisis peradaban. Sebab kehancuran bangsa tidak selalu dimulai dari runtuhnya ekonomi atau kekalahan militer. Banyak bangsa hancur ketika generasi mudanya kehilangan adab, kehilangan rasa hormat terhadap ilmu, dan kehilangan kesadaran bahwa pendidikan sejatinya adalah proses pembentukan jiwa, bukan sekadar alat memperoleh ijazah.
Dalam tradisi intelektual Timur, guru bukan sekadar pengajar, tetapi penjaga peradaban. Guru dan dosen adalah penjaga akal sehat, penjaga nilai, dan benteng moral bangsa. Ketika guru kehilangan wibawa di hadapan muridnya sendiri, maka sesungguhnya negara sedang kehilangan fondasi etiknya.
Hari ini hubungan antara peserta didik dan pendidik semakin bergeser menjadi hubungan transaksional. Sekolah dan kampus dipandang seperti tempat membeli layanan akademik. Mahasiswa merasa sebagai “konsumen” yang harus selalu dilayani, sementara dosen diposisikan hanya sebagai penyedia jasa pendidikan. Akibatnya, penghormatan terhadap ilmu perlahan mati. Pendidikan kehilangan ruhnya.
Hardiknas seharusnya menjadi momentum nasional untuk melakukan introspeksi besar-besaran. Pendidikan tidak boleh hanya melahirkan manusia pintar, tetapi harus melahirkan manusia yang tahu malu ketika berbuat curang, tahu hormat kepada guru, tahu tanggung jawab terhadap ilmu, dan sadar bahwa kesuksesan tanpa moral hanyalah kehancuran yang ditunda.
Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang cerdas. Yang semakin langka adalah manusia berkarakter.
Jika sekolah dan kampus gagal membentuk karakter, maka sesungguhnya kita sedang menyiapkan “lost generation”: generasi yang memiliki gelar tetapi kehilangan arah hidup ; generasi yang fasih berbicara tentang perubahan tetapi gagal memperbaiki dirinya sendiri ; generasi yang menguasai teknologi tetapi miskin kebijaksanaan. Dan ketika itu terjadi, maka ancaman terbesar bangsa ini bukan lagi kemiskinan ekonomi, melainkan kemiskinan moral.
Pojok Kampus USK, 2 Mei 2026
Plered, Purwakarta – Aswinnews.comPemilihan Kepala Desa Antar Waktu (PAW) Desa Liunggunung, Kecamatan Plered, menjadi sorotan…
Tasikmalaya-AswinNews.Com-1 Mei 2026 – Cabang Dinas Pendidikan (Cadisdik) Wilayah XII menggelar Workshop Transformasi Pembelajaran Inovatif…
Bandung-AswinNews.Com-Momentum peringatan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei 2026 kembali menjadi perhatian berbagai kalangan, termasuk…
Kuantan Singingi Aswinnews.com– Praktik pelangsiran bahan bakar minyak (BBM) dalam skala besar diduga terjadi secara…
Cirebon – AswinNews.com — Pemilihan Ketua RW 15 Perum Nuansa Majasem, Kelurahan Karya Mulya, Kecamatan…
LANGKAT, Aswinnews.com – Penyaluran Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD) Tahun Anggaran 2026 di…