Keselamatan Dianggap Wajar, Risiko Dianggap Biasa

Kabupaten Lombok Tengah – AswinNews.com — 10 Februari 2026
Di tengah upaya membangun citra pariwisata yang aman dan berkelas, publik justru disuguhi narasi yang menenangkan: ketika sebuah insiden terjadi, semuanya disebut wajar.

Kalimatnya singkat, terdengar ringan, namun menyimpan makna yang berat.

Sejak kapan keselamatan publik menjadi sesuatu yang bisa dinormalisasi? Jika risiko dianggap biasa, maka pertanyaan yang tak terelakkan adalah: untuk apa standar keselamatan, pengawasan, dan evaluasi disusun?
Alih-alih menghadirkan penjelasan berbasis data serta langkah korektif yang jelas, respons yang muncul justru cenderung meredam persoalan dengan bahasa normatif. Seolah-olah masalah akan selesai hanya dengan menurunkan ekspektasi publik, bukan dengan memperbaiki sistem.

Baca juga Aceng Syamsul Hadie: Agresi AS terhadap Venezuela dan Penculikan Presiden adalah Ujian Terberat Hukum Internasional

Padahal, wisatawan tidak datang untuk menguji keberanian atau menyesuaikan diri dengan risiko. Mereka datang dengan harapan paling mendasar: aman. Aman secara fisik, aman secara psikologis, dan aman karena percaya bahwa penyelenggara benar-benar bertanggung jawab.

Ketika keselamatan diposisikan sebagai sesuatu yang “lumrah”, rasa aman perlahan berubah menjadi keraguan.

Kepercayaan publik pun terkikis, bukan oleh insiden semata, melainkan oleh cara merespons insiden tersebut.

Kritik yang muncul dari masyarakat sering kali dianggap sebagai gangguan.

Padahal, kritik adalah alarm. Dan alarm berbunyi bukan karena keadaan terkendali, melainkan karena ada sesuatu yang perlu segera dibenahi.

Di ruang publik, sindiran pun bermunculan: jika semua dianggap wajar, maka standar keselamatan tak lebih dari formalitas. Evaluasi menjadi opsional, dan tanggung jawab cukup diselesaikan dengan pernyataan.

Hingga kini, langkah konkret yang menunjukkan bahwa keselamatan benar-benar menjadi prioritas masih dinantikan.

Publik pun bertanya: apakah keselamatan berada di urutan utama, atau hanya menjadi catatan kecil di balik ambisi promosi dan angka kunjungan?
Karena pada akhirnya, keselamatan bukan soal wajar atau tidak.

Ia adalah soal tanggung jawab.

Penulis: Jaswadi

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *