Penulis: Drs. M. Isa Alima | Editor: Rahmat Kartolo
Aswinnews – Tajam, Berimbang, dan Ter-Update
Pidie, Aswinnews.com — 1 Desember 2025
Di balik endapan lumpur dan kesunyian yang menebal pasca banjir besar di Aceh, satu seruan menggema keras: selamatkan lebih dulu warga yang terjebak di daerah terisolir. Hasil pemantauan lapangan menunjukkan masih banyak wilayah yang hingga hari ini terputus total dari akses darat—tanpa sandang, pangan, penerangan, maupun kabar dari dunia luar.
“Wilayah yang mudah dijangkau bisa menyusul. Yang terisolir ini, sedikit kurang awas saja, masyarakat di sana bisa mati kelaparan,” tegas pemerhati publik, Isa Alima, dengan nada yang memadukan kecemasan dan harapan.
Isa mendesak pemerintah dan otoritas penanganan bencana untuk mengubah prioritas secara tegas: bantuan harus dikirim cepat, bukan menunggu laporan berikutnya.
Menurutnya, armada helikopter adalah opsi paling efektif menembus lokasi-lokasi yang kini menjadi “pulau-pulau terputus” di tengah banjir—lembah yang tertutup longsor, kampung yang jalannya lenyap disapu arus, hingga dataran yang terbelah menjadi kantong-kantong darurat.

“Gunakan heli, terbangkan bantuan sekarang juga. Sertakan relawan dari Posko Komando Bencana. Mereka harus tiba sebelum malam-malam berikutnya menelan harapan warga,” pintanya.
Kebutuhan Warga di Daerah Terisolir: Kritis dan Mendesak
Isa menjelaskan bahwa kondisi “terisolir” bukan sekadar tak dapat dijangkau kendaraan. Lebih dari itu, banyak wilayah kini benar-benar terputus dari sumber daya dasar untuk bertahan hidup.
Pangan: stok rumah tangga diperkirakan hanya cukup untuk 1–2 hari.
Sandang: banyak keluarga kehilangan pakaian, selimut, dan perlengkapan darurat.
Penerangan: malam tiba tanpa lampu, menghadirkan dingin, ketakutan, dan ketidakpastian.
Komunikasi: jaringan terputus total—tidak ada kabar, tidak ada seruan bantuan yang bisa keluar.
“Ketika suara warga tak bisa keluar dari gelap, maka negara mesti masuk membawa terang,” ujar Isa, lirih namun menghentak.
Ajak Semua Unsur Bergerak Tanpa Birokrasi Menghambat
Isa menutup seruannya dengan mengajak seluruh unsur pemerintah, TNI–Polri, BNPB, hingga relawan sipil untuk bergerak cepat, terorganisir, dan tidak terpaku pada alur birokrasi yang memperlambat upaya penyelamatan.
“Aceh sedang diuji. Jangan biarkan saudara-saudara kita menunggu sampai harapan mereka redup. Terbangkan bantuan sekarang, ke semua titik yang masih terkepung bencana.”
Di tengah langit muram pasca banjir, seruan ini menjadi pengingat bahwa empati belum padam. Aceh, meski terluka, tetap menyimpan hati yang tak rela satu nyawa pun hilang hanya karena bantuan datang terlambat.
Redaksi Aswinnews.com
![]()
