🖋️ Penulis: Ine, | laporan Oleh: Laksamana Sukardi
✍️ Editor: Kenzo,| Redaksi Aswinnews.com – Tajam, Akurat, Terpercaya, dan Ter-Update
Jakarta – aswinnews.com | Dalam dunia politik dan ekonomi Indonesia, ada dua jenis kelompok vokalis. Pertama, mereka yang bersuara lantang karena belum atau tidak kebagian rezeki, jabatan, dan kekuasaan. Kedua, mereka yang benar-benar fanatik pada ideologi yang diyakininya—yang bersedia hidup dan mati untuk memperjuangkannya.
Kwik Kian Gie adalah representasi murni dari kelompok kedua itu. Ia bukan hanya vokalis intelektual, melainkan seorang pejuang ideologis yang bersuara karena keyakinan, bukan kepentingan.
Dalam perjalanan panjang sejarah ekonomi Indonesia—sejak Orde Baru hingga era reformasi—pemikiran ekonomi Kwik yang condong pada sosialisme dan keberpihakan terhadap wong cilik tak pernah benar-benar mendapat tempat yang layak di panggung kebijakan negara. Meski demikian, ia tidak berhenti menyuarakannya.
Saya mengenal Pak Kwik ketika kami sama-sama berada di Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pimpinan Suryadi pada tahun 1991, sebelum akhirnya berlanjut ke PDI Perjuangan. Pada masa itu, pemikiran ekonomi kerakyatan beliau tampak bersesuaian dengan semangat perjuangan Megawati yang membela kaum marjinal. Kwik menemukan habitat ideologisnya.
Ia menjadi vokalis utama ekonomi kerakyatan, melawan dominasi gagasan-gagasan arus utama yang dibentuk oleh kelompok ekonom yang dikenal sebagai “Berkeley Mafia” di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Widjojo Nitisastro, yang menurut Kwik terlalu dipengaruhi oleh pendekatan ekonomi Amerika.
Diskusi-diskusi saya dengan beliau selalu memunculkan kekaguman. Ia idealis, berani, dan sangat percaya diri, bahkan fanatik pada prinsip-prinsip ekonomi kerakyatan yang ia pelajari semasa mahasiswa di Belanda dan aktivitasnya di lingkaran pergerakan mahasiswa sosialis.
Namun, idealisme sering kali membawa seseorang ke jalan sunyi. Kekecewaan mendalam pun dirasakan Pak Kwik ketika Megawati, yang ia harapkan sebagai pemimpin revolusi ekonomi wong cilik, justru lebih memilih ekonom dari arus utama untuk mengisi pos strategis kabinet. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti dan Boediono menjadi arsitek kebijakan ekonomi, sementara gagasan Kwik tak diberi ruang.
Meskipun demikian, beliau tetap setia pada prinsipnya: terus bersuara, bahkan dari dalam pemerintahan, tanpa takut kehilangan jabatan atau pengaruh. Ia tetap konsisten, bahkan ketika harus kecewa dan sendiri.
Indonesia patut berbangga pernah memiliki seorang Kwik Kian Gie, ekonom yang memilih “jalan sunyi”—the road less travelled—demi mempertahankan ideologi dan integritasnya.
Saya merasa sangat beruntung mengenal beliau secara pribadi. Ia bukan sekadar ekonom, tapi pejuang pemikiran yang tulus. Di dunia yang makin pragmatis ini, sosok seperti Kwik adalah oase langka.
Selamat jalan, Pak Kwik. Suara kritismu akan terus hidup dalam ingatan bangsa.
![]()
