Wiwit Kopi Segunung: Syukur Panen dan Pesta Budaya di Tanah Wonosalam

Tradisi, Tumpeng, dan Aroma Kopi Hangat Menyatu di Kampung Adat

🖊️ Oleh: LR
📍 Editor: Kenzo | Redaksi ASWINNEWS.COM~
Tajam, Akurat, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update

WONOSALAM, JOMBANG — ASWINNEWS.COM | 14 Juni 2025
Selama dua hari berturut-turut, 13–14 Juni 2025, suasana Kampung Adat Segunung di Kecamatan Wonosalam dipenuhi kemeriahan budaya dan rasa syukur. Ribuan warga dan pengunjung berkumpul dalam gelaran “Wiwit Kopi”, tradisi tahunan sebagai bentuk rasa syukur atas panen raya kopi pertama yang melimpah.

Acara dibuka secara khidmat dengan syukuran dan doa bersama yang dipimpin oleh Ketua Adat Kampung Segunung, serta dihadiri oleh Haris Aminuddin Camat Wonosalam dan tokoh-tokoh masyarakat.


Lomba Sangrai Kopi Tradisional, Kembali ke Akar Rasa

Hari pertama diwarnai dengan Lomba Roasting Kopi Tradisional di Balai Ageng Giri Kedaton, tempat sakral bagi warga adat Segunung. Aroma kopi yang disangrai secara manual menyatu dengan suasana pegunungan, membawa peserta dan penonton pada pengalaman sensorik dan historis akan warisan cita rasa kopi Wonosalam.

Foto juara 1 Sangrai kopi
Foto Juara 2 Sangrai kopi
Foto Juara 3 Sangrai Kopi

Lomba ini memunculkan tiga pemenang terbaik, dinilai dari teknik sangrai, rasa, dan penguasaan tradisi pengolahan kopi.


Tumpeng dan Arak-Arakan, Persembahan dari Bumi ke Langit

Malam harinya, warga dari seluruh RT secara gotong royong menyiapkan tumpeng-tumpeng hasil bumi, mulai dari sayuran, umbi-umbian, hingga hasil ladang kopi. Tumpeng ini bukan sekadar makanan, tapi simbol penghormatan kepada alam, hasil kerja keras, dan harapan atas berkah yang berkelanjutan.

Puncak acara berlangsung Sabtu siang, dimulai dengan doa bersama di kebun kopi, lalu dilanjutkan dengan prosesi arak-arakan tumpeng dan hasil bumi menuju Balai Ageng Giri Kedaton. Warga mengenakan pakaian adat, membawa panji-panji, dan berjalan menyusuri jalan kampung dengan iringan musik tradisional.

Prosesi ini menjadi simbol pertemuan antara kerja keras petani dan restu alam, mengangkat nilai-nilai spiritual dalam kehidupan agraris masyarakat Wonosalam.


Kenduri Rakyat dan Gelar Budaya: Malam Syukur, Malam Kesenian

Usai arak-arakan, warga dan tamu undangan mengikuti kenduri bersama di pendopo. Sajian makanan tradisional disuguhkan sebagai bentuk syukur dan kebersamaan lintas generasi.

Malam harinya, suasana makin semarak dengan Gelar Budaya, menampilkan:

  • Tari Remo sebagai pembuka,
  • Karawitan Bocah Segunung,
  • serta Campursari Cahyo Manunggal yang membawa penonton larut dalam nuansa musik khas Jawa Timur.

Lentera-lentera minyak menyala di sudut-sudut kampung, menghadirkan kesan magis dan intim yang memperkuat nilai sakral dan kebersamaan dalam perayaan ini.


Pameran Potensi Lokal dan Sajian Kopi Gratis

Selama dua hari pelaksanaan, halaman Balai Ageng Giri Kedaton juga menjadi arena Pameran Potensi Kampung Adat Segunung, yang menampilkan:

  • Produk-produk UMKM lokal,
  • Olahan pangan khas desa,
  • Aneka kerajinan tangan,
  • Serta kopi dan susu gratis bagi pengunjung sebagai bentuk keramahtamahan warga Segunung.

Melestarikan Tradisi, Menguatkan Identitas Kopi Wonosalam

“Wiwit Kopi” bukan hanya perayaan panen, tetapi juga menjadi media pelestarian budaya, penguatan identitas lokal, dan pemberdayaan masyarakat. Di tengah gempuran budaya modern, tradisi ini menjadi pengingat bahwa akar budaya agrikultur dan rasa syukur kepada alam tetap hidup dan relevan.

Wonosalam, sebagai salah satu sentra kopi berkualitas di Jawa Timur, terus membuktikan bahwa kearifan lokal adalah kekuatan utama dalam membangun identitas ekonomi dan sosial masyarakat desa.


📌 Catatan Redaksi:

Dalam semerbak kopi, masyarakat Segunung menulis puisi syukur dengan langkah kaki dan kerja tangan. Mereka tidak sekadar memetik buah kopi, tetapi juga memanen ingatan, harapan, dan jati diri yang tumbuh di tanah sendiri.


Redaksi Media AswinNews

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *