Oleh Harry Warisman Syaputra | Editor: Kenzo – AswinNews.com
KAMPUNG TELUK SAMAK — Di bawah pohon kelapa yang bergoyang pelan oleh angin laut, Asmar berdiri memandangi cakrawala. Laut tak pernah benar-benar berubah, tapi kehidupan di pesisir itu—dan di pulau-pulau kecil sekitarnya—selalu menunggu perubahan. Hari itu, AKBP (Purn) H. Asmar tahu, panggilan pengabdian yang baru telah tiba.
Dari seorang perwira kepolisian, kini ia memikul amanah sebagai Bupati Kepulauan Meranti. Bukan lagi mengamankan hukum dengan seragam coklat, tapi merawat harapan rakyat dengan tangan terbuka.
Hari ke-1: Janji di Dermaga
Di Selatpanjang, di hadapan warga yang berdesakan di dermaga, Asmar melontarkan pidato pertamanya:
“Saya bukan pemimpin sempurna. Tapi saya akan berjalan bersama kalian. Langkah kecil ini adalah awal dari perjalanan yang besar.”
Sebagian warga menatapnya dengan percaya, sebagian lainnya masih ragu. Namun di mata anak-anak yang sekolahnya hampir rubuh, janji itu terdengar seperti jawaban atas doa yang lama terkatung.
Hari ke-15: Lumpur dan Lilin
Banjir tahunan kembali menyapa Desa Tanjung Sari. Saat banyak pejabat memilih rapat daring, Asmar datang langsung—menyingsingkan celana, menyelamatkan buku pelajaran, dan menginap di rumah warga yang hanya diterangi lilin.
“Mereka tak butuh kasihan. Mereka butuh kehadiran,” katanya.
Dan malam itu, ketulusan terasa lebih terang dari cahaya listrik.
Hari ke-36: Surat dari Anak Pulau
Dari Pulau Merbau, sebuah surat mungil datang.
“Pak Asmar, bisakah kami punya dokter? Nenek saya sering sakit. Sekolah kami juga tak ada guru IPA. Saya ingin jadi perawat.”
— Dinda, 11 tahun.
Asmar menatap surat itu lama. Keesokan harinya, ia naik pompong kecil ke Merbau—membawa dokter, guru, dan semangat yang nyaris padam di mata anak-anak pulau.
Hari ke-70: Antara Kepentingan dan Nurani
Di balik meja dinas, Asmar mulai diuji. Usulan proyek-proyek besar datang, tetapi tak menyentuh rakyat kecil. Ia menolak.
“Kalau aku ingin hidup nyaman, aku takkan pulang ke sini,” ucapnya tegas.
Ia lebih memilih memperbaiki jalan rusak ke Sungai Tohor dan membantu nelayan yang kehilangan perahu.
Hari ke-100: Sebuah Panggung dan Janji yang Hidup
Tak ada kemewahan. Hanya tenda putih, rakyat dari pelosok, dan suara yang tulus dari seorang pemimpin yang tak lupa jalan pulang.
“Jika 100 hari ini membuat anak tak takut sekolah saat banjir, ibu bisa melahirkan tanpa menunggu kapal, dan nelayan bisa pulang dengan perahu yang layak—maka kita sedang melangkah di jalan yang benar.”
Di antara kerumunan, seorang bocah menggenggam tangan ibunya dan menunjuk ke panggung.
“Itu Pak Bupati. Katanya dulu polisi… tapi sekarang jadi orang baik.”
Asmar tersenyum. 100 hari mungkin belum cukup untuk menata dunia, tapi cukup untuk menanam kepercayaan. Dan bagi sebuah negeri di atas laut dan lumpur, kepercayaan adalah bahan bakar perubahan.
📌 AswinNews.com — Tajam, Akurat, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update
![]()
