Penulis: Cak Kis | Editor: Kenzo – AswinNews.com
Tajam, Akurat, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update
SURABAYA – AswinNews.com
Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, Himpunan Pendidik dan Pengajar Muda Indonesia (HIPPMI) menggelar webinar bertema “Cross-Cultural Education: Membangun Toleransi dan Empati di Dunia Pendidikan”, Sabtu (1/6/2025). Acara ini berlangsung secara daring melalui platform Zoom dan berhasil menyita perhatian puluhan peserta dari berbagai latar belakang profesi dan wilayah.
Acara dibuka dengan khidmat melalui doa bersama dan lagu kebangsaan Indonesia Raya, menciptakan atmosfer nasionalisme yang hangat. Ellyana Anjarwati tampil sebagai moderator dan memandu jalannya diskusi dengan penuh energi.
Pendidikan Lintas Budaya: Menyikapi Keberagaman Secara Konstruktif
Inisiator HIPPMI, Dr. Hardika Prayudi Styawan, M.Pd., M.M., menjadi pembicara pertama. Ia menegaskan bahwa pendidikan lintas budaya merupakan kebutuhan mendesak di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia.
“Keberagaman tak hanya soal baju adat atau aksen daerah, tapi juga cara berpikir dan cara menyikapi konflik. Jika tidak dipahami secara mendalam, perbedaan ini bisa menjadi sumber gesekan,” ujarnya.
Ia mengajak para pendidik untuk tidak sekadar mengajar, tetapi juga memahami latar belakang budaya peserta didik. Menurutnya, pendekatan lintas budaya mampu menumbuhkan toleransi, empati, dan kedewasaan sosial di ruang kelas.
Stereotip dan Mikroagresi di Sekolah Harus Dihapus
Narasumber kedua, Erick Firmansyah, S.Pd., M.Pd., Pengajar Bahasa dan Budaya Peace Corps Indonesia, menyoroti pentingnya sensitivitas budaya dalam praktik pengajaran. Ia menekankan bahwa keadilan dalam pendidikan bukan berarti memperlakukan semua siswa secara sama, melainkan sesuai kebutuhan dan konteks budaya mereka.
“Gunakan prinsip platinum rule: perlakukan orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan,” tegasnya.
Erick menambahkan bahwa guru perlu menghindari bias dan stereotip yang bisa memicu mikroagresi dalam proses belajar-mengajar. Guru masa kini, menurutnya, harus menjadi fasilitator yang peka terhadap keragaman agar suasana belajar menjadi lebih inklusif.
Refleksi Pancasila dalam Dunia Pendidikan
Webinar ini mendapat respons positif dari peserta. Diskusi berlangsung aktif, ditandai dengan banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang menunjukkan antusiasme tinggi. Acara ditutup dengan lagu Bagimu Negeri dan sesi foto bersama, mempererat solidaritas antarpendidik muda di seluruh Indonesia.
Melalui kegiatan ini, HIPPMI kembali menegaskan komitmennya untuk terus mendorong transformasi pendidikan yang lebih inklusif, toleran, dan berkeadaban—nilai-nilai yang sejalan dengan semangat Pancasila.
Redaksi Aswin News.com
![]()
