Krisis Nalar di Era Digital: Runtuhnya Otoritas Pengetahuan dan Tumbuhnya Kepercayaan Buta Era Digital di Tengah Ledakan Informasi

Oleh: H. Sujaya, S.Pd. Gr. (Komisaris AswinNews.com),| Editor: Kenzo, AswinNews.com – Tajam, Akurat, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update

Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat menghadapi sebuah ironi besar: ketika pengetahuan semakin mudah diakses, otoritas keilmuan justru semakin diragukan. Bukan lagi siapa yang paling memahami yang didengar, melainkan siapa yang paling keras bersuara. Akibatnya, terjadi krisis kepercayaan terhadap sains, pendidikan, dan institusi pengetahuan—sebuah ancaman nyata bagi masa depan nalar publik.


1. Ketika Semua Orang Merasa “Sudah Tahu”

Era digital memberi ruang bagi siapa pun untuk bicara, tanpa filter. Cukup menonton satu video TikTok atau membaca satu utas di media sosial, seseorang bisa merasa telah “paham” isu kompleks. Opini pribadi pun dianggap setara dengan hasil riset bertahun-tahun.

Dalam suasana ini, batas antara pengetahuan dan opini menjadi kabur. Data dan pendapat subjektif diperlakukan sama. Ini menandai keruntuhan fondasi berpikir ilmiah di ruang publik digital.


2. Merosotnya Kepercayaan pada Ahli dan Institusi

Salah satu penyebab utama fenomena ini adalah kian meluasnya ketidakpercayaan terhadap institusi formal. Ilmuwan, akademisi, dan tenaga medis dianggap terlalu elitis atau berpihak. Akibatnya, publik beralih pada narasi alternatif yang sering kali berasal dari tokoh tanpa kapasitas ilmiah, tetapi pandai bermain emosi dan algoritma.

Di sinilah celah disusupi teori konspirasi, pseudo-sains, dan dogma baru yang lebih menenangkan perasaan ketimbang menantang logika.


3. Naiknya Figur Karismatik, Runtuhnya Otoritas Ilmu

Yang kini lebih dipercaya bukan yang kompeten, tetapi yang percaya diri. Karisma, gaya bicara, dan kemasan visual lebih menentukan pengaruh daripada isi dan substansi. Tokoh-tokoh karismatik di media sosial bisa menggeser posisi pakar yang bicara hati-hati berdasarkan data.

Kepercayaan ini bersifat emosional, bukan intelektual. Masyarakat lebih mudah percaya karena merasa “terhubung” secara psikologis, bukan karena argumen yang valid.


4. Konsekuensi: Kebisingan yang Menyesatkan Publik

Akibat dari pola ini sangat nyata: publik disesatkan oleh kebisingan, bukan dibimbing oleh kebijaksanaan. Kita menyaksikan penolakan vaksin, pengingkaran perubahan iklim, hingga maraknya pengobatan alternatif tanpa dasar ilmiah. Di balik semua ini adalah krisis berpikir yang mengancam arah kebijakan dan masa depan bangsa.

Tanpa literasi informasi dan penghargaan terhadap ilmu, masyarakat menjadi mudah digiring dan dimanipulasi oleh narasi populis yang menyentuh rasa, bukan akal sehat.


5. Membangun Kesadaran, Menguatkan Literasi

Jawaban atas krisis ini bukan dengan membungkam suara berbeda, tetapi memperkuat literasi digital dan informasi. Publik perlu dibekali kemampuan membedakan opini dari fakta, mengenali proses ilmiah, serta menghormati otoritas pengetahuan yang sah.

Institusi dan para ahli juga harus belajar berkomunikasi secara lebih empatik dan membumi. Ilmu yang disampaikan dengan arogansi hanya akan memperlebar jurang antara sains dan masyarakat.


Kembali kepada Nalar

Runtuhnya otoritas pengetahuan dan tumbuhnya kepercayaan buta bukan sekadar fenomena digital, tapi panggilan untuk refleksi kolektif. Kita harus mengembalikan penghormatan terhadap proses berpikir, ketekunan akademik, dan integritas intelektual.

Sebab masyarakat yang lebih percaya pada yang viral daripada yang valid akan mudah tersesat. Dan dalam dunia yang bergerak cepat dan penuh disrupsi, tersesat karena menolak berpikir adalah bencana yang nyaris tak bisa diperbaiki.

Indramayu, 30 Mei 2025, Redaksi AswinNews.com


Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *