Belu, NTT | AswinNews.com – Di balik lereng bukit dan ladang kering yang menjadi pemandangan sehari-hari masyarakat Dusun Wekabu, Kecamatan Tasifeto Barat (Tasbar), Kabupaten Belu, sebuah semangat kebersamaan dan kesadaran akan jati diri tengah dibangun perlahan tapi pasti.
Hari Selasa, 26 Mei 2025, Kepala Desa Naekasa, Ferdy Manek, S.IP, hadir langsung di tengah warga Dusun Wekabu untuk melakukan sosialisasi pembangunan desa. Bukan sekadar sosialisasi program, tetapi lebih dari itu: menyampaikan visi besar tentang bagaimana dusun kecil ini bisa tumbuh, mandiri, dan tetap menjaga akar budayanya.

Dalam pertemuan yang berlangsung di tengah suasana akrab dan penuh makna itu, Ferdy mengajak seluruh struktur desa — dari RT, RW, hingga dusun — untuk bergandengan tangan membangun dari bawah. “Wekabu harus jadi contoh bagaimana masyarakat bisa hidup rukun, menjaga adat, dan tetap produktif,” ujarnya di hadapan warga.
Menjaga Adat, Menanam Masa Depan
Ferdy menegaskan pentingnya mempertahankan nilai-nilai adat dan budaya lokal. “Uma Metan Naekasa dan Uma Lulik Laumau bukan sekadar simbol, tapi adalah roh hidup masyarakat kita. Jangan sampai generasi muda lupa dari mana mereka berasal,” katanya.

Sebagai bentuk nyata pelestarian budaya dan kemandirian pangan, pemerintah desa mengarahkan warga untuk membangun dan mengisi Lumbung Padi dan Lumbung Jagung. Ia menekankan bahwa hasil panen tidak boleh langsung dijual. “Yang baru dipanen harus disimpan dulu, yang lama baru bisa dijual. Ini untuk jaga ketahanan pangan keluarga,” jelasnya.
Langkah ini tidak hanya untuk memastikan keluarga memiliki cadangan pangan saat musim sulit, tetapi juga sebagai bentuk penguatan sistem ekonomi lokal berbasis hasil tani sendiri.

Batu Merah, Rumah Mandiri
Tak hanya bicara pangan, Kepala Desa juga menyoroti kualitas bahan bangunan lokal. Banyak warga Wekabu yang menggantungkan hidup dari pembuatan batu merah (bata). Ferdy mengingatkan bahwa kualitas batu bata harus dijaga agar rumah-rumah yang dibangun tahan lama dan layak huni.
“Jangan hanya kejar jumlah. Bangunlah dengan niat baik, untuk keluarga dan masa depan. Batu merah yang kuat adalah dasar rumah yang kokoh,” tegasnya.
Ia juga menyinggung pola hidup keluarga yang menurutnya harus mulai dibenahi. Salah satu kebijakan yang kini mulai diterapkan adalah larangan tinggal dalam satu rumah untuk lebih dari satu keluarga. “Satu rumah cukup untuk satu keluarga. Ini untuk melatih kemandirian generasi muda dan mengurangi konflik internal,” jelasnya.
Menata Masa Depan dari Dusun
Sosialisasi ini menjadi bagian dari langkah nyata Kepala Desa Naekasa membentuk dusun yang berdaya dan bermartabat. Ia menyadari bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari anggaran besar, tetapi dari kesadaran kolektif masyarakat untuk berubah dan maju bersama.
Warga menyambut baik arahan tersebut. Sosok Ferdy dikenal dekat dengan rakyat, dan pendekatannya yang mengedepankan budaya dan ketahanan lokal dinilai tepat oleh tokoh masyarakat setempat.
Dengan langkah kecil namun konsisten seperti ini, Desa Naekasa — melalui Dusun Wekabu — perlahan menapaki jalan perubahan. Bukan perubahan instan, tetapi perubahan yang menumbuhkan harga diri, memperkuat jati diri, dan membangun masa depan dengan akar yang kuat di tanah sendiri.
Penulis: Raphael
Editor: Kenzo
AswinNews.com – Tajam, Akurat, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update
![]()
