Menjaga Harmoni dari Akar: Seruan Pj Kades Naekasa untuk Warga Dusun Wekabu

Belu, NTT | AswinNews.com – Di tengah perubahan zaman dan tantangan kehidupan yang terus berkembang, seruan untuk menjaga harmoni, nilai budaya, dan kemandirian lokal masih menggema kuat di pelosok timur Indonesia. Hal itu terlihat dalam kegiatan sosialisasi yang digelar di Dusun Wekabu, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Selasa (27/5/2025).

Pj Kepala Desa Naekasa, Ferdinandus Manek, S.IP, tampil di hadapan warganya dengan pesan yang penuh makna: “Warga Wekabu harus hidup rukun, saling jaga, dan tetap setia pada adat istiadat yang diwariskan leluhur.”

Dalam pernyataannya, Ferdy—demikian ia biasa disapa—tidak hanya bicara soal kedamaian, tapi juga tentang arah pembangunan yang dimulai dari hal-hal mendasar: kekompakan sosial, ketahanan pangan, kualitas hasil kerja, hingga kemandirian keluarga muda.

“Dari RT, RW sampai kepala dusun harus bahu-membahu. Kita bangun dusun ini seperti keluarga besar. Jangan lupakan budaya kita sendiri,” tegasnya.

Pangan Bukan Sekadar Hasil Panen, Tapi Aset Strategis

Dalam urusan pertanian, Ferdy menyampaikan pesan penting yang kini kembali relevan: hasil panen bukan untuk dijual buru-buru, melainkan harus dikelola dengan bijak. Ia mengingatkan agar warga menyimpan hasil panen baru, terutama padi, di lumbung pangan desa.

“Padi yang baru dipanen jangan langsung dijual. Simpan dulu di lumbung. Gunakan padi lama untuk kebutuhan harian dan biaya pendidikan anak-anak. Ini cara kita bertahan,” ungkapnya.

Langkah ini bukan hanya soal manajemen stok makanan, tetapi bagian dari strategi memperkuat kedaulatan pangan keluarga dan mengurangi ketergantungan terhadap pasar yang fluktuatif.

Batu Merah Wekabu: Kecil Tapi Bernilai

Kepada para pembuat batu merah (bata lokal), Ferdy memberikan dorongan untuk tetap menjaga mutu produk mereka. Sebab, kualitas adalah kunci untuk bertahan di tengah persaingan pasar material bangunan yang semakin ketat.

“Kita harus bangga pada kerja keras kita. Tapi kualitas batu merah juga harus dijaga agar tetap dicari dan dihargai,” ujarnya menekankan.

Industri kecil seperti batu bata lokal sering kali menjadi tulang punggung ekonomi desa. Maka, komitmen terhadap kualitas adalah bentuk kemandirian ekonomi yang harus dirawat.

Satu Rumah, Satu Keluarga: Mandiri Sejak Dini

Isu sosial lain yang juga disorot adalah pola hidup berumah tangga. Dalam tradisi beberapa wilayah, sering terjadi satu rumah ditempati oleh beberapa keluarga. Ferdy dengan tegas menyatakan bahwa model ini tak lagi tepat jika ingin membentuk generasi yang mandiri.

“Saya imbau jangan lagi satu rumah diisi dua atau tiga keluarga. Ini soal mental dan pembentukan karakter. Keluarga baru harus belajar mandiri,” ujarnya lugas.

Kebijakan ini sejalan dengan upaya pemerintah desa untuk memperbaiki tata ruang hunian dan mengurangi potensi konflik internal dalam keluarga besar.

Memulai dari Dusun, Menyulam Masa Depan

Langkah-langkah kecil yang digagas oleh Ferdinandus Manek menjadi bukti bahwa pembangunan desa tidak selalu membutuhkan dana besar, tetapi komitmen dan nilai-nilai lokal yang dijunjung tinggi.

Dusun Wekabu tidak hanya sedang membangun fisik desa, tetapi juga sedang menata ulang cara berpikir dan hidup sebagai satu komunitas yang kuat—berbasis budaya, saling peduli, dan berdaya secara ekonomi.

Jika desa-desa lain mengikuti langkah ini, bukan tidak mungkin Belu akan menjadi contoh bagaimana pembangunan dapat dimulai dari ketulusan, bukan hanya dari angka-angka proyek.


Penulis: Raphael F.
Editor: Kenzo
AswinNews.comTajam, Akurat, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update


Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *