Oleh: Jejep Falahul Alam
Editor: Abahroy
Dipublikasikan oleh: journalist.aswinnews.com
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan organisasi mahasiswa terbesar dan tertua di negeri ini. Sebagai organisasi intelektual, HMI telah menjadi kawah candradimuka yang melahirkan banyak tokoh bangsa: wakil rakyat, eksekutif, legislatif, hingga mereka yang kini merapat untuk menjadi penyelenggara pemilu.
Namun, di balik gemerlap nama besar itu, tersimpan kenyataan yang menyayat hati. Banyak alumni HMI yang hidupnya masih jauh dari kata sejahtera. Ada yang tetap menjadi tenaga honorer selama puluhan tahun. Bahkan, ada pula yang masih menganggur, berjuang keras hanya untuk bertahan hidup.
Di balik kebanggaan dan marwah yang sering diagung-agungkan, tersembunyi kehidupan yang tidak pernah tampak di panggung resmi atau baliho besar. Banyak alumni HMI hari ini harus bekerja dari pagi hingga malam, berdarah-darah hanya demi memastikan anak dan istrinya bisa makan. “Kumaha carana dapur tetap ngebul.” Maka tak sempat lagi memikirkan masa depan organisasi, karena urusan dapur saja belum selesai.
Realitas pahit ini menjadi sisi gelap yang kerap diabaikan. Kita lebih sering bertepuk tangan untuk alumni yang memiliki jabatan, kekuasaan, dan kemewahan. Sementara mereka yang hidup pas-pasan tertatih-tatih di pinggir jalan kehidupan — dilupakan. Di antara sesama alumni, kerap terdengar lirih komentar, “Karunya teuing nasibna.”
Fenomena ini tidak hanya terjadi di level nasional, tapi juga menyusup hingga ke tubuh KAHMI. Tempat yang idealnya menjadi ruang aman untuk saling merangkul, justru kerap terasa hambar dan penuh syarat. Alumni baru hanya dianggap ketika membawa titel dan kekuatan finansial. Tanpa itu, ia nyaris tak dianggap. Tidak diundang. Tidak disapa. Tidak dirangkul.
Tak sedikit alumni yang mendekati senior bukan karena kedekatan emosional, nilai, atau perjuangan. Tapi karena ada sesuatu yang ingin diraih — proyek APBD, jabatan di lembaga pemilu, atau akses pada kue kekuasaan. Hubungan antaralumni menjadi dingin dan penuh kepura-puraan. Bukan karena kekaguman, tapi karena kepentingan. Relasi yang dulu ideologis kini bergeser menjadi transaksional.
Yang lebih menyedihkan, relasi antar generasi mulai renggang. Setiap angkatan berjalan sendiri-sendiri. Setelah suksesi, jurang pemisah muncul antara tim sukses dan mereka yang bukan pendukung. Skat inilah yang membedakan mana kawan dan mana lawan — meski sama-sama alumni hijau hitam.
Senioritas tinggal slogan. Junioritas kehilangan arah. Kebersamaan hanyalah simbol yang dipajang saat Musda atau Kongres KAHMI, atau hadir bila ada kepentingan dan komitmen saling menguntungkan antara kanda dan dinda. Di luar itu, tidak ada makan siang gratis.
Namun tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Ini adalah cermin dan renungan bagi kita semua. Mari kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk jabatan dan kekuasaan, lalu bertanya: warisan apa yang ingin kita tinggalkan sebagai alumni HMI? Apakah hanya sekadar kekuasaan dan fasilitas? Ataukah nilai perjuangan, persaudaraan, dan pengabdian?
Jika solidaritas antaralumni terus runtuh, HMI akan tinggal nama, tinggal cerita, dan kehilangan makna. Apalah arti sebuah organisasi jika tak mampu memberi manfaat bagi sesamanya?
Mari kembali ke niat awal pendirian KAHMI. Karena KAHMI bukan tentang siapa yang paling tinggi posisinya, melainkan tentang siapa yang paling tulus mengabdi untuk memperjuangkan cita-cita luhurnya.
Cirebon,15/05/2025
![]()
