Anggota Komisi I DPRD JabarH. Muhamad Sidkon Djampi, S.H., M.M Hadiri Pembentukan Komunitas PIS di Cirebon bersama KPID Jabar Sebagai Narasumber

Cirebon,-aswinnews.com- Anggota Komisi I DPRD Jabar H. Muhamad Sidkon Djampi, S.H., M.M Hadiri Pembentukan Komunitas PIS (Pemantau Isi Siaran) di Cirebon bersama KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah ) Jabar (Jawa Barat) sebagai Narasumber dalam acara tersebut.

komisioner KPID Jawa Barat berdiskusi bersama sejumlah narasumber dalam kegiatan “Penyiaran dan Moderasi Beragama” yang digelar bersamaan dengan pembentukan Komunitas Pemantau isi Siaran di Cirebon.
KERJA keras terus dilakukan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat untuk menjaga kualitas siaran radio dan televisi.acara tersebut diselenggarakan diSTID (Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah) Al-Biruni, di Babakan Ciwaringin, Cirebon, Kamis (18/06/2026).

Dalam kegiatan ini hadir sejumlah narasumber, di antaranya anggota Komisi I DPRD Jawa Barat H Muhamad Sidkon Djampi sebagai keynote speech dan Supardi Ketua STID Al-Biruni Cirebon

“Sebagai lembaga negara independen yang mewakili kepentingan publik di bidang penyiaran, KPID Jawa Barat memiliki tugas melakukan pengawasan terhadap isi siaran agar sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) KPI,” kata Koordintor Bidang PKSP KPID Jawa Barat, Achmad Abdul Basith,

Namun, lanjutnya, dengan jumlah lembaga penyiaran yang mencapai lebih dari 400 lembaga di Jawa Barat, partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam mendukung efektivitas pengawasan.

Untuk itu, KPID Jawa Barat terus membentuk Komunitas PIS Jawa Barat. Yang terbaru, PIS Jabar Chapter STID Al-Biruni, di Babakan Ciwaringin, Cirebon, dibentuk pada Kamis.

Pembentukan PIS STID Al Biruni dilakukan dalam kegiatan bertajuk “Penyiaran dan Moderasi Beragama”. Ini merupakan bagian dari program kegiatan peran serta masyarakat dalam pengawasan isi siaran yang dilaksanakan KPID Jawa Barat sebagai upaya memperkuat keterlibatan publik dalam menjaga kualitas siaran radio dan televisi di Jawa Barat.

“Melalui pembentukan Komunitas Pemantau Isi Siaran (PIS), KPID Jawa Barat mendorong hadirnya relawan-relawan pengawas siaran yang memiliki pemahaman mengenai regulasi penyiaran, etika siaran, serta mekanisme pelaporan pelanggaran isi siaran,” tambah Abdul Basith.

Sementara itu, Komisioner Bidang PKSP KPID Jawa Barat, Dadan Hendaya menambahkan kehadiran komunitas ini diharapkan menjadi mitra strategis KPID dalam mewujudkan ekosistem penyiaran yang sehat, edukatif, dan bertanggung jawab.

“PIS bisa menjadi bagian dari misi kami sebagai penjaga telinga dan mata masyarakat Jawa Barat,” katanya.

Sebelumnya, saat membuka kegiatan, Ketua KPID Jawa Barat Adiyana Slamet menegaskan pentingnya peran media penyiaran dalam membangun masyarakat yang toleran, moderat, dan berkarakter. Di tengah perkembangan teknologi informasi dan derasnya arus konten digital, lembaga penyiaran dituntut tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjalankan fungsi informasi dan pendidikan yang mampu memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan yang moderat.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu memahami ketentuan penyiaran, mengidentifikasi potensi pelanggaran isi siaran, serta berperan aktif dalam mengawasi lembaga penyiaran di wilayahnya masing-masing.
Selain itu, pembentukan PIS Chapter STID Al-Biruni Cirebon diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperluas jaringan pengawasan partisipatif yang melibatkan kalangan akademisi dan mahasiswa.

Dalam Penjelasannya Sebagai Narasumber H. Muhamad Sidkon Djampi, S.H., M.M mengatakan bahwa ,” Peran Utama Lembaga Penyiaran yakni Menyebarkan Dakwah, kajian, adzan, tausiah dan kebaikan dalam berbagai bentuk. Jangkauannya lintas usia dan
literasi. Semua bisa baca, dengar dan tonton juga. Yang ke dua Menguatkan, Bukan hanya program yang hanya ceramah. Sinetron dengan akhir penuh hikmah, iklan layanan masyarakat toleran, kuiz agama, yang ke tiga Menjaga, Lembaga Penyiaran menjadi filter dan penyeimbang. Melawan hoaks agama, ujaran kebencian berkedok “dakwah; ekstrimisme. Penyiaran bisa
meluruskan framing yang salah. Yang ke empat Toleransi dan Kebhinekaan, Liputan tempat ibadah beda agama, kisah gotong
royong lintas keyakinan Jujur

Empati dan Peduli Agama tanpa aksi dagang social. Yang ke Lima Integritas dan Jujur , Konten anti korupsi, judi online dalam bingkai nilai agama, yang ke enam Moderat dan Wasathiyah, Berikan
kesempatan untuk tokoh agama yang
suaranya adem dan tidak memecah umat.” Ujarnya.

(Thoha)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *