Menyisir Setiap Gang, Mengejar Setiap Nama: Safrizal dan Janji Tak Ada Satu Pun yang Hilang di Sudut Aceh

Banda Aceh – AswinNews.com —
Di antara tumpukan berkas administrasi dan layar komputer yang menampilkan deretan angka, ada satu kegelisahan yang terus mendorong langkah Safrizal ZA.

Bagi Kepala Posko Wilayah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh itu, data bukan sekadar statistik dingin, melainkan kumpulan nama, wajah, dan harapan warga yang menunggu kepastian.

“Pemulihan ini tidak akan utuh jika masih ada satu nama saja yang terlewat di celah-celah data kita,”

ujar Safrizal dengan nada tegas namun sarat empati saat meninjau proses validasi ulang hunian sementara (huntara), Senin (6/4/2026).

Pernyataan itu bukan sekadar retorika.

Ia menjadi arah baru dalam strategi pendataan Satgas PRR Aceh.

Jika sebelumnya pendekatan lebih bersifat menunggu laporan, kini tim lapangan bergerak aktif: menyisir setiap gang, mendatangi setiap dusun, dan mengejar setiap nama yang berpotensi terlewat akibat dinamika perpindahan penduduk maupun keterbatasan akses informasi.

Dari Birokrasi ke Realitas Lapangan
Safrizal menegaskan, perubahan data di lapangan kerap disalahartikan sebagai ketidakkonsistenan.

Padahal, menurutnya, hal itu justru menandakan bahwa data sedang “hidup” dan menyesuaikan diri dengan realitas korban bencana yang dinamis.
“Warga kembali ke kampung halaman, ada yang berpindah ke rumah kerabat, dan ada pula yang sebelumnya belum terdata karena tinggal di wilayah terpencil. Tugas kita bukan menutup perubahan ini, melainkan menjadikannya peluang untuk meningkatkan akurasi,” jelasnya.

Prinsip no one left behind atau “tidak ada satu pun yang tertinggal” diterjemahkan menjadi langkah konkret. Safrizal menekankan bahwa birokrasi harus melayani manusia—bukan sebaliknya memaksa masyarakat tunduk pada prosedur yang kaku.
Membuka Pintu Verifikasi

Sebagai bagian dari komitmen transparansi, Safrizal membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk melakukan verifikasi data. Ia mengajak tokoh masyarakat, relawan, hingga warga untuk berperan aktif memastikan keadilan distribusi bantuan.

“Jika ada warga yang merasa belum tercatat, sampaikan kepada kami. Kami akan jemput datanya.

Jangan sampai karena alasan teknis, saudara kita bertahan dalam ketidakpastian,” tegasnya.

Langkah proaktif ini diharapkan mampu meredam kecemasan publik sekaligus memperkuat kepercayaan bahwa negara hadir secara nyata—bukan hanya membangun fisik huntara, tetapi juga memastikan keadilan hingga ke individu paling rentan.

Komitmen untuk Aceh yang Pulih Seutuhnya
Di bawah terik matahari Aceh, pesan Safrizal menjadi pengingat penting bagi seluruh pemangku kepentingan. Keberhasilan pemulihan tidak semata diukur dari cepatnya pembangunan fisik, melainkan dari seberapa banyak masyarakat yang merasa dilayani secara jujur dan adil.

Menyisir setiap gang dan mengejar setiap nama adalah bentuk tanggung jawab moral tertinggi. Dalam konteks kemanusiaan pascabencana, yang dibutuhkan bukan sekadar narasi penghibur, melainkan kehadiran nyata negara yang berani jujur, sigap memperbaiki, dan tidak meninggalkan siapa pun.

Pemulihan Aceh terus berjalan, membawa satu janji kuat: tidak akan ada lagi warga yang terlewat dalam daftar, terhapus dalam angka, atau terlupakan di sudut negeri.

🖊️ Laporan Jurnalis: Drs.M.Isa Alima
✍️ Redaksi AswinNews.com – Tajam, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *