Buah Salak Busuk dari MBG Sukadamai Diduga Tak Layak Konsumsi di SMA Negeri 1 Sei Bamban

✍️ Penulis: Tri Juliadi
🗞️ Editor: Kenzo – Redaksi
📍 Serdang Bedagai | AswinNews.com — Tajam, Akurat, Berimbang, dan Terpercaya


Serdang Bedagai, 3 November 2025 —
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program unggulan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kembali menuai sorotan. Kali ini, dugaan makanan tak layak konsumsi ditemukan di SMA Negeri 1 Sei Bamban, Kecamatan Sei Bamban, Kabupaten Serdang Bedagai.

Salah satu menu buah yang dibagikan kepada siswa, yakni buah salak, diduga dalam kondisi busuk dan berulat, sehingga tidak layak untuk dikonsumsi.


Siswa Keluhkan Buah Busuk dan Menu Monoton

Seorang siswi yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa buah salak yang diterimanya sudah tidak segar dan berbau busuk.

“Buah salaknya menghitam, berbau busuk, dan ada ulatnya. Saya hampir saja memakannya, tapi langsung saya buang. Teman-teman juga tidak mau makan karena rasanya asam,” ujarnya.

Selain keluhan soal buah salak, sejumlah siswa juga mengeluhkan menu yang monoton, karena hampir setiap hari hanya disajikan telur sebagai lauk utama.

“Setiap hari telur terus, kami jadi bosan dan banyak teman yang tidak mau makan,” tambahnya.


Komite Sekolah Sayangkan Kualitas Menu MBG

Ketua Komite SMA Negeri 1 Sei Bamban, Canter Hutauruk, turut menyayangkan kejadian tersebut. Ia menilai, penyedia MBG harus lebih memperhatikan standar gizi dan kelayakan konsumsi sebelum makanan dibagikan kepada siswa.

“Saya sangat menyesalkan terjadinya pembagian buah salak busuk kepada siswa. Menu yang diberikan pun hampir setiap hari telur. Seharusnya pihak MBG Sukadamai memahami standar makanan bergizi dan menyusun menu yang bervariasi,” ujarnya.

Canter menambahkan bahwa akibat makanan yang tidak layak konsumsi dan menu yang monoton, banyak siswa akhirnya tidak menghabiskan makanan yang diberikan.

“Bagaimana anak-anak mau mendapat gizi yang baik kalau makanannya seperti ini? Ini harus jadi perhatian serius,” tegasnya.


Keterangan Pihak Sekolah dan Pemerintah Desa

Kepala SMA Negeri 1 Sei Bamban, M. Sitohang, saat dikonfirmasi mengenai asal penyedia MBG mengatakan bahwa penyalur MBG berasal dari Desa Sukadamai, Kecamatan Sei Bamban.

Sementara itu, Kepala Desa Sukadamai, Karnain, membenarkan bahwa penyedia program MBG di wilayahnya adalah milik Aseng Botot, warga Kota Tebing Tinggi.

Namun, ketika dikonfirmasi, Rudi, selaku pengawas SPPG Sukadamai, enggan memberikan keterangan lebih lanjut.


Desakan LSM untuk Tindakan Tegas

Menanggapi persoalan tersebut, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) LP3H meminta agar pemerintah dan aparat penegak hukum segera turun tangan melakukan pemeriksaan dan pengawasan ketat terhadap pelaksanaan program MBG.

“Buah salak yang busuk seharusnya tidak lolos distribusi. Ada pengawas dan kepala SPPG yang bertanggung jawab. Kami minta kejaksaan dan Babinsa melakukan pengawasan ketat karena ini menyangkut generasi bangsa,” ujar perwakilan LSM LP3H.

LSM LP3H juga mendesak Badan Gizi Nasional Kabupaten Serdang Bedagai agar segera melakukan sidak (inspeksi mendadak) ke lokasi program MBG.

“Kalau ditemukan ada bahan makanan yang tidak layak, harus diberi sanksi tegas, bahkan cabut izin operasionalnya,” tegasnya.


📌 Catatan Redaksi:
Redaksi AswinNews.com mendorong pihak penyedia program MBG Sukadamai, Dinas Pendidikan, dan Badan Gizi Nasional Kabupaten Serdang Bedagai untuk segera melakukan klarifikasi resmi agar informasi ini berimbang dan tidak menimbulkan kesalahpahaman publik.
Redaksi tetap berpegang pada prinsip jurnalistik — cover both sides — bahwa setiap pihak memiliki hak untuk memberikan penjelasan atas temuan lapangan ini.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *