Orasi Mahasiswa di DPRD Binjai Diselipi Tari Melayu: Simbol Kritik Kenaikan Gaji Dewan

🖋️ Penulis: Hambali ~ Kaperwil Sumatra Utara,|
✍️ Editor: Kenzo | AswinNews.com – Tajam, Akurat, Terpercaya, dan Ter-Update

Binjai, AswinNews.com — Suasana aksi unjuk rasa mahasiswa di depan kantor DPRD Kota Binjai pada Senin (1/9/2025) berlangsung unik dan sarat pesan simbolis. Para mahasiswa tidak hanya berorasi, tetapi juga menampilkan tarian adat Melayu sebagai bentuk sindiran terhadap anggota dewan yang dinilai “menari di atas penderitaan rakyat.”

Dalam koreografi tersebut, mahasiswa menggambarkan kekecewaan atas keputusan DPR RI terkait kenaikan gaji anggota dewan, yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat kecil. Tarian tersebut bahkan dilengkapi dengan aksi pengumpulan sumbangan dari peserta demo. Uang hasil sumbangan itu kemudian diserahkan secara simbolis kepada Ketua DPRD Kota Binjai, H.K. Gusuartini Br. Surbakti dari Partai Golkar.

“Kami serahkan sumbangan ini agar bisa menambah gaji anggota dewan,” ujar salah satu orator, disambut tepuk tangan peserta aksi.

Ketua DPRD Kota Binjai menerima langsung uang tersebut, meski mahasiswa menegaskan agar dana simbolis itu diteruskan ke DPR RI sebagai bentuk kritik. Gusuartini, yang hadir bersama sejumlah anggota DPRD dan Kapolres Binjai, AKBP Bambang C. Utomo, SH., S.I.K., M.Si, mengapresiasi aksi mahasiswa dan menegaskan pihaknya memahami aspirasi rakyat yang disampaikan.

Aksi berjalan relatif kondusif meski sempat diwarnai pembakaran ban di depan gedung DPRD. Kehadiran Ketua DPRD dan Kapolres di lokasi berhasil meredam potensi kericuhan.

“Jerih payah mahasiswa dalam memperjuangkan aspirasi rakyat patut dihargai,” ujar Ketua DPRD Binjai, yang berjanji menindaklanjuti tuntutan tersebut.


Catatan Redaksi

Aksi mahasiswa di Binjai memperlihatkan bagaimana budaya lokal dipadukan dengan kritik sosial. Tarian Melayu bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi simbol protes terhadap kebijakan yang dinilai menyakiti rakyat. AswinNews menilai kreativitas semacam ini bisa menjadi contoh bagaimana demonstrasi tetap bisa berjalan kritis, damai, dan komunikatif, tanpa kehilangan esensi perjuangan.


Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *