Ketika Hak Veteran Dijadikan Komoditas Oknum : Cerita Pahit Leandro Duarte dan Rekan-rekan di Bumi Nusa Tenggara Timur

BELU, NTT – ASWINNEWS.Com ~ Di sebuah rumah sederhana di Desa Lawalutolus, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, NTT, Leandro Duarte duduk termenung di beranda. Wajahnya menyimpan getir yang telah dipendam bertahun-tahun. Sejak kembali ke tanah kelahirannya tahun 2012, Leandro yang seorang veteran eks Timor Timur tak pernah membayangkan perjuangannya demi negara akan dibalas dengan ketidakadilan yang mengoyak harga dirinya. Rabu,14/5/2025.

“Saya ini bukan siapa-siapa. Saya hanya seorang mantan pejuang yang mengabdikan hidup saya untuk merah putih,” katanya lirih saat ditemui Aswinnews.com. Namun, perjuangan Leandro rupanya belum selesai. Setelah mengangkat senjata, kini ia terpaksa harus berjuang menghadapi tembok birokrasi yang berbelit-belit dan diduga penuh pungli.

Hak yang Tertahan, Martabat yang Dipermainkan

Leandro mengaku, sejak 2012 dirinya sudah berulang kali mengurus SK keanggotaan LVRI. Namun, setiap langkahnya selalu terhenti di meja Stefanus Atok Bau, yang diduga meminta uang Rp6,5 juta sebagai syarat pengambilan SK. Ironisnya, saat Leandro mengecek ke Kantor Kaminvet di Kupang, SK tersebut ternyata sudah diambil oleh Stefanus dan Julio Do Carmo tanpa sepengetahuannya.

“Sudah seperti main kucing-kucingan. SK saya diambil orang tanpa izin saya, lalu saya disuruh bayar kalau mau ambil,” ujar Leandro dengan mata berkaca-kaca.

Ia bukan satu-satunya korban. Beberapa veteran lain seperti Leandro , Mateus Nahak, dan lainnya, juga mengalami cerita serupa. Mereka mengaku kecewa, merasa perjuangan mereka yang dulu mengorbankan nyawa kini dipermainkan oleh oknum yang mengaku pejuang, namun justru menjadi benalu di atas penderitaan sesama veteran.

Aroma Ketakutan di Balik Tembok LVRI

Suasana mencekam tak hanya meliputi meja administrasi, tapi juga menyelimuti ruang organisasi veteran itu sendiri. Nama SteFanus Atok, Ketua LVRI Belu, disebut-sebut memiliki karakter keras dan arogan. Beberapa veteran yang ditemui Aswinnews.com mengaku takut bicara lantang, karena SteFanus diduga memiliki pengaruh kuat hingga ke lingkaran militer.

“Dulu dia juga pernah kasus, katanya sampai ada veteran yang mati. Tapi semua takut, karena dia dekat dengan orang kuat,” bisik seorang veteran yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Mascab LVRI Belu, melalui media Timorline.com, Senin (12/5/2025), SteFanus Atok secara tegas membantah tudingan Leandro dan rekan-rekannya. “Itu tidak benar. Mereka urusan Tim 10. Saya tidak pernah campur tangan. Urusan mereka langsung ke Kupang,” tegasnya.

Namun, bantahan itu bagi Leandro cs hanyalah upaya untuk menutupi kenyataan yang selama ini mereka alami.

Seruan Keadilan dari Tanah Tapal Batas

Kekecewaan Leandro dan kawan-kawan bukan lagi sebatas kegeraman. Mereka kini menyalurkan aspirasinya ke Danrem 161/Wira Sakti dan bahkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Harapan mereka sederhana: kembalikan hak-hak veteran yang ditahan, bersihkan organisasi LVRI dari oknum-oknum yang mempermainkan nasib para pejuang.

“Kami berharap Bapak Presiden Prabowo dengar suara kami. Kami sudah capek jadi korban permainan birokrasi yang korup dan kejam,” ujar Leandro.

Mereka juga menyerukan agar pemerintah pusat turun tangan membersihkan praktik-praktik pungli yang berkedok organisasi veteran di NTT, yang telah jauh menyimpang dari nilai-nilai Pancasila dan semangat perjuangan bangsa.

Catatan Investigasi:

Kasus yang menimpa Leandro Duarte dan rekan-rekan veteran lainnya di Belu hanyalah potret kecil dari persoalan besar yang mengakar di berbagai daerah. Di balik seremoni penghormatan kepada para pahlawan, masih banyak veteran yang haknya terabaikan dan dimanfaatkan sebagai ladang kekuasaan oleh segelintir oknum.

Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap jasa pahlawan, sudah sepatutnya semua pihak—terutama aparat dan pemerintah—menjadikan kasus ini sebagai alarm untuk membersihkan praktik-praktik kotor di tubuh organisasi veteran.

(Laporan Tim investigasi Raphael, Editor Kenzo)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *