Jawa Tengah Jadi Sentral Penyangga Ternak Ayam Nasional, Ketua DPRD Jateng Dorong Pengembangan Ayam Maron

Temanggung – AswinNews.com — Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, menyatakan dukungan penuh terhadap posisi Jawa Tengah sebagai daerah penyangga utama produksi ternak nasional. Hal tersebut disampaikannya saat melakukan kunjungan kerja ke Taman Ternak Satuan Kerja (Satker) Ayam Maron di Kabupaten Temanggung, belum lama ini.

Dalam kunjungannya, Sumanto mengapresiasi pengelolaan Taman Ternak Satker Ayam Maron yang dinilai berhasil mengembangkan komoditas ayam unggulan dengan produktivitas tinggi. Menurutnya, potensi yang dimiliki Satker tersebut tidak hanya memperkuat ketahanan pangan di tingkat regional, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang besar apabila dikembangkan secara luas oleh masyarakat.

“Jawa Tengah memiliki peran strategis sebagai penyangga produksi ternak nasional. Di Taman Ternak Ayam Maron ini, kita melihat adanya komoditas ayam unggulan yang sangat produktif. Ini adalah aset yang luar biasa,” ujar Sumanto.

Ia mendorong agar bibit maupun komoditas ayam unggulan dari Satker Maron dapat dibudidayakan secara masif oleh masyarakat Jawa Tengah. Selain meningkatkan kesejahteraan peternak lokal, langkah tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan daging dan telur ayam di pasaran.

Sumanto juga menegaskan bahwa DPRD Jawa Tengah berkomitmen mengawal kebijakan dan penganggaran yang berpihak pada sektor peternakan, khususnya dalam pengembangan inovasi pembibitan ternak yang berkualitas dan mudah dijangkau peternak kecil.

Menurutnya, ayam kampung unggulan yang dikembangkan di Taman Ternak Satker Ayam Maron telah memproduksi daging dan telur yang dipasarkan hingga Bekasi dan Pontianak. Berkat inovasi yang dilakukan, produktivitas ayam tersebut mengalami peningkatan signifikan.

Produksi telur Ayam Maron mampu mencapai sekitar 260 butir per ekor setiap tahun. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan ayam kampung konvensional yang rata-rata hanya menghasilkan sekitar 60 butir per tahun, bahkan melampaui rata-rata produksi telur ayam broiler yang berkisar 200 butir per tahun.

Selain itu, ayam Maron juga memiliki masa panen yang relatif singkat, yakni sekitar 60 hingga 70 hari. Sementara ayam kampung biasa umumnya baru dapat dipanen setelah berumur sekitar enam bulan.

“Produksi daging Ayam Maron juga bisa dipanen dalam waktu 60 sampai 70 hari. Sedangkan ayam kampung biasa baru bisa disembelih setelah berusia sekitar setengah tahun,” jelasnya.

Sumanto menambahkan, daging dan telur ayam kampung selama ini menjadi komoditas unggulan karena memiliki cita rasa yang khas serta nilai jual yang lebih tinggi. Namun, produksinya masih terbatas karena sebagian besar masyarakat memeliharanya sebagai usaha sampingan.

“Dari segi rasa maupun kandungan gizinya, ayam kampung memiliki keunggulan. Ini menjadi tantangan bagi kita untuk terus meningkatkan produktivitasnya melalui inovasi,” katanya.

Ia berharap Taman Ternak Ayam Maron dapat menjadi model pengembangan peternakan unggulan di Jawa Tengah. Menurutnya, keberadaan sejumlah balai peternakan di Jawa Tengah yang telah berdiri sejak masa kolonial dapat dimanfaatkan sebagai pusat riset dan inovasi untuk menghasilkan bibit ayam kampung unggul yang nantinya dapat dibudidayakan oleh masyarakat secara luas.

Sumanto juga menilai kebutuhan pasar terhadap ayam kampung terus meningkat karena dianggap lebih sehat.

Selain itu, telur ayam kampung masih banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku ramuan jamu tradisional. Oleh sebab itu, ia mendorong agar penelitian dan inovasi di bidang peternakan terus dikembangkan guna menghasilkan varietas unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan peternak sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

🖊️ Laporan Jurnalis: Tofan
✍️ Redaksi AswinNews.com – Tajam, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *