SMAN 1 Jatiwaras Gelar IHT Panca Waluya, Perkuat Pendidikan Karakter Hadapi Tantangan Global

Tasikmalaya – AswinNews.com — SMAN 1 Jatiwaras menggelar In House Training (IHT) bertema “Internalisasi dan Implementasi Nilai-Nilai Panca Waluya bagi Warga Sekolah” pada 18–19 Juni 2026.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan karakter sekaligus menyiapkan warga sekolah menghadapi berbagai tantangan sosial dan perkembangan global yang semakin kompleks.

IHT diikuti oleh guru, tenaga administrasi, komite sekolah, perwakilan orang tua siswa, pengurus OSIS/MPK, serta perwakilan ekstrakurikuler.

Hadir sebagai narasumber Kepala SMAN 1 Manonjaya, Dan Artadinan, S.Pd., M.Pd., dan Guru MAN 3 Kota Tasikmalaya, Herlina Husen, M.Pd.I.
Kegiatan ini sejalan dengan kebijakan pendidikan karakter yang terus diperkuat Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui konsep Panca Waluya.

baca juga

Kapolda Aceh Turun Langsung Kawal Pengamanan Mudik Lebaran 2026, Pastikan Perjalanan Aman dan Tertib

Konsep tersebut menekankan pembentukan peserta didik yang memiliki karakter Cageur (sehat jasmani dan rohani),

Bageur (berakhlak baik), Bener (jujur dan menjunjung kebenaran), Pinter (cerdas dan berwawasan luas), serta Singer (terampil, kreatif, dan adaptif).
Kepala SMAN 1 Jatiwaras, Deis Sumarni, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa pendidikan karakter tidak cukup diajarkan melalui teori di ruang kelas, tetapi harus menjadi budaya yang hidup dalam keseharian warga sekolah.

“IHT ini bertujuan meningkatkan pemahaman seluruh warga sekolah tentang nilai-nilai Panca Waluya, menginternalisasikannya menjadi karakter, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di masyarakat,” ujarnya.

Menurut Deis, sekolah memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan belajar yang harmonis, inklusif, dan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dan daya saing.

Pada hari pertama, peserta mengikuti berbagai agenda mulai dari pembukaan, pre-test, penyusunan kesepakatan belajar, hingga pemaparan materi mengenai fenomena sosial dan tantangan global, visi pembangunan Jawa Barat, kerangka konseptual pendidikan karakter Panca Waluya, model internalisasi nilai karakter, empat pilar pendidikan UNESCO, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), serta delapan dimensi profil lulusan.
Selain menerima materi, peserta juga terlibat aktif dalam diskusi kelompok dan presentasi untuk membahas berbagai persoalan yang diangkat oleh narasumber. Metode ini diharapkan mampu mendorong pemahaman yang lebih mendalam sekaligus menumbuhkan budaya kolaborasi.

Dalam pemaparannya, Dan Artadinan dan Herlina Husen menjelaskan bahwa pendidikan karakter Panca Waluya merupakan fondasi penting dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas.

Keberhasilan pendidikan saat ini, menurut mereka, tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga kemampuan peserta didik dalam beradaptasi, berpikir kritis, bekerja sama, dan memiliki kepedulian sosial.

“Pendidikan karakter menjadi kebutuhan mendesak di tengah perubahan sosial yang sangat cepat. Peserta didik harus memiliki kemampuan intelektual yang kuat sekaligus karakter yang kokoh,” jelas keduanya.

Para narasumber juga menegaskan bahwa konsep Panca Waluya sejalan dengan empat pilar UNESCO, yaitu Learning to Know, Learning to Do, Learning to Be, dan Learning to Live Together, yang menempatkan pendidikan sebagai sarana membentuk manusia seutuhnya.
Pada hari kedua, peserta mendapatkan materi mengenai strategi implementasi pendidikan karakter di lingkup satuan pendidikan, kelas, keluarga, dan masyarakat.

Materi juga mencakup monitoring dan evaluasi program serta pengenalan Sistem Informasi Pendidikan Karakter Panca Waluya (SIPALAWA) yang dapat digunakan untuk mendukung pemantauan pelaksanaan program karakter di sekolah.
Sebagai tindak lanjut, peserta menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang akan menjadi acuan penerapan nilai-nilai Panca Waluya di lingkungan SMAN 1 Jatiwaras.

Kegiatan kemudian ditutup dengan post-test guna mengukur peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian pelatihan.

Baca juga

Wisata Berujung Duka, Pengunjung Asal Medan Tewas Tenggelam di Bukit Lawang

Melalui kegiatan ini, SMAN 1 Jatiwaras berharap nilai-nilai Panca Waluya tidak hanya dipahami sebagai konsep, tetapi benar-benar menjadi budaya sekolah yang tercermin dalam perilaku sehari-hari seluruh warga sekolah.
Dengan implementasi yang konsisten, pendidikan karakter Panca Waluya diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang sehat, berakhlak baik, jujur, cerdas, terampil, serta siap menghadapi berbagai tantangan masa depan tanpa kehilangan jati dirinya sebagai insan yang berkarakter dan berbudaya.

Penulis : Maztho
Kontributor : Piyan Sopian, S.Pd., M.Pd. (Wakasek Kesiswaan)

Redaksi AswinNews.com – Tajam, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *