Poorly Manage Terhadap Sirkular Ekonomi Dalam Pengelolaan Sampah                      

Oleh : Wiriadi Sutrisno

Sumber: Google Image (Pemulung Wanita)

          Saat ini sampah (barang yang dianggap sudah tidak memiliki nilai ekonomi lagi) menjadi permasalahan yang gencar dijadikan bahan pembicaraan, baik dikalangan masyarakat marginal bahkan  sampai keforum Nasional.   Sampah sudah menjadi  bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia seharihari karena pada dasarnya manusia pasti menghasilkan sampah baik dalam skala rumah tangga, perdagangan maupun industri. Tingkat konsumtif manusia yang meningkat merupakan pemacu menjadikan volume sampah kian meningkat pula.                                                                                             Sejalan dengan itu pengelolaan  sampah dengan baik (well manage) akan memperlihatkan transformasi perobahan barang tidak berharga menjadi barang berharga (GIGO atau Garbage In Gold Out) sebagai hasil sirkulasi proses ekonomi yang baik, benar dan terkelola secara berkelanjutan. Ungkapan ini meminjam literasi yang berlaku dilingkungan program computer (Programer) yang menjelaskan  jika data yang diinput salah akan menghasilkan output yang tidak benar, dan disebut  sebagai GIGO (Garbage in Garbage Out).  Demikian pula halnya jika sampah tidak dikelola dengan baik (poorly manage) akan menimbulkan pencemaran lingkungan dan  berpengaruh  buruk pada kondisi kesehatan dan prekonomian masyarakat dan ecosystem bumi.                                            Produksi sampah yang terlalu banyak secara otomatis  memerlukan biaya pengelolaan disetiap irisan  akan semangkin  mahal. Dimulai dari sumber nya (rumah tangga, pusat pasar/perdagangan bahkan industry) sampai ke TPA, yang merupakan lingkar kegiatan ekonomi, akan menyedot biaya pengelolaan yang sangat besar dan mengganggu perekonomian daerah, regional sampai Nasional.  

         Ekonomi sirkular dalam pengolahan sampah bertujuan memaksimalkan umur material dan meminimalkan limbah, mengubah sampah menjadi sumber daya bernilai melalui pendekatan 5R (Reduce, Reuse, Recycle, Refurbish, Renew). Sistem ini mengurangi penumpukan sampah, menekan polusi, dan mendukung pembangunan berkelanjutan dengan mendaur ulang sampah organik menjadi kompos/biogas dan anorganik menjadi produk baru.  Berikut adalah analisis penerapan ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah:

  • Prinsip Dasar (5R): Berbeda dengan model linear (ambil-buat-buang), sirkular  ekonomi  berfokuspada Reduce (mengurangi), Reuse (gunakankembali), Recycle (daur ulang), Refurbish (perbaikan), dan Renew (pembaruan) untuk memperpanjang siklus hidup produk.
  • Pengelolaan Sampah Organik: Limbah makanan dan organik diolah menjadi kompos, pakan ternak, atau biogas, yang mengurangi emisi gas rumah kaca dan menghasilkan energi terbarukan.
  • Daur Ulang Sampah Anorganik: Plastik, kertas, logam, dan kaca didaur ulang menjadi  bahan baku kembali, mengurangi ketergantungan pada material mentah virgin.
  • Manfaat Ekonomi: tercipta kesempatan kerja secara informal, yang mampu menjadi alternatif penghasilan sebagai sumber daya beli masyarakat marginal dan menggerakkan sirkulasi ekonomi dikalangan marginal.

        Kenyamanan dan keindahan estetika suatu lingkungan tidak terlepas dari operasionan tata kelola sampah yang diterapkan. Saat ini, berdasarkan hasil studi, pihak yang sangat berperan dalam tata kelola sampah adalah para tenaga informal yang dikenal dengan sebutan pemulung. Pemulung berkontribusi besar mengurangi sampah, terutama dari rumah tangga yang merupakan sumber terbesar. Di balik indahnya pemandangan perkotaan yang bersih dari sampah, ada pahlawan tanpa tanda jasa di baliknya. Mereka adalah anak bangsa  yang bekerja sebagai pemulung yang kerap dipandang rendah secara sosial, padahal memiliki jasa dan andil terhadap yang  lingkungan yang besar.                             Studi di lima kota besar di Indonesia menujukkan pemulung individu (79%), diikuti pengepul skala kecil (15%), dan pengepul skala menengah atau bandar (6%), secara rata-rata mampu menyelamatkan hampir 44 kilogram material bernilai daur ulang setiap harinya. Produktivitas kolektif ini menyumbang sekitar 10-15% dari total tingkat daur ulang kota, mengungguli banyak program daur ulang yang secara nasional diperkirakan hanya mampu menyerap kurang dari 5%.

               Meski berjasa, pemulung kerap mendapat stigma negatif dari masyarakat. Negara  abai pada kesejahteraan mereka. Kebijaksanaan Pemerintah yang berkaitan dengan sistem jaminan sosial belum menjangkau pemulung dan jasa lingkungan mereka yang harus dibayar. Namun, kontribusi besar ini sering tidak dianggap. Para pengepul sampah ini terjebak dalam kondisi yang sangat rentan. Jaminan sosial belum menyentuh mereka, sementara sistem sosial, ekonomi, dan tata ruang kota terus meminggirkan mereka. Dengan demikian bias dinarasikan Negara berutang pada  pejuang yang teridentitas sebagai pemulung dalam mengatasi atasi persoalan sampah, dan sudah saatnya membayar jasa lingkungan mereka (Wir@ASWIN2026)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *