Ratusan Petani HIPPA Tiga Desa Gelar Aksi di Bendungan Semantok, Tuntut Keadilan Distribusi Air

Nganjuk – AswinNews.com — Ratusan warga yang tergabung dalam Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) “Wono Tirto” dari tiga desa di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, menggelar aksi damai di depan Kantor Bendungan Semantok, Selasa (31/03/2026)

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas minimnya pasokan air irigasi yang dirasakan petani di wilayah sekitar bendungan. Para petani menuntut agar lahan persawahan mereka mendapatkan aliran air yang memadai untuk menunjang aktivitas pertanian.

Berdasarkan informasi yang dihimpun AswinNews.com, para peserta aksi membawa spanduk bertuliskan:

“KAMI HIPPA 3 DESA MENUNTUT PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR UNTUK LAHAN PERTANIAN. KARENA KAMI PALING DEKAT DENGAN BENDUNGAN SEMANTOK TAPI PALING JAUH DARI KELAYAKAN PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR.”

Dalam orasinya, para petani menyampaikan bahwa kelangkaan air irigasi telah mengganggu aktivitas pertanian dan berpotensi menurunkan hasil panen. Mereka menilai kondisi tersebut ironis, mengingat lokasi lahan mereka berada paling dekat dengan Bendungan Semantok.

Khoiri, salah satu petani asal Desa Sambikerep yang turut dalam aksi, mengungkapkan bahwa sejak dibangunnya bendungan tersebut, petani di Sambikerep, Semanding, dan Musir Lor justru mengalami kesulitan air.
“Sudah tiga tahun kami kesulitan air. Wilayah kami hanya jadi jalur lewat air saja,” ujarnya dengan nada emosional saat ditemui AswinNews.com.

Ia juga menambahkan bahwa distribusi air dinilai tidak merata. Di Desa Mlorah, petani bahkan bisa panen hingga tiga kali dalam setahun, sementara di wilayahnya hanya dua kali panen sudah dianggap baik.
Saat ditanya terkait alternatif penggunaan pompa air (sibel), Khoiri menyebut hal itu tidak terjangkau bagi petani kecil.

“Kalau pakai sibel, satu jam biayanya Rp20 ribu. Kalau dipakai seharian, berapa biaya yang harus kami keluarkan? Hasil panen kami tidak sebanding,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua HIPPA Desa Sambikerep, Trimaryono, menegaskan bahwa aksi ini bertujuan mendorong optimalisasi pengelolaan Bendungan Semantok agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata.

“Kami berharap pihak terkait segera merespons tuntutan ini, agar lahan pertanian kami bisa terairi dengan baik dan produktivitas tetap terjaga,” ujarnya.

Menanggapi aksi tersebut, pihak pengelola Bendungan Semantok bersama Plt. Kepala Dinas PUPR Kabupaten Nganjuk turun langsung menemui massa dan menghasilkan sejumlah kesepakatan, di antaranya:
Perbaikan trashboom setelah adanya dukungan resmi dari pemerintah desa terkait.

Relokasi saluran irigasi secara bertahap dengan koordinasi lintas instansi.
Pembersihan saluran irigasi secara mekanis selama 13 hari.
Penetapan standar alokasi air berdasarkan musyawarah bersama.

Peningkatan saluran sekunder Ngomben melalui koordinasi teknis dan proses lelang.

Kesepakatan tersebut diharapkan mampu mengatasi permasalahan distribusi air serta meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah terdampak.

Namun demikian, para petani menegaskan akan kembali menggelar aksi lanjutan dengan massa yang lebih besar jika tidak ada realisasi dari hasil kesepakatan tersebut.

🖊️ Laporan Jurnalis: Bgs/Team
✍️ Redaksi AswinNews.com – Tajam, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *