Rembang, Aswinnews.com – Pemantauan hilal untuk menentukan awal Ramadhan 1447 H / 2026 M digelar di Pantai Binangun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Selasa petang (17/02/2026).
Berdasarkan hasil pengamatan, hilal dinyatakan tidak terlihat karena posisinya masih berada di bawah ufuk dengan ketinggian kurang dari minus 1 derajat.
Proses Rukyatul Hilal
Kegiatan ini melibatkan:
- Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Kabupaten Rembang
- Perwakilan Kementerian Agama Republik Indonesia
- Unsur instansi terkait lainnya
Pemantauan diawali dengan doa bersama. Tim kemudian mulai membidik titik koordinat menggunakan teropong khusus pada pukul 17.58 WIB, bertepatan dengan waktu matahari terbenam.
Baca Juga DPW Partai Perindo Jabar Dorong Kegiatan Sosial, DPD Kota Sukabumi Gelar Baksoskes Dan Munggahan
Namun hingga batas waktu observasi, bulan sabit tipis tidak berhasil terlihat, baik melalui alat optik maupun mata telanjang.
Penjelasan Teknis
Ali Muhyidin dari BHR Kabupaten Rembang menjelaskan bahwa secara astronomis hilal memang sulit terlihat.
“Ketinggian hilal saat ini kurang dari minus 1 derajat. Angka minus ini merata di seluruh Indonesia, tidak hanya di Rembang. Jadi secara akal, hilal sangat sulit terlihat pada Selasa petang ini,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa berdasarkan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), hilal dinyatakan memenuhi syarat apabila:
Tinggi minimal: 3 derajat
Elongasi minimal: 6,4 derajat Karena masih berada di bawah ufuk, hilal belum memenuhi parameter tersebut.
Menunggu Sidang Isbat
Hasil pemantauan dari Pantai Binangun langsung dilaporkan ke Kanwil Kemenag Jawa Tengah untuk diteruskan ke pusat sebagai bahan Sidang Isbat.
Baca Juga KUA Salapian Tandatangani Nota Kerjasama Masjid Prioritas Kecamatan
Apabila seluruh titik pemantauan di Indonesia melaporkan hilal tidak terlihat, maka bulan Sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).
Dengan kondisi ini, awal puasa Ramadhan diprediksi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Perbedaan Metode dengan Muhammadiyah
Sementara itu, Muhammadiyah yang menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal (perhitungan astronomi) telah menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Perbedaan ini terjadi karena:
- Rukyatul hilal → berbasis pengamatan langsung
- Hisab wujudul hilal → berbasis perhitungan astronomi
Meski berbeda dalam metode, kedua pendekatan sama-sama memiliki dasar keilmuan dan tradisi yang kuat dalam penentuan kalender Hijriah di Indonesia.
Penulis Wibowo l Redaksi Aswinnews-Tajam Berimbang danTer-Upadate
![]()
