Aswinnews.com-Lima Februari bukanlah sekadar fragmen kronologis yang layak dirayakan melalui seremonial profan. Bagi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), tanggal ini adalah sebuah episteme perlawanan. Ketika Lafran Pane memahat fondasi organisasi ini di Yogyakarta pada 1947, ia tidak sedang mendirikan birokrasi pencari kerja, melainkan sebuah laboratorium insan cita—kawah candradimuka tempat teologi keislaman dan nasionalisme Indonesia berfusi dalam satu tarikan napas dialektis.
Namun, di usia ke-79 ini, pertanyaan mendasarnya adalah: di manakah “ruh” itu kini bersemayam? Apakah ia masih menjadi kompas moral gerakan, atau telah larut dalam hiruk-pikuk pragmatisme yang korosif?
Baca Juga Kasus DBHP Purwakarta Bergulir di KPKKPK Mulai Verifikasi Laporan Komunitas Madani Purwakarta
Jihad Literasi di Rimba Disrupsi
Kader HMI yang berkualitas insan cita sejatinya adalah mereka yang menjadikan buku sebagai khittah dan dialektika sebagai ritus intelektual. Di era disrupsi informasi, tantangan eksistensial HMI bukan lagi konfrontasi fisik, melainkan perang kognitif. Intelektualitas kader tidak boleh tereduksi menjadi retorika artifisial di media sosial atau narsisme digital yang dangkal.
Intelektualitas sejati adalah ketajaman nalar dalam membedah struktur ketidakadilan (structural injustice). Tanpa kedalaman epistemologis, kader hanya akan menjadi pengeras suara yang hampa—atau lebih tragis—menjadi instrumen legitimasi bagi narasi hegemonik yang dekaden. HMI harus kembali melahirkan intelektual organik yang mampu menjalankan problem-posing education: mempertanyakan realitas, bukan sekadar menjadi penikmat fasilitas.
Etika Profetik vs Oportunisme Pragmatis
Dalam diskursus HMI, politik sejatinya adalah high politics—manifestasi politik nilai yang berjangkar pada etika profetik. Kekuasaan dipandang sebagai instrumen pengabdian (teleologis), bukan tujuan akhir (instrumentalis). Namun realitas hari ini menghadirkan paradoks yang getir: jebakan oportunisme.
Kita kerap menyaksikan diskoneksi antara retorika dan aksi. Fasih berbicara tentang kedaulatan umat di podium, namun mengalami amnesia kerakyatan ketika berada di koridor kekuasaan. Inilah patologi oportunisme intelektual—kondisi ketika kecerdasan hanya dialokasikan untuk memburu rente kekuasaan, sementara fungsionalisme organisasi dikorbankan demi syahwat posisi. Politik yang seharusnya menjadi “sajadah panjang” perjuangan justru bergeser menjadi “pasar gelap” kepentingan.
Muhasabah Ontologis
Menuju delapan dekade eksistensinya, HMI membutuhkan rekonsiliasi idealisme. Menjadi kader hebat berarti memiliki keberanian eksistensial untuk melawan arus pragmatisme. Nilai-nilai Islam tidak boleh direduksi menjadi sekadar moral veneer, melainkan harus menjadi mesin penggerak dalam perumusan kebijakan publik yang berkeadilan.
Baca Juga Sertijab Dan Pelantikan Pengurus OSIS SMPN 3 Sindang Berlangsung Khidmat Dan Penuh Haru
Jika politik tanpa basis transendensi hanya melahirkan tirani, maka intelektualitas tanpa integritas akan berujung pada penipuan terstruktur. Di usia ke-79 ini, HMI mesti melakukan muhasabah ontologis: berhenti menjadi konsumen sejarah dan kembali menegaskan diri sebagai produsen peradaban.
Jangan biarkan identitas Hijau-Hitam mengalami peluluhan makna akibat ambisi pribadi yang gelap atau idealisme yang layu sebelum berkembang. Selamat Milad ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam. Mari kita pulangkan kembali “ruh” itu ke tubuh organisasi melalui purifikasi gerakan dan penguatan nalar kritis.
*Penulis adalah alumnus/kader HMI, berdomisili di Kutaraja, Aceh.
![]()
