Manajemen Modern, Kepekaan Sosial, dan Keadilan Kesejahteraan**
Hasil Pemilihan Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) periode 2026–2031 yang menetapkan Prof. Dr. Mirza Tabrani, MBA sebagai rektor terpilih (2 Februari 2026) bukan sekadar pergantian nakhoda. Momentum ini menandai harapan baru untuk menyelaraskan keunggulan manajerial dengan tanggung jawab sosial kampus, baik secara eksternal terhadap masyarakat Aceh maupun secara internal terhadap seluruh sivitas akademika.
Visi MBA untuk PTN-BH yang Adaptif
Latar belakang manajerial Prof. Mirza merupakan modal penting bagi USK sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). Namun, kepiawaian mengelola institusi tidak boleh berhenti pada capaian angka dan pertumbuhan aset semata. Harapan publik kampus tertuju pada kemampuan kepemimpinan baru ini untuk memangkas sekat-sekat birokrasi, meningkatkan efisiensi, serta memastikan bahwa manfaat kinerja institusional dirasakan secara merata—bukan hanya oleh segelintir elite kampus.
Kesejahteraan Berkeadilan, Melampaui Sekat Jabatan
Salah satu agenda krusial yang patut menjadi prioritas adalah reformasi kesejahteraan sivitas akademika. Kepemimpinan baru diharapkan mampu mengakhiri paradigma lama yang cenderung mengistimewakan pemegang “tugas tambahan” atau jabatan struktural semata.
USK yang gemilang adalah USK yang menghargai seluruh elemen penggeraknya.
Dosen Nonstruktural
Mereka yang berada di garda terdepan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat harus memperoleh hak kesejahteraan—baik remunerasi maupun insentif—yang layak dan proporsional. Beban kerja akademik yang tinggi tidak seharusnya berbanding terbalik dengan penghargaan finansial.
Tenaga Kependidikan (Tendik)
Sebagai tulang punggung administrasi dan operasional kampus, tenaga kependidikan berhak atas skema kesejahteraan yang adil dan manusiawi. Kesejahteraan dalam kerangka PTN-BH tidak boleh menyerupai “puncak piramida”, di mana manfaat terbesar hanya dinikmati oleh mereka yang berada di lapisan atas struktur organisasi.
Transparansi dan Merit System
Manajemen modern menuntut transparansi. Prof. Mirza diharapkan mampu menghadirkan sistem pembagian insentif yang terbuka, berbasis kinerja, dan terukur melalui merit system yang objektif. Transparansi semacam ini bukan hanya soal tata kelola keuangan, tetapi juga instrumen penting untuk meminimalkan kecemburuan sosial dan memperkuat kepercayaan internal di lingkungan kampus.
Komunikasi Politik dan Respons Sosial
Sebagai kampus yang kerap disebut sebagai “jantung hati rakyat Aceh”, USK tidak boleh menjelma menjadi menara gading. Rektor baru memikul tanggung jawab strategis untuk memastikan USK hadir sebagai mitra intelektual Pemerintah Aceh, khususnya dalam merespons persoalan-persoalan publik yang mendesak, seperti bencana banjir yang berulang di berbagai wilayah.
Kepemimpinan baru diharapkan mampu menggerakkan potensi riset lintas disiplin untuk melahirkan solusi jangka panjang, sekaligus membuktikan bahwa USK hadir bersama masyarakat pada saat mereka paling membutuhkan.
Menuju Episentrum Solusi
Kita patut mengapresiasi fondasi yang telah dibangun oleh Prof. Dr. Marwan dan Prof. Dr. Agussabti. Kini, tugas kolektif sivitas akademika adalah mendukung Prof. Mirza Tabrani untuk membawa USK menjadi episentrum solusi—berwibawa secara akademik, berempati secara sosial ke luar, dan berkeadilan secara internal ke dalam.
Selamat bertugas, Prof. Mirza. Kami di Sekolah Pascasarjana USK dan Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh siap bersinergi untuk mewujudkan USK yang lebih gemilang, lebih adil, dan berdampak nyata bagi sivitas akademika serta masyarakat Aceh.
Meutuah USK, Meutuah Aceh
Pojok Kampus USK, 2 Februari 2026
![]()
