Penulis Wibowo l Redaksi Aswinnews-Tajam Berimbang danTer-Upadate
Rembang, Aswinnews.com– Dua pengamen perempuan kakak beradik terlihat rutin bernyanyi di sejumlah kawasan perkotaan Kabupaten Rembang. Mereka adalah Tina (24) dan adiknya, Yusni (18), warga Desa Sumberjo, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang.
Setiap hari, keduanya mengamen sejak pukul 09.00 WIB hingga 15.00 WIB dengan berkeliling dari satu titik ke titik lainnya, baik di kawasan pedesaan maupun kafe-kafe. Tak hanya siang hari, pada malam hari mereka kembali turun ke jalan mulai pukul 23.00 WIB hingga 01.00 WIB dini hari demi mencukupi kebutuhan hidup.
Tina mengaku terpaksa mengamen untuk menghidupi kedua anaknya. Keterbatasan ekonomi membuat aktivitas bernyanyi di jalan menjadi satu-satunya pilihan untuk bertahan hidup. Sebelumnya, Tina pernah terlibat dalam kegiatan seni tradisional ketoprak, yang menjadi bekal kemampuannya bernyanyi dan tampil di hadapan umum.
Baca Juga Agus Sutomo: HPN Bukan Milik Satu Organisasi, Tetapi Milik Seluruh Insan Pers Indonesia
“Pendapatan tidak menentu. Kalau ramai bisa sekitar Rp150 ribu per hari, kalau sepi paling sedikit Rp100 ribu,” ujar Tina kepada awak media, Sabtu dini hari, 31 Januari 2026, di Desa Ketanggi, Kecamatan Rembang.
Dengan peralatan seadanya, Tina dan Yusni membawakan lagu-lagu populer untuk menarik simpati para pengunjung tempat tongkrongan. Meski harus menghadapi panas, kelelahan, serta risiko keselamatan di jalan, keduanya tetap bertahan demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Sementara itu, pengamat budaya Rembang, Agus Sutomo, mengaku prihatin melihat potensi seni yang dimiliki Tina dan Yusni hanya tersalurkan melalui aktivitas mengamen. Menurutnya, pemerintah daerah seharusnya lebih proaktif dalam menjaring dan membina potensi seni yang ada di masyarakat.
Baca Juga Pengurus Masjid Darul Ikhlas Rutin Gelar Program Donor Darah
“Sudah waktunya pemerintah daerah dan pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga serius memikirkan seni dan kebudayaan. Banyak seniman di Rembang hidup susah, ini perlu tindakan nyata dari pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat,” jelas Agus.
Ia menilai banyak seni tradisional di Kabupaten Rembang yang kini mati suri. Menurutnya, masyarakat mulai kehilangan jati diri budaya karena lebih menyukai musik dangdut dan musik barat, sementara kearifan lokal semakin ditinggalkan.
“Sekarang orang menikah tidak ada rohnya. Gending Kebo Giro saja sudah tidak pernah diputar. Pesta pernikahan memakai standing party, itu budaya peninggalan Belanda, bukan kearifan lokal bangsa Indonesia,” tegasnya.
Baca Juga Garda NTB M. Kholik Santuni Anak Yatim Di Desa Pengenjek
Agus berharap pemerintah daerah dapat mengumpulkan komunitas seni yang ada di Kabupaten Rembang untuk menggelar kegiatan seperti lomba menyanyi atau festival seni tradisional. Menurutnya, potensi campursari dan seni Jawa masih sangat kuat jika diberi ruang.
“Kita harus bangga menjadi orang Jawa. Suara mereka bagus, punya dasar campursari. Tapi sekarang kita ini wis lali Jawane,” pungkasnya.
Redaksi Aswinnews.com
![]()
